Artikel: Apakah Hidup Anda Diliputi Oleh Keberuntungan?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Sudah sejak lama orang tua kita percaya bahwa kehidupan kita diliputi oleh
keberuntungan. Itulah sebabnya, kita selalu mengatakan ’untung...,’ sekalipun
kita baru saja mengalami sebuah musibah. Selama ini, kedalam diri kita sudah
ditanamkan sebuah sikap untuk selalu melihat segala situasi dari sisi
positifnya. Sehingga, dalam situasi apapun kita masih merasakan betapa
beruntungnya diri kita. Jika demikian, apakah sumpah serapah atau rasa syukur
yang lebih layak untuk diungkapkan?
Ketika saya masih kecil, rumah kediaman kami dilalap api, hingga seluruhnya
berubah menjadi abu. Ayah dan Ibu saya bilang; ”Untung kita semua selamat,”.
Sampai sekarang saya masih teringat dengan kobaran api itu. Dan setiap kali
mengenangnya; saya juga teringat kata-kata Ayah-Ibu saya tentang keberuntungan
itu.
Ketika sudah bisa berenang di sungai, saya tenggelam. Air deras menyeret tubuh
saya hingga tersangkut disela-sela pintu penahan air di bendungan. Sampai
sekarang saya masih ingat betapa beruntungnya saya karena ada rongga udara yang
terbentuk antara lempengan pintu irigasi dengan titik jatuh air sehingga
melalui rongga itu saya bisa bernafas sampai orang-orang berhasil menemukan
saya.
Ketika beranjak remaja, gejolak muda mendorong saya untuk pergi ke Gunung
Tangkuban Perahu dan membiarkan diri saya menginap disana. Bermalam di gunung
sama sekali bukanlah masalah. Tetapi, melakukannya sendirian dialam liar tanpa
perlengkapan apapun; kedengarannya bukan gagasan yang cerdas. Sampai saat ini
saya masih mengenang betapa beruntungnya saya karena bisa selamat melalui malam
yang mengerikan itu.
Kemarin malam, saya melakukan beberapa permainan kecil dengan anak-anak.
Setelah melalui tahap tertawa dan melompat-lompat yang seru, saya berencana
untuk melakukan sesuatu yang lain. Kali ini saya membutuhkan sebuah media yang
harus dipotong-potong. Maka saya mengambil cutter kecil. Ketika memotong
media itu, entah kenapa ujung cutter tergelincir dan patah hingga melukai
pangkal jari tangan saya, persis dibagian yang banyak urat-urat kecilnya. Darah
segar segera mengalir. Dan secara spontan saya berkata dalam hati;’Untung tidak
sampai memutuskan urat-uratnya.” Saya kira masalah akan terhenti sampai
disana. Ternyata saya keliru.
Sebelum sempat memberi tahu orang lain bahwa tangan saya terluka, anak lelaki
kecil saya yang tengah berada dipuncak rasa senang berlari kearah saya. Lalu
tanpa disadari dia merebut cutter itu dari genggaman saya. Maka secara spontan
saya berteriak; ”Abang, ayah pegang pisau tajam, jangan merebutnya. BAHAYA!”
tapi terlambat. Dia sudah terlanjur melakukannya. Ketika itu, saya merasakan
segalanya seolah berjalan dalam gerak lambat. Semua kengerian itu seolah
menancap dalam pikiran saya. Mulai dari ujung cutter yang tergelincir. Lalu dia
patah merobek pangkal jari tangan saya. Urat-urat yang terlihat. Darah segar
yang mengalir. Rasa perih yang menyayat. Dan..., tangan-tangan kecil polos yang
merebut gagang cutter mengira mainan terbuat dari plastik.
Pikiran saya secepat kilat membayangkan luka macam apa yang bisa dialami oleh
anak saya. Namun, ajaib sekali; tangannya tidak apa-apa. Lalu saya melihat
gagang pisau cutter kecil itu. Ternyata, memang semua bagian pisaunya sudah
patah tadi ketika saya memotong media permainan itu. Sekarang, saya merasa
sangat beruntung karena pisau tajamnya sudah patah. Jika tadi pisau itu tidak
patah, dan tanpa bisa dihindari anak lelaki kecil saya yang antusias itu
merebutnya dari tangan saya; maka boleh jadi tangannya akan terluka parah.
Sekarang saya tahu, betapa beruntungnya kami.....
Jika anda merasa saya sedang memamerkan keberuntungan-keberuntungan yang pernah
saya alami dalam hidup, semoga anda berkenan mengubah prasangka itu. Sebab,
kalaupun saya berniat untuk pamer, maka tidaklah mungkin saya bisa menceritakan
satu demi satu keberuntungan itu. Sebab, kita semua tanpa henti-hentinya
mendapatkan keberuntungan hidup yang sedemikian banyaknya sehingga kita tidak
mungkin mampu bahkan untuk sekedar menyebutkannya satu persatu. Seperti firman
Tuhan yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya, bahwa;”Jika engkau menghitung
nikmat yang Tuhan berikan kepadamu, niscaya kamu tidak akan bisa
menghitungnya....”
Tapi, jika benar nikmat Tuhan itu sedemikian banyaknya; mengapa kehidupan kita
sering tidak beranjak ke tingkat yang kita impikan? Mungkin karena kita selalu
mengimpikan kehidupan materialis. Kita terlampau sering mengukur kenikmatan
dari jumlah uang yang kita dapatkan. Dari kekayaan yang kita kumpulkan. Dari
kedudukan yang bisa kita banggakan. Dan dari jubah nama besar yang kita
kenakan. Padahal, ternyata keberuntungan kita bisa menjelma dalam bentuk lain
yang sering kita abaikan. Kesehatan kita. Kesempurnaan penciptaan tubuh kita.
Terbebasnya kita dari perasaan tertekan. Rasa tenang kita. Tidur nyenyak kita.
Pekerjaan dan gaji rutin yang kita terima. