Pada Suatu Malam

By: agussyafii

Pada suatu malam di Rumah Amalia. Terdengar suara anak-anak yang sedang membaca 
al-Quran. Beberapa hari ini malam turun hujan. Ada beberapa anak Amalia yang 
sedang sakit.  Sekalipun begitu anak-anak Amalia masih tetap bersemangat untuk 
belajar.  Saya mengatakan kepada anak-anak nanti Kak Agus mau bercerita. 
'Asyik..' Teriak Fadel. 'Pasti ceritanya seru nih..'kata Adi. 'Tapi nggak boleh 
berisik ya..' kata Lola dengan mata melotot. Wajah mereka seolah sudah tak 
sabar menanti. Tak Lama kemudian setelah semua sudah membaca al-Quran saya 
bercerita kisah yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman.

Di Masa Nabi Sulaiman Alaihissalam ada bayi yang diperebutkan oleh dua ibu. 
Keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi itu, tidak ada yang mau mengalah dan 
mengakui siapa sebenarnya ibu sang bayi, karena sama-sama bersikukuh sebagai 
ibu maka persoalan itu dibawalah kepada Nabi Sulaiman. 'Lantas apa yang 
dilakukan oleh Nabi Sulaiman Kak?' tanya Desi. 'Nah, yang terjadi selanjutnya 
Nabi Sulaiman memerintahkan kedua ibu sang bayi maju kedepan dan bertanya, 
siapakah ibu dari sang bayi ini? tanya Nabi Sulaiman. Keduanya menangkat 
tangan. karena keduanya tetap ngotot mengaku sebagai ibu sang bayi, Nabi 
Sulaiman berpura-pura akan membelah bayi itu agar terbagi dua.

'Wah..kasihan dong Kak, bayinya kan tidak berdosa?' teriak Egi.

'Kan Nabi Sulaiman nggak beneran belahnya..'jawab Irji.

Kalian tahu apa yang terjadi?' tanya saya. 'Tidak kak!' Jawab anak-anak Amalia 
serentak.

Tiba-tiba salah satu ibu yang berbadan kurus menyetujui usulan itu. Sementara 
ibu yang berbadan gemuk menolak usulan itu dan merelakan sang bayi itu karena 
tidak tega bila bayinya dibelah. Dengan berlinangan air mata ibu itu memohon 
kepada Nabi Sulaiman agar bayinya tidak dibelah dan dia rela menyerahkan bayi 
itu kepada ibu yang kurus. Akhirnya Nabi Sulaiman mengerti bahwa ibu sang bayi 
adalah ibu yang berbadan gemuk maka beliaulah yang berhak menjadi ibu yang 
sebenarnya sementara ibu yang berbadan kurus mendapatkan hukuman karena telah 
melakukan kesalahan akibat perbuatannya sendiri.

Diakhir cerita, saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa kita bisa 
belajar menjadi orang yang memiliki sifat kasih sayang seperti ibu tadi karena 
sifat kasih sayangnya, ia tidak tega melihat bayinya disakiti. Ibu itu memilih 
untuk mengalah dan berkorban demi keselamatan bayinya.  Sifat mulianya ibu dan 
kasih sayangnya kepada anaknya adalah cerminan dari sifat kasih sayang Alloh 
SWT kepada hamba-hambaNya yang beriman.  Itulah sifat Alloh SWT yang disebut 
dengan Ar-Rahim atau Maha Pengasih.

---
Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Annisa (4): 
16).

Wassalam,
agussyafii

----
Yuk,Berbagi Nikmat Qurban bersama anak-anak Amalia. Dalam program kegiatan 
'Qurban Untuk Amalia (QUA) pada hari Ahad, 29 November 2009 di Rumah Amalia. 
Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://agussyafii.blogspot.com atau 
http://www.facebook.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke