Artikel: Bisakah Serikat Pekerja Menjadi Mitra Bagi Manajemen?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Diperusahaan anda ada Serikat Pekerja? Aih, pertanyaan macam apa itu? Bertanya 
seperti itu hukumnya tabu. Mengapa? Karena frase ’Serikat Pekerja’ sering 
menjadi alergen bagi perusahaan. Disisi lain, pendirian sebuah Serikat Pekerja 
sering bertujuan untuk menandingi Manajemen. Sehingga, tidak aneh jika 
Manajemen tidak menyukai sepak terjang Serikat Pekerja, sebaliknya Serikat 
Pekerja sering menaruh curiga kepada Manajemen. Jikapun tidak semuanya, namun 
disebagian besar perusahaan hubungan antara Serikat Pekerja dengan Manajemen 
tidak jauh-jauh dari nafas saling curiga itu. Pertanyaannya kemudian adalah; 
bisakah Serikat Pekerja menjadi mitra bagi Manajemen?
 
Di sekitar rumah tinggal saya ada beberapa ekor kucing berkeliaran. Sedangkan 
beberapa tetangga saya memelihara anjing, sehingga anjing dan kucing itu setiap 
hari bertemu. Anehnya, saya tidak pernah melihat kucing bertengkar dengan 
anjing. Padahal, para orang tua jaman dulu memiliki istilah; ”seperti kucing 
dengan anjing”, untuk menggambarkan orang-orang yang tidak pernah bisa akur. 
Alasannya karena, jaman dahulu kala; kucing tidak pernah bisa berdamai dengan 
anjing. Setiap kali mereka bertemu, sang anjing menggonggong dengan nada 
mengancam, dan sang kucing mengeong dengan intonasi membangkang. Tetapi, 
rupanya dijaman ini kaum kucing sudah bersepakat dengan bangsa anjing untuk 
tidak lagi memperpanjang persetruan itu. Sehingga mereka bisa menjalani hidup 
masing-masing tanpa harus saling menyerang. Oleh karenanya, kita menyaksikan 
perdamaian dan harmoni begitu indah yang bisa mereka bangun.
 
Jika kucing dengan anjing bisa berdamai seperti itu, apakah Serikat Pekerja dan 
Manajemen bisa hidup berdampingan? Sesuai pengertian dasarnya Serikat Pekerja 
merupakan wadah bagi seluruh pekerja. Oleh karenanya, Serikat Pekerja berperan 
dalam proses mediasi dan advokasi, jika terjadi perselisihan antara karyawan 
dengan Manajemen sebagai manifestasi perusahaan. Karyawan mana yang patut 
difasilitasi dan diadvokasi oleh Serikat Pekerja? Karyawan ya karyawan. Mengapa 
mesti ditanya karyawan di level mana? Siapapun dia, selama statusnya karyawan, 
ya layak dilindungi dan diadvokasi. 
 
Pertanyaannya kemudian adalah, jika permasalahan itu dialami oleh karyawan di 
level Direktur, apakah Serikat Pekerja masih mempermasalahkan level status? 
Tentu tidak. Sebab, Sang Direktur itupun statusnya karyawan juga. Sehingga, 
Serikat Pekerja memiliki kewajiban untuk memfasilitasi dan mengadvokasi. Jika 
Serikat Pekerja menolak untuk mengadvokasinya, maka itu berarti Serikat Pekerja 
melanggar fitrahnya sendiri. Sebaliknya, sebagai bagian dari struktur 
Manajemen, Direktur tersebut merupakan manifestasi dari perusahaan dimana 
setiap keputusan yang diambilnya berkaitan dengan kepentingan karyawan. Jika 
sang Direktur membuat kebijakan yang merugikan karyawan, maka dia mengingkari 
statusnya sendiri sebagai karyawan. Lebih dari itu, perusahaan juga rugi jika 
karyawannya tidak diperlakukan dengan baik, karena kita semua tahu bahwa 
karyawan adalah salah satu aset  terpenting bagi perusahaan. Merugikan karyawan 
berarti merusak aset perusahaan. 
 
Dari kedua sudut pandang ini, kita bisa melihat betapa Serikat Pekerja dengan 
Manajemen itu memiliki keterkaitan yang tidak bisa dilepaskan. Jika saja 
keduanya bisa belajar dari kucing dan anjing, boleh jadi mereka bisa menemukan 
fakta baru bahwa; Serikat Pekerja adalah mitra bagi Manajemen untuk memajukan 
perusahaan. Jika Manajemen bersungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan 
perusahaan, tidaklah mungkin merendahkan karyawan. Dan jika Serikat Pekerja 
bersungguh-sungguh melindungi kepentingan karyawan; tidak mungkin menjadi duri 
bagi perusahaan. Sebab, maju dan tidaknya sebuah perusahaan sangat ditentukan 
oleh kinerja karyawan. Dan sejahtera atau tidaknya setiap karyawan, sangat 
ditentukan oleh kinerja perusahaan. Karena, antara perusahaan dan karyawan; 
sama sekali tidak bisa dipisahkan.
 
Apakah itu mungkin? Jaman dahulu, nyaris tidak mungkin mengharapkan anjing 
berdamai dengan kucing. Jaman ini, kita lebih sering melihat orang bertengkar 
di televisi daripada anjing yang berantem dengan kucing.  Jadi, Serikat Pekerja 
bukan sekedar bisa berdamai dengan Manajemen, bahkan bisa menjadi Mitra. 
Syaratnya tidak ruwet-ruwet, yaitu; kedua belah pihak memperbaiki ’itikad’. 
Pendirian dan pengelolaan Serikat pekerja mesti dengan itikad untuk memajukkan 
karyawan dan perusahaan. Dan kebijakan yang diambil oleh Manajemen harus 
didasarkan kepada kepentingan perusahaan dan karyawan. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Sikap kita sering dipengaruhi oleh prasangka dan persepsi daripada berlandaskan 
pada fakta dan esensi.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke