Makna Pendidikan Kita

By: agussyafii

Disaat Hari Raya Idul Fitri ada seorang turis Amerika sedang berjalan-jalan di 
kota Jakarta, turis Amerika ini belajar bahasa Indonesia nampak sedang 
kebingungan. Mengapa orang Indonesia selalu menjawab pertanyaan itu 
berbeda-beda seperti yoi, iya dan ya begitulah.  Lalu bule itu bertanya kepada 
salah seorang polisi lalu lintas yang berada diperempatan jalan raya.

'Pak Polisi kenapa ya orang Indonesia selalu menjawab dengan yoi, iya dan ya 
begitulah?' tanya Turis Amerika.

Pak Polisi menjelaskan bahwa bila orang tidak berpendidikan maka menjawabnya 
'yoi,' bila orangnya sekolah SMA maka menjawab 'iya.' dan bila orangnya sarjana 
maka menjawabnya 'ya begitulah.' Kata Pak Polisi menjelaskannya penuh 
kebanggaan dan kepercayaan diri.

Turis itu mengangguk-ngangguk tanda mengerti sambil berkata, 'Ooo..begitu ya?'

Terdengar suara Pak Polisi itu menjawab, 'Yoi..'

Mohon maaf buat Pak Polisi untuk tidak tersinggung dengan cerita ini, cerita 
ini bermaksud menjelaskan bahwa pendidikan pada dasarnya adalah pembiasaan. 
Kebiasaan-kebiasaan membangun pribadi seseorang. Bila pikiran-pikiran kita 
terbiasa dengan pola meng'copy' pikiran orang lain maka yang tercermin bukanlah 
diri kita yang sebenarnya. Melainkan wajah kita sebagai tukang 'poto copy.'

Ada seorang teman bertanya, 'Apakah karena kita beranggapan pendidikan sekolah 
di Indonesia buruk, maka kita perlu mengadopsi pendidikan sistem Amerika atau 
sistem Eropa?'

Saya menjawabnya 'Tidak,' Sistem apapun bila hanya membuat kita menjadi 
'pengekor ' maka itu wajah terburuk kita. gedung, guru, kepala sekolah, 
perpustakaan, labolatorium, kurikulum semuanya adalah perangkat sekunder. 
Perangkat primernya adalah terletak pada membangkitkan motvasi agar setiap 
siswa/setiap orang mau belajar dan mencari. Dengan meletakkan ilmu lebih 
ditempatkan sebagai pertanyaan terbuka daripada sebuah jawaban yang tertutup. 
Maka kita membiasakan mendidik anak-anak kita dengan menempatkan diri kita 
sebagai tempat bertanya, Kebiasaan terbuka, egaliter memang beresiko karena 
kita, para orang tua & guru juga harus terus belajar untuk update informasi 
maupun belajar lebih banyak sabar karena jawaban kita banyak dibantah oleh 
anak-anak kita dan mereka berani menyalahkan bila memang salah. Hal itu lebih 
baik bagi anak-anak kita membangun dunianya sendiri dengan daya kritis tanpa 
harus menjadi peng'copy' atau pengekor dari pendapat orang lain
 yang lagi trend.

Sudah saatnya kita menghapus wajah kita dan wajah anak-anak kita sebagai wajah 
tukang poto copy, mari kita ajarkan anak-anak kita punya kepercayaan diri penuh 
kebanggaan terhadap pendapatnya sendiri, dunianya sendiri dan wajahnya sendiri. 
Itulah makna pendidikan bagi kita.

Wassalam,
agussyafii

--
Yuk, ikutan tebarkan cinta dan kasih sayang bersama Amalia. Dalam program 
kegiatan 'Cinta Amalia' (CINMA) pada hari Ahad, 11 Oktober 2009 di Rumah 
Amalia. Kirimkan dukungan dan cinta anda di http://agussyafii.blogspot.com atau 
http://www.facebook.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke