Artikel: Kapan Kita Boleh Menyerah?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
”Habis gelap, terbitlah terang,” demikian Ibu Kartini memesankan. Setiap 
situasi sulit, pasti ada akhirnya. Masalahnya, kita sering tidak tahu kapan 
kesulitan itu akan berakhir sehingga tidak mudah untuk memutuskan apakah harus 
menyerah dan berhenti sampai disini saja, ataukah kita mesti bertahan 
’sebentar’ lagi? Jika berhenti, boleh jadi kita kehilangan momentum karena bisa 
saja sebenarnya kita sudah berada pada ’detik-detik’ menjelang akhir itu. Tapi, 
kalau harus terus, sampai kapan?  
 
Anda tentu tahu bahwa kemajuan teknologi memungkinkan kita menggunakan ban 
mobil tanpa ban dalam. Ban sejenis itu bernama ’Tubeless Tyre’. Namun, lidah 
ketimuran kita lebih mudah menyebutnya sebagai ban cubles, alias ban tanpa ban 
dalam. Kekaguman saya terhadap ban cubles seolah tidak pernah habis-habisnya. 
Pertama karena dia mengajari kita untuk mengubah paradigma. Semula, yang 
namanya ban, ya mutlak mesti ada ban dalam. Jadi, tanpa ban dalam, ban tidak 
bisa dipompa. Ban cubles mengenalkan kita kepada paradigma baru bahwa tanpa ban 
dalam pun ternyata kita bisa mendapatkan fungsi ban sebagaimana mestinya. 
 
Jika hari ini kita bisa mengubah paradigma tentang ban yang ternyata tidak 
harus selalu memiliki ban dalam, mungkinkah kita juga mengubah paradigma kita 
tentang hidup? Misalnya, kita sering percaya bahwa untuk bisa berhasil kita 
mesti memiliki ’ini dan itu’. Tanpa semua ’ini dan itu’ itu, tidaklah mungkin 
kita berhasil. Jika hingga saat ini kita belum juga berhasil, barangkali bukan 
karena kita tidak memiliki ’ini dan itu’ itu. Sebab, ban cubles itu sudah 
menunjukkan bahwa tanpa ban dalam pun dia tidak kehilangan fungsinya sebagai 
ban.  Boleh jadi, paradigma lama telah menjadikan pandangan kita agak gelap. 
Sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain untuk berhasil, selain semua 
’keharusan’ dan ’persyaratan’ yang kita buat sendiri itu. 
 
Kekaguman  saya berikutnya pada ban cubles adalah pada daya tahannya. Beberapa 
kali ban mobil saya terkena paku. Namun, ban cubles itu tidak pernah 
mengecewakan saya. Jika ban tradisional terkena paku, maka pada detik itu juga 
akan langsung gembos. Dia bisa meledak dengan bunyi yang sanggup menggetarkan 
jantung hingga nyaris copot. Bahkan, jika itu terjadi disaat kendaraan melaju 
kencang, bisa menyebabkan kecelakaan. Tapi, ban cubles tidak demikian. Seperti 
yang saya alami dimusim liburan tahun ini. Saya sedang berada diluar kota 
ketika mendapati ban mobil kami kempes. Karena kebanyakan orang sedang mudik, 
maka sebagian besar tambal ban pada tutup. Ketika ada satu yang masih buka, 
saya tidak bisa berharap banyak karena perlengkapan yang dimilikinya tidak 
memungkinkan untuk membongkar ban. Praktis yang bisa dilakukannya hanya 
menambah angin saja. Dengan ijin Tuhan, saya berhasil menyelesaikan perjalanan 
sekitar 200 kilometer dengan nyaman dan aman. 
 
Keesokan harinya, saya membongkar ban itu. Benar saja, ada paku ulir yang 
tertancap disana. Saya kagum karena ban cubles itu tidak langsung meledak saat 
tertusuk paku. Saya lebih kagum lagi karena ada paku lain yang menancap 
dibagian lainnya. Bahkan terkena dua paku pun dia tidak mengeluh. Dan saya 
lebih kagum lagi karena ternyata ada satu paku lainnya lagi yang menghunjam 
kedalam ban itu. Saya tidak habis pikir, bagaimana ban itu bisa bertahan 
sedemikian kuatnya padahal kedalam tubuhnya ditancapkan tiga buah paku tajam. 
 
Ketahanan semacam ini yang barangkali jarang dimiliki oleh manusia seperti 
kita. Kita sering terlalu cengeng untuk bisa memendam rasa pedih dan perih ini. 
Lalu memilih untuk berhenti daripada terus berlari seiring dengan perputaran 
roda kehidupan ini. Sedangkan ban cubless itu. Dia bertahan dalam nyeri itu 
sedemikian tenangnya sehingga dalam keadaan terluka oleh tiga buah pakupun 
tiada mengeluh. Dia tidak mejerit-jerit. Dia tidak beteriak-teriak, apalagi 
sampai meledak.  Dengan tubuh penuh luka itu, dia tabah memikul beban 
dipundaknya, kemudian terus berlari mengimbangi gerakan roda-roda lainnya.
 
Mari sekali lagi kita bandingkan, apakah sikap kita lebih mirip ban tradisional 
yang langsung gembos ketika tertusuk paku kecil sekalipun. Lalu merengek mogok 
dan meminta berhenti. Atau, mungkin kita sudah memiliki ketangguhan. Katabahan. 
Dan ketahanan tingkat tinggi seperti yang dimiliki oleh ban cubles itu.  
Memang. Kita tidak pernah tahu kapan terang itu akan terbit. Seperti halnya 
kita tidak tahu, kapan tempaan ini akan berakhir dalam penyelesaian yang indah. 
Namun, jika kita memiliki sikap seperti ban cubles itu; setidak-tidaknya, kita 
tidak mudah dibuat menyerah. Ban cubles itu baru akan menyerah setelah tak ada 
lagi udara yang sanggup ditahannya didalam. Seolah dia berprinsip; ”sampai 
tetes udara penghabisan.” Seperti semboyan yang selalu dikatakan para pejuang 
sejati:”sampai titik darah penghabisan.” Sehingga, selama hayat masih dikandung 
badan, mereka tidak akan berhenti berjuang. 
 
Andai saja kita bisa meniru ban cubles itu. Mungkin, kita bisa menjadi 
pribadi-pribadi yang tangguh. Dengan sikap tidak mudah menyerah itu, kita 
mempunyai peluang untuk tiba diakhir gelap, agar bisa menikmati terang. Sebab, 
sehabis gelap, terbitlah terang. Karena dalam setiap kesulitan, selalu ada 
kemudahan. Mudah-mudahan. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Kita tidak pernah tahu sampai sebatas apa bisa bertahan, sebelum benar-benar 
membuktikan bahwa kita bisa bertahan hingga dibatas itu.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke