Ghibah

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Aku telah mendengar Rasulullah 
saw bersabda: "Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang 
menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang dalamnya seperti antara timur 
dan barat (sangat dalam, seakan tak berujung)". (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Lidah adalah organ yang sungguh menakjubkan. Organ ini adalah organ yang banyak 
berperan dalam mengeluarkan kata-kata. Namun bila kita tidak pandai menjaga 
lidah, maka lidah kita bisa mendapat penyakit yang lebih berbahaya daripada 
sariawan. Di antara penyakit-penyakit lidah itu adalah ghibah (bergunjing 
membuka aib orang lain), fitnah, mengejek, namimah (mengadu domba), dan dusta.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya 
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan 
orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. 
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? 
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. 
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang ". (QS. Al-Hujurat: 
12)

Ghibah adalah membicarakan aib yang memang ada pada seseorang, terutama dengan 
maksud merendahkan. Aib adalah segala hal yang apabila dibuka, maka orang yang 
mempunyai hal tersebut, pada umumnya, akan merasa tidak senang, malu, atau 
marah. Aib bisa berupa cacat/kekurangan pada fisik, perbuatan buruk yang tidak 
mesti diungkapkan kecuali di depan hakim, kelemahan ekonomi, dsb.

Ghibah ini sudah menyebar luas di masyarakat kita. Orang-orang sudah tidak lagi 
memiliki rem yang pakem untuk menghentikan kebiasaan bergunjing ini. Hal ini 
disebabkan kurangnya iman dalam dada mereka. Jika saja mereka beriman kepada 
Allah dan hari akhir, tentu mereka hanya akan berbicara yang baik-baik saja, 
dan ketika tidak ada hal baik yang bisa dibicarakan, mereka akan diam dan 
menahan lidah mereka. Namun keimanan yang lemah tidak sanggup membuat mereka 
melakukan hal tersebut.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: " 
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia 
berkata-kata hanya perkara yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman 
kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Begitu 
juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia 
memuliakan para tetamunya ". (HR. Bukhori dan Muslim)

Bahkan ada manusia yang tidak hanya membicarakan aib orang di luar keluarganya, 
tetapi juga membuka aib keluarganya,aib pasangannya, aib anak-anaknya, aib 
saudara-saudaranya, dsb. Memiliki satu anggota keluarga seperti ini di dalam 
rumah, sama halnya dengan tidak memiliki rumah. Karena fungsi rumah yang 
diantaranya adalah menutupi aib keluarga telah dirusak oleh manusia semacam ini.

"Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka". 
(QS. Al-Baqarah: 187)

Allah menggambarkan suami-isteri itu seperti pakaian yang saling menutupi satu 
sama lain. Namun apa jadinya bila isteri telah membuka aib suami, dan suami 
membuka aib isteri? Apa jadinya bila orangtua membuka aib anak, dan anak 
membuka aib orangtua? Bagaimana halnya jika kakak membuka aib adik, dan adik 
membuka aib kakak? Kegilaan macam apa ini?

Maka penyakit ghibah ini haruslah ditinggalkan dan diganti dengan 
kalimat-kalimat yang baik dan menahan lisan. Kecuali jika Anda ingin menjadikan 
keluarga dan masyarakat Anda sebagai keluarga dan masyarakat yang saling 
gunjing dan bermusuhan.

Penyakit ghibah ini juga didorong oleh penyakit-penyakit lain seperti iri, 
sombong, dan dengki. Sebagian kita sering menganggap diri sendiri sebagai 
manusia sempurna tanpa cacat, hingga merasa berhak untuk merendahkan orang lain 
dan menggunjingkan aib orang lain. Padahal aibnya sendiri –mungkin- lebih 
banyak dari orang yang digunjingi. Atau mungkin karena iri akan kesuksesan dan 
kebahagiaan orang lain, kita mungkin mencari-cari keburukan orang tersebut 
untuk disebar-luaskan.

Maka bagi Anda yang ingin sembuh dari penyakit ini, tentu Anda harus berusaha 
untuk tawadhu, merasa diri tidak lebih tinggi dari orang lain, bahkan merasa 
bahwa diri kita adalah manusia paling buruk di dunia. Pandanglah diri Anda 
sebagai orang yang harusnya banyak beristighfar. Ingat-ingatlah dosa-dosa Anda, 
maka Anda akan segan untuk membicarakan keaiban orang lain. Dan tingkatkan rasa 
kasih-sayang di dalam hati Anda, hingga timbul rasa peduli yang benar terhadap 
orang lain, dan bukannya menusuk mereka dari belakang. Jantung yang tertusuk 
pisau memang sakit sekali, tetapi lebih sakit lagi hati yang ditusuk oleh 
kata-kata jahat para pengghibah. Orang yang digunjingi mungkin hanya bisa 
menahan rasa sakit yang terus menyiksanya. Tanpa pengobatan kejiwaan 
sebagaimana diajarkan agama untuk berdzikir mengingat Allah dan mengadukan 
segala halnya kepada Allah, mungkin orang yang digunjingi akan mengalami 
depresi berat. Atau kemungkinan kedua, dia akan balas
 menggunjing hingga kedua belah pihak tak lagi tertolong dari penyakit 
berbahaya ini.


Sumber : http://hotarticle.org


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke