Artikel: Dimana Anda Memperingati Kemerdekaan RI Kali Ini? 
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Dimana Anda memperingati kemerdekaan RI kali ini? Dilapangan upacara, atau 
didepan pesawat televisi? Sungguh, saya merindukan semangat semasa kecil dulu; 
ketika saya begitu antusiasnya menyambut peringatan kemerdekaan RI. Ketika 
bendera-bendera kecil berkibaran dimana-mana. Ketika penduduk dari berbagai 
kampung berangkat bersama-sama menuju lapangan luas di alun-alun kecamatan 
untuk bersama-sama melakukan upacara bendera, dan menyanyikan lagu-lagu 
kebangsaan. Ketika bunyi kedepruk sepatu pasukan pengibar bendera 
menghentak-hentak lantai semen. Ketika semuanya memberi warna tersendiri kepada 
rasa terimakasih kita atas pengorbanan para pejuang kemerdekaan. Apakah Anda 
merasakan semangat yang sama?
 
Entah bagaimana dengan Anda, tapi semakin hari, saya merasakan bahwa semangat 
itu semakin memudar saja. Dihari gini, ’mengikuti upacara’ didepan pesawat 
televisi seolah sudah menjadi budaya baru cara kita mengenang kepahlawanan. 
Bahkan, mungkin semangat itu sudah sedemikian hambarnya sehingga Tanggal 17 
Agustus tidak lebih dari sekedar sebuah tanggal merah belaka. Jadi, tidak heran 
jika kita menjadi mata rantai yang terputus dari sebuah proses pewarisan 
sejarah dan semangat itu dari generasi ke generasi. Betapa tidak? Kita tidak 
memberi kesempatan anak dan cucu kita untuk mencicipi sedikit dari semangat 
itu. Dan kita membiarkan mereka ’mengalami’ semangat itu hanya dengan 
membacanya dari buku-buku disekolah.
 
Tahun ini pengurus RW dan RT dilingkungan kami bersepakat untuk mengembalikan 
semangat itu lagi. Berkoordinasi dengan Kelurahan dan RW-RW lain melakukan 
peringatan kemerdekaan itu secara bersama-sama. Bukan melalui pesawat televisi 
sambil menyaksikan upacara dari istana merdeka. Melainkan melakukannya secara 
’live’ dengan menggabungkan seluruh unsur masyarakat dan aparat pemerintahan. 
Kami bertekad bahwa mulai tahun ini; setiap peringatan 17 Agustus akan 
dilakukan secara bersama-sama, secara bergiliran. Dan sebagai penghargaan dari 
Pak Lurah, beliau memberikan kesempatan kepada RW kami untuk menjadi tuan Rumah 
Upacara bersama untuk pertama kalinya ini.
 
Maka, jadilah 17 Agustus tahun ini istimewa. Menghadirinya membuat saya kembali 
kepada masa-masa kecil dulu. Lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta 
kembali mengalun. Teks Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 kembali 
dibacakan. Dan naskah proklamasi kembali dikumandangkan. Serta merta saja, bulu 
kuduk saya merinding. Seolah semangat kepahlawanan berhembus lembut terbawa 
angin menerpa hati kami yang sudah lama gersang. 
 
Untuk sejenak, kami merasakan kembali makna kemerdekaan ini. Kemerdekaan yang 
didapat dengan banyak pengorbanan, dan jiwa kepahlawanan. Seolah-olah, kami 
diingatkan kembali bahwa merdeka, juga berarti membebaskan diri dari belenggu 
ketidakpedulian. Terutama, ketidakpedulian bahwa bangsa ini sesungguhnya sudah 
merdeka. Namun, karena kita tidak perduli, kita tidak benar-benar merasakan 
maknanya. Makna, bahwa kita ini sudah merdeka. Merdeka!
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Merdeka, juga berarti membebaskan diri dari belenggu ketidakpedulian.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke