Mas Iwan, tulisan ini murni opini anda atau anda mengutip? Kalu anda mengutip 
tolong sebutkan sumbernya dari mana tulisan (penuh fitnah) ini.
 
Terima kasih
 
 
 
 
 
 
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of iwan setiawan
Sent: Friday, September 04, 2009 1:36 AM
To: [email protected]
Subject: TaManBinTaNG >>> Noordin M. Top Dan Negara Islam Indonesia Komandemen 
Wilayah Sembilan Al-Zaytun Ja-Bar
 
  
Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia 
(DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap 
pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. 
Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari 
lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir 
alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur 
yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah 
murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar 
Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah 
organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam 
atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.

ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat 
gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII 
(Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang 
Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).

Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar 
Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai 
terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu 
hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.

Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan, 
seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra 
SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah, 
muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII, 
Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu 
Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan 
dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran) 
pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.

Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain, 
seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik. 
Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS, 
Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi 
teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai 
mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera 
Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka 
yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu 
Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat 
gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.

Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat 
keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir 
dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara 
Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar 
dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah 
Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri 
gerakan Wahabi.

Kecenderungan Wahabiyah yang dikembangkan Sungkar ini memang agak lari dari 
asal-usul DI itu sendiri, yang justru sama sekali tidak mengarah pada semangat 
Wahabi.

Pertengahan dekade 1980-an, ketika Borobudur jadi sasaran bom, militer semakin 
represif, Abdullah Sungkar dan Baasyir pun lari ke Johor, untuk kemudian ke 
Selangor. Nah, setelah beberapa tahun berdakwah di Malaysia, duo kiyai pentolan 
dari Ngruki ini kemudian mendirikan Jemaah Islamiyah (JI).. Sebelumnya, 
beberapa kader DII atau NII telah lebih dulu bermukim di Malaysia. Salah 
satunya, Abdussalam Rasyidi, yang kini lebih dikenal sebagai Syaykh A.S. Panji 
Gumilang, pimpinan NII faksi Al-Zaytun–pengelola Universitas Al-Zaytun dan 
Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Konon, menurut desas-desus di kelompok DI Zaytun 
ini, Abdussalam punya andil dalam pelarian Sungkar dan Baasyir. Memang, 
Abdussalam kemudian lebih banyak bermukim di Sabah (Malaysia Timur), sedangkan 
duo Ngruki kemudian bermukim di Negeri Sembilan (Malaysia Barat).

Di Malaysia, dakwah Sungkar dan Baasyir berjalan mulus. Mereka mulai melakukan 
perekrutan anggota DI. Beberapa nama yang berhasil berbaiat di hadapan Sungkar 
dan Baasyir yakni: Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera. Di Malaysia, 
Sungkar bertemu dengan Syaykh Rasul Sayyaf, salah seorang pimpinan Mujahidin 
Afganistan. Dalam pertemuan itu tercapai kesepakatan kerjasama antara kelompok 
Syaikh Rasul Sayyaf dengan DI pimpinan Sungkar dalam bentuk pelatihan militer 
di Afganistan bagi para kader DI. Beberapa kader pun dikirim ke Afghan, 
termasuk Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.

Sayang, hubungan Sungkar-Baasyir dan tokoh-tokoh DI di tanah air merenggang. 
Itu karena duet Sungkar-Baasyir dianggap lalai berkoordinasi dengan Amir NII di 
tanah air, termasuk dalam pengiriman para kader DI ke Afghan.

Singkat cerita, Sungkar-Baasyir mendirikan Jamaah Islamiyah (JI). Keputusan itu 
sungguh masuk akal karena nama JI jauh lebih universal ketimbang NII, yang 
sangat Indonesia sentris. Langkah semacam ini juga diikuti oleh NII faksi 
Al-Zaytun yang memodifikasi sebutan NII di Malaysia menjadi DIN (Daulah 
Islamiyah Nusantara).

Johor Baru adalah salah satu basis JI pimpinan duet Sungkar-Baasyir. almarhum 
Dr. Azhari dan Noordin M. Top adalah murid-murid Sungkar-Baasyir. Dari beberapa 
informasi kalangan dalam, keduanya sudah bergabung dan berbaiat sejak gerakan 
Sungkar-Baasyir masih bernama DI/TII atau NII.

Melompat jauh ke depan, pada 1998, Noordin menjadi Kepala Sekolah Madrasah 
Luqmanul Hakiem, salah satu madrasah di Johor Baru yang dibidani kelahirannya 
oleh Abu Bakar Baasyir, yang menjadi pimpinan tertinggi JI menggantikan 
Abdullah Sungkar yang sudah mangkat. Ketika, pemerintah Malaysia mulai 
mengendus aroma tak sedap kelompok pimpinan Baasyir itu, seluruh pesantren yang 
dicurigai memiliki hubungan dengan Baasyir pun ditutup. Ketika itu, mereka 
disebut sebagai KMM alias Kelompok Militan Malaysia. Baasyir cs, termasuk 
Noordin M. Top, pun pindah ke Indonesia–kembali ke asal pergerakan JI bermula 
ketika dahulu masih bernama DI/TII. Dalam pelariannya itu, Noordin memboyong 
istri dan ketiga anaknya ke kampung isterinya di Desa Pendekar Bahar, Bangko, 
Rokan Hilir, Riau. Letak Rokan Hilir memang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Seperti sumbu ketemu tutup, di Indonesia para aktivis JI itu kembali bersinergi 
dengan para aktivis DI, yang sejatinya merupakan kakak tua secara ideologis. 
Menurut beberapa mantan aktivis JI di Jawa Tengah, pola tilawah (aktivitas 
perekrutan) JI 90% serupa dengan pola tilawah di DI. Di antara 10% yang berbeda 
adalah doktrin JI sudah diwarnai dengan semangat Wahabi. Berbeda dengan doktrin 
DI yang jelas-jelas tidak mengidentifikasi diri sebagai Wahabi. Hal ini menjadi 
penjelasan logis, mengapa para istri aktivis JI memakai cadar. Tak seperti 
aktivis DI yang tidak menganjurkan cadar bagi jamaah perempuan DI.

Sementara itu, ketika sang guru (Baasyir) mulai memerankan pola perlawanan 
politik yang lebih lunak–di antaranya dengan mendirikan Majelis Mujahidin 
Indonesia, anak-anak JI lulusan Afghan mulai gerah. Bahkan, ketika perang 
saudara di Poso dan Ambon meletus, tersiar kabar bahwa anak-anak JI lulusan 
Afghan kemudian lebih memilih bergabung dengan para sejawat DI lulusan Afghan 
untuk bertempur di dua daerah konflik tersebut.

Ketika dua perang lokal itu berakhir, mereka seolah kehilangan medan jihad. 
Wajar jika mereka kemudian mencari medan jihad baru. Nah, ketika itulah, 
Hambali berhasil memfasilitasi kerinduan mereka untuk berjihad. Apalagi, ketika 
itu Hambali telah menjelma menjadi salah satu tokoh Al-Qaeda di Asia Tenggara. 
Sejak itu, berhembus kabar bahwa JI pecah. Satu kelompok tetap setia pada JI 
pimpinan Baasyir yang lebih moderat, sedangkan satu kelompok lagi JI yang 
didukung Hambali yang lebih memiliki karakter kelompok paramiliter.. Kelompok 
kedua inilah, yang kemudian berkembang menjadi kelompok yang kini dibesarkan 
oleh Noordin M. Top cs.

Dari latar belakang itu, ada beberapa simpul yang bisa menjelaskan mengapa 
Noordin tidak menebar teror di negerinya: Malaysia.

Pertama, basis ideologi JI adalah Indonesia karena JI lahir dari gerakan DI/TII 
atau NII.

Kedua, karena alasan pertama itu, Noordin lebih mudah mendapat dukungan 
ideologis dari para aktivis JI maupun DI di Indonesia. Memang, tidak semua 
aktivis DI sepakat dengan cara-cara Noordin. Bahkan, Baasyir yang merupakan 
guru sekaligus mentor, pun tak sepakat dengan teror ala Noordin. Apalagi di 
Malaysia, jamaah DI maupun JI sudah semakin terdesak, yang pada akhirnya 
membuat ke-DI-an dan ke-JI-an mereka semakin memudar.

Ketiga, jauh lebih mudah bagi Noordin untuk merekrut anggota baru di Indonesia 
ketimbang di Malaysia. Karakter orang Indonesia jauh lebih mudah dikader untuk 
menjadi militan ketimbang orang Malaysia.

Keempat, dalam doktrin DI–organisasi militan pertama yang dikenal 
Noordin–Indonesia diyakini sebagai pusat dakwah dan kebangkitan Islam dengan 
sebutan Madinah Indonesia. Karena itu, Indonesia memiliki kedudukan istimewa 
dalam hati Noordin. Bahkan, bisa jadi Noordin merasa lebih nyaman menjadi JI 
yang Indonesianis ketimbang sebagai JI yang Malaysianis.

Saya tak ingin menggunakan DI/NII ini sebagai stigmatisasi, ataupun menafikan 
banyaknya mantan tokoh dan keturunan organisasi ini yang tidak ada kaitannya 
lagi dengan aksi-aksi teror saat ini. Saya hanya ingin menekankan satu hal: 
generasi terorisme lokal sangat berpotensi menjelma terorisme global. 
Organisasi lokal adalah cikal-bakal dari organisasi global. Oleh karena itu, 
warisan ideologi dan dendam kesumat dari generasi itu harus dipotong secara 
tuntas, sembari melakukan antisipasi terhadap munculnya organisasi-organisasi 
teror lokal baru di Indonesia. Karena terbawa arus melawan terorisme global, 
sebagian masyarakat dan aparat pemerintah justru lengah
terhadap kemunculan organisasi-organisasi teror lokal baru yang dengan leluasa 
melakukan kekerasan, pengrusakan, dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok 
dalam masyarakat yang dianggap berbeda pandangan.

Agar cerita DI/NII dan segala turunannya itu tak terulang lagi, dan agar 
organisasi-organisasi lokal tidak bisa dimanfaatkan oleh jaringan global yang 
memungkinkan terjadinya aksi-aksi kekerasan seperti yang kita saksikan saat 
ini, maka diperlukan ketegasan aparat pemerintah untuk menindak 
kelompok-kelompok teror lokal baru diantaranya adalah Negara Islam Indonesia 
Komandemen Wilayah Sembilan ( NII KW9 ) yang berpusat di pesantren Al-Zaytun 
Indramayu Jawa Barat.

New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke