Artikel: Mengapa Kemampuan Belajar Kita Menurun Drastis?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Salah satu kemunduran yang kita alami seiring dengan bertambahnya umur adalah;
berkurangnya kemampuan kita dalam belajar. Kalau kita berusaha untuk menghafal
sesuatu misalnya, hafalan kita hanya bertahan beberapa jam saja. Atau, paling
lama dalam hitungan hari. Setelah itu, kita lupa lagi, seolah tidak pernah
melewati proses menghafal tadi. Selama ini kita percaya bahwa menurunnya
kemampuan kita dalam belajar ada kaitannya dengan penurunan kemampuan otak
kita. Oleh karena itu, orang-orang dewasa seperti kita selalu mempunyai cukup
alasan untuk diberi belas kasihan. Jadi, ”harap dimaklumi saja jika orang
dewasa seperti kami ini agak ’telmi’”. Tetapi, apakah penurunan kemampuan kita
dalam menyerap ilmu itu benar-benar disebabkan oleh penurunan kemampuan otak,
ataukah karena kurangnya antusiasme kita dalam belajar?
Baru-baru ini, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam sebuah forum
yang berkaitan dengan acara familiy gathering sebuah perusahaan. Tidak banyak
waktu yang disediakan bagi saya. Hanya 45 menit saja. Namun, meski sangat
singkat; sesi itu sangat spesial bagi saya. Sebab, audience yang hadir disana
terdiri dari anak-anak, remaja hingga pimpinan puncak perusahaan. Berbicara
diforum orang dewasa memang merupakan pekerjaan saya. Bagaimana dengan
anak-anak? Itu juga bukan masalah, karena semasa kuliah dulu, saya ikut
mengabdikan diri untuk menjadi mentor bagi anak-anak TK, SD, dan SMP di
PAS-ITB. Not, that hard to deal with, actually. Tetapi...., masalahnya adalah;
sekarang kedua tipe audience itu digabungkan dalam satu forum dimana saya harus
menyampaikan pesan penting bagi semua. That’s quite a challenge.
Saya tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa anak-anak dalam forum yang
saya fasilitasi itu begitu antusias dan cerdas. Mereka mengerumuni saya, serta
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan dengan penuh semangat. Dan
cara mereka menjawab; bukan main, seolah mereka menggunakan semua energi yang
dimilikinya. Mereka mengangkat tangan, melompat, dan berteriak. Tidak heran
kalau pada usia seperti mereka, manusia bisa mencapai tingkat efisiensi proses
belajar yang paling tinggi.
Sesaat setelah menyelesaikan sesi itu, saya kembali merenungkan satu hal,
yaitu; betapa mengagumkannya semangat belajar anak-anak dalam forum itu. Dan
menengok kembali kebelakang ketika saya masih menjadi pembina PAS-ITB dulu,
saya kira; memang demikianlah adanya anak-anak. Mereka memiliki semangat
belajar yang teramat sangat tinggi. Sampai-sampai, mereka membuntuti kemanapun
saya pergi selama sesi itu.
Sampai disini, saya kembali tersadarkan, bahwa; kita para lelaki dan perempuan
dewasa telah kehilangan antusiasme dalam belajar. Padahal, dahulu kala kita
adalah little boys dan little girls yang pernah memiliki antusiasme itu. Dulu,
kita seperti anak-anak kecil itu; dimana ketika kepada kita disampaikan sebuah
pesan berisi pelajaran berharga dan nilai-nilai luhur; kita begitu
bersemangatnya untuk menyerap seluruh ilmu itu. Dulu, kita seperti anak-anak
kecil itu; dimana ketika kepada kita diajukan sebuah tantangan untuk melakukan
sesuatu kita saling berebut untuk mengajukan diri, sambil mengangkat tangan dan
terteriak; ”Saya Pak Guru! Saya Pak Guru!” seolah kita tengah berlomba dengan
teman-teman agar dipilih sang guru untuk melakukan tugas didepan kelas. Dulu,
kita seperti anak-anak kecil itu; dimana ketika kita tidak mengerti tentang
sesuatu kita segera mengangkat tangan dan bertanya; ”Bu Guru, itu maksudnya
apa?” tanpa khawatir ditertawakan
oleh teman-teman sekelas.
Sekarang, kita sudah tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana kita sering
kehilangan gairah untuk menerima masukan yang berisi pelajaran-pelajaran
berharga. Sekarang, kita sudah tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana
ketika kita ditantang untuk melakukan sesuatu kita bersembunyi sambil
menunjuk-nunjuk teman kita; ”kamu saja, kamu saja...” Sekarang, kita sudah
tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana ketika kita tidak mengerti
sesuatu kita memendamnya dalam hati seolah terbebani oleh stigma orang lain,
bahwa; ”Jika bertanya, maka kita menunjukkan betapa bodohnya kita”. Padahal,
kita tahu bahwa kebodohan itu sangat memalukan. Jadi, kita memilih untuk
berpura-pura tahu; daripada menanggung resiko dikira bodoh.
Oleh karena itu, tidak heran jika semakin tua; semakin berkurang kemampuan kita
dalam belajar dan mengambil hikmah. Padahal, hikmah dan pelajaran itu
berserakan disekitar kita. Namun kita sudah kehilangan kemampuan untuk
menerimanya. Mencernanya. Dan meresapinya. Tiba-tiba saja; saya merindukan
masa-masa ketika saya masih kecil dulu. Masa dimana saya begitu bersemangatnya.
Untuk. Mempelajari. Segala sesuatu.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Berkurangnya kemampuan kita dalam belajar dan menyerap ilmu tidak disebabkan
oleh menurunnya kemampuan otak kita; melainkan oleh memburuknya sikap mental
kita, ketika menjalani proses belajar itu.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]