Assalamualaikum
Wr Wb
Bissmillahirrohmaanirrohiim
Allah
SWT mensifati umat Islam dalam Al-Qur'an sebagai umat yang terbaik karena
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. (Al-Imran [3] ayat
110)
yang artinya :
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Kebaikan
Umat Islam ini diperkuat oleh Rasulullah saw.dalam haditsnya yang diriwayatkan
oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang ayat 110 surat Ali Imran:
"Kamu
melengkapi tujuh puluh umat, kamulah yang paling baik dan paling
mulia di sisi Allah."
Kalau kita perhatikan susunan ayat di atas kita dapatkan bahwa penyebutan amar
ma'ruf dan nahy munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang
munkar) didahulukan dari pada penyebutan iman kepada Allah, padahal iman kepada
Allah merupakan derajat tertinggi dan lebih dahulu keberadaannya, bahkan amar
ma'ruf dan nahy munkar merupakan konsekwensi iman kepada Allah.
Ini
menunjukkan bahwa betapa pentingnya amar ma'ruf dan nahy munkar, dan umat yang
melakukannya adalah umat yang terbaik, karena umat itu telah mencurahkan segala
potensi dan kemampuannya untuk mewujudkan kebaikan dan mencegah timbulnya
kejahatan bagi umat manusia.
Karena
pentingnya amar ma'ruf dan nahy munkar, Allah SWT memerintahkan umat
Islam untuk melakukannya. Firman Allah SWT dalam surat (Al-Imran [3] ayat 104)
yang artinya :
"Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung."
Sebagai perintah Allah, sudah barang tentu jika dilaksanakan akan menyebabkan
lahirnya berbagai macam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, sebaliknya
jika perintah ditinggalkan dan diabaikan akan menyebabkan timbulnya keburukan
baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam
tulisan ini akan diuraikan secara singkat akibat-akibat yang akan timbul
jika amar ma'ruf dan nahy munkar ditinggalkan dan diabaikan, agar dalam diri
kita timbul rasa takut kalau kita mengabaikan dan menyia-nyiakannya, yang pada
akhirnya kita terdorong untuk melakukannya.
Pengertian Amar
Ma'ruf Dan Nahy Munkar
Untuk menghindari perbedaan penafsiran tentang amar ma'ruf dan nahy munkar,
terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian amar ma'ruf dan nahy munkar.
1. Pengertian amar ma'ruf
Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah 'Ala
al-Thariq bahwa
al-ma'ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik
perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin.
Jadi
al-ma'ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikat Nya, kitab Nya,
Rasul Nya, hari akhir dan qadar (takdir).
Juga
mencakup ibadah, yaitu shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq,
menyusui anak, pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.
Mencakup
juga hukum danperundang-undangan seperti mu'amalah maliyyah (transaksi harta),
hudud (hukuman-hukuman), qishash, transaksi-transaksi, perjanjian-perjanjian
dan semacamnya. Mencakup juga akhlaq, seperti shidiq (jujur), 'adil, amanah,
'iffah
(menjaga diri dari yang haram), setia janji dan semacamnya.
Semuanya itu dikatakan ma'ruf ( yang menurut bahasa berarti dikenal) karena
fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya.
Jadi pengertian amar ma'ruf ( menyuruh kepada yang ma'ruf ) adalah mengajak
dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan
sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilarnya serta
menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.
2. Pengertian nahy munkar
Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang dibenci dan tidak
diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.
Jadi
munkar (kemungkaran) mencakup :
kemusyrikan dengan
segala bentuknya, mencakup segala
penyakit hati seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri),permusuhan,
kebencian dan
semacamnya. Mencakup juga
penyia-nyiaan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya.
Mencakup juga
perbuatan-perbuatan keji seperti zina,mencuri, minum khamar
(minuman keras), menuduh berzina, merampok, berbuat aniaya dan
semacamnya.
·
Juga mencakup
dusta,
·
zalim,
·
khiyanat,
·
perbuatan hina,
·
pengecut
dansemacamnya.
Kemungkaran
dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengingkari dan
menyaksikan kejahatan, kerusakan dan bahaya yang ditimbulkannya.
Jadi pengertian nahy munkar (mencegah dari yang munkar) adalah memperingatkan,
menjauhkan dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-sebab dan
sarana-sarananya
dalam bentuk membasminya sampai ke akar-akarnya serta membersihkan kehidupan
dari segala bentuk kemungkaran.
Akibat Mengabaikan Perintah Amar Ma'ruf
Dan Nahy Munkar
Sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan karena pentingnya amar
ma'ruf dan nahy munkar, Allah memerintahkan umat Islam untuk melakukan amar
ma'ruf dan nahy munkar. Ketika kewajiban itu diabaikan dan tidak dilaksanakan,
maka pasti orang-orang yang mengabaikan dan tidak melaksanakannya akan mendapat
dosa. Tidak ada satu umatpun yang mengabaikan perintah amar ma'ruf dan nahy
munkar
kecuali Allah menimpakan berbagai hukuman kepada umat itu.
Berikut ini akan disebutkan sebagiannya sebagaimana disebutkan oleh Dr.Muhammad
Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya Al-Amru Bil-Ma'ruf Wan-Nahyu'Anil-Munkar
dan Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah.
1. Azab yang menyeluruh
Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah masyarakat , sedangkan
orang-orang yang shalih tidak berusaaha mengingkari dan membendung kerusakan
tersebut, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh
baik orang-orang yang jahat maupun orang-orang yang shalih. Firman Allah:
“Dan
peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu.Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”
(QS.Al-Anfal
[8] ayat 25).
