Namanya Agus Supriadi. Saya berkenalan dengannya, atas jasa seorang sahabat 
yang cukup sering membantu saya, mas Bambang. Agus datang bersamanya di acara 
launching buku Oom Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Goblok! Di toko buku Gramedia.
Saya sering dikenalkan dengan relasi mas Bambang. Tapi perkenalan saat itu 
sungguh berbeda. Agus, adalah penderita down syndrome.
Agak sulit berinteraksi dengan Agus. Bicaranya gagap dan sulit dimengerti. 
Pendengarannya dibantu dengan hearing aid. Kemampuan berpikirnya juga rada-rada 
telat. Cuma jangan main-main dengan hitung-hitungan uang. Dia bisa membedakan 
jenis uang, dari pecahan seribu sampai seratus ribu. Dia bisa berhitung dengan 
baik. Urusan tawar-menawar harga dan uang kembalian, nyaris nggak salah.
Agus memang luar biasa. Dia bukan tipe manusia yang puas dengan menjadi benalu. 
Sejak keluar dari Sekolah Luar Biasa selevel SMA kelas 1, ia tidak betah diam. 
Dengan sedikit uang, ia memulai usahanya sendiri. Ia tidak ingin membebani 
kehidupan keluarganya, yang hidup dari gaji seorang ayah yang bekerja sebagai 
pemadam kebakaran. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, ia mencoba 
berdagang.
Kini, profesi Agus sehari-hari adalah pedagang. Ia menjual buku-buku bertema 
agama Islam. Terkadang ia juga menjual peci dan juga minyak wangi yang dikemas 
dalam botol kecil. Sekarang, ia menggelar dagangannya di emperan masjid Elnusa. 
Sebelumnya, ia berkelana dari mesjid ke mesjid. Tak terhitung berapa kali ia 
dilarang berjualan oleh pengurus mesjid di mana ia menggelar dagangannya. 
Sekarang, ia bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp. 50.000 per hari.
Agus memang bukan orang yang mudah menyerah. Rasa percaya dirinya besar sekali. 
Inisiatifnya, sangat tinggi bahkan dibandingkan dengan orang normal. Sekali 
waktu, saya memintanya untuk membantu menjaga dan menjualkan buku saya di 
kantor Telkom Divre II Gatot Subroto. Untuk memudahkannya masuk, saya berjanji 
untuk menunggunya di lobby gedung. Sampai waktu yang sudah dijanjikan, ia belum 
muncul. Saya khawatir, ia tidak bisa masuk ke tempat acara.
Pagi itu, ia memang datang terlambat. Vespa bututnya rusak dan perlu diperbaiki 
dulu. Ketika itu, saya sudah ada di podium untuk mengisi acara. Dua dus buku 
langsung ditatanya di sebuah meja. Ia sudah siap jualan. Dan di akhir acara, 
buku `Monyet Aja Bisa cari Duit!' dagangannya laris manis. Sejak itu, buku 
`Monyet' jadi mata dagangan baru baginya. Sejak itu pula, Agus adalah bagian 
dari tim, ketika saya harus `ngamen' di beberapa tempat.
Lama saya tidak berjumpa Agus. Sampai suatu saat saya menerima SMS dari mas 
Bambang. Ketika itu, saya baru pulang dari Hong Kong. Isinya beda dari biasa. 
Itu SMS titipan dari Agus. "Bang Jay. Agus punya tabungan dua juta. Kalau 
boleh, Agus mau ikut bang Jay ke Hong Kong bulan depan. Kata pak Bambang, 
banyak peluang bisnis yang bisa digarap."
Subhaanallah. Insya Allah Gus. Kita berangkat bersama ke Hong Kong bulan depan. 
Insya Allah ada peluang bisnis buat Agus garap …
(Ketika tulisan ini saya posting, Agus sudah ada di Hongkong, untuk suatu acara 
pelatihan dengan audiens para TKI yang bekerja di Hongkong)

Rabu, Juli 2009 22:06
penulis : 
Zainal Abidin PHD(Permanent Head Damage)

Kirim email ke