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari Zainab
binti Jahsy bahwa ia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa
padahal
di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih?
Rasulullah saw. menjawab: "Ya, apabila kemaksitan telah merajalela."
Abu Bakar r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya
jika orang-orang melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegahnya, maka
hampir saja menimpakan siksa secara menyeluruh kepada mereka.(HR. Tirmidzi).
2. Tidak dikabulkannya do'a orang-orang yang shalih
Apabila suatu masyarakat mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar serta tidak
mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya, maka Allah akan menimpakan
siksa kepada mereka dengan tidak mengabulkan do'a mereka.
Sabda Rasulullah saw.:
Demi
dzat yang diriku ada di tangan-Nya hendaknya kamu menyuruh kepada yang
ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Allah akan menimpakan siksa kepadamu
kemudian kamu berdo'a kepada-Nya lalu tidak dikabulkan. ( HR. Tirmidzi).
3. Berhak mendapatkan laknat
Di antara hukuman orang yang mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar adalah
berhak mendapatkan laknat, yakni terusir dari rahmat Allah sebagaimana yang
telah menimpa Bani Israil ketika mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar.
Abu Daud meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin
Mas'ud ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: "Pertama kerusakan yang terjadi pada Bani Israil,
yaitu seseorang jika bertemu kawannya sedang berbuat kejahatan ditegur: wahai
fulan, bertaqwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan,
karena
perbuatan itu tidak halal bagimu, kemudian pada esok harinya bertemu lagi
sedang
berbuat itu juga, tetapi ia tidak menegurnya, bahkan ia telah menjadi teman
makan minum dan duduk-duduknya. Maka ketika demikian keadaan mereka, Allah
menutup hati masing-masing, sebagaimana firman Allah:
"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan
Isa putra Maryam. sampai firman Allah (tapi kebanyakan mereka adlah orang-orang
yang fasik). Kemudian Nabi bersabda: "Tidak, sekali-kali jangan seperti
mereka. Demi Allah, kamu harus menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang
munkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, kamu harus mengembalikannya ke
jalan hak, dan kamu batasi di dalam hak itu. Atau kalau tidak, Allah akan
menutup
hatimu, kemudian melaknat kamu sebagaimana melaknat mereka."
4. Timbulnya perpecahan
Sudah merupakan aksiomatis bahwa kemungkaran yang paling berat dan dan paling
keji dapat menjauhkan syari'at Allah dari realitas kehidupan dan
ditinggalkannya hukum-hukum Nya dalam kehidupan manusia.
Apabila
hal ini terjadi dan orang-orang diam, tidak mengingkari dan tidak mencegahnya,
maka Allah akan menanamkan perpecahan dan
permusuhan di kalangan mereka sehingga mereka saling melakukan pembunuhan dan
menumpahkan darah. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw kepada umatnya dan
beliau mohon perlindungan Allah agar umatnya tidak menemukan hal itu.
Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin
Umar r.a. bahwa ia bekata: Rasulullah saw. datang kepada kami dengan mengatakan:
Wahai golongan Muhajirin, Ada lima hal apabila kalian melakukannya , pasti
kalian
akan ditimpa berbagai macam azab, saya berlindung kepada Allah supaya kalian
tidak menemukannya. Tidaklah pemimpin-pemimpin kalian tidak berhukum dengan
Al-Qur'an dan memilih hukum selain hukum Allah, kecuali Allah menanamkan
perpecahan di antara kalian."
5. Pemusnahan mental
Sebagai kehormatan kepada Nabi Muhammad saw, Allah tidak memusnahkan umat
beliau secara fisik sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu seperti
kaum Nabi Hud, Shalih, Nuh, Luth dan Syu'aib yang telah mendustakan para Nabi
dan mendurhakai perintah Allah. Tetapi bisa saja Allah membinasakan umat
Muhammad SAW secara mental.
Maksudnya umat ini tidak dimusnahkan fisiknya, tetap dalam keadaan hidup,
sekalipun melakukan dosa dan maksiat yang menyebabkan kehancuran dan
kebinasaan, namun walaupun jumlahnya banyak, kekayaannya melimpah ruah, di sisi
Allah tidak ada nilainya sama sekali, musuh-musuhnya tidak merasa takut, serta
kawan-kawannya tidak merasa hormat. Inilah yang diberitakan Rasulullah saw.
ketika umat ini takut mengatakan yang hak dan tidak mencegah orang yang berbuat
zalim dari kezalimannya.
Beliau bersabda: "Apabila kamu melihat umatku tidak mau mengatakan kepada
orang yang berbuat zalim di antara mereka: "Kamulah orang yang berbuat
zalim," maka mereka dibiarkan dalam kemaksiatan yang mereka lakukan dalam
keadaan hina." (HR. Ahmad)
Penutup
Demikianlah di antara hukuman Allah akibat diabaikannya amar ma'ruf dan nahy
munkar. Cukuplah lima
hukuman yang disebutkan di atas menumbuhkan rasa
takut bagi seorang mukmin untuk tidak mengabaikan perintah amar ma'ruf dan nahy
munkar, sekaligus mendorongnya untuk melakukan perintah tersebut.
Oleh:
Asnin Syafiuddin
http://www.aldakwah.org/mutiara/index.php?/archives/6-Bila-Amar-Maruf-Nahi-Munkar-Diabaikan.html
[Non-text portions of this message have been removed]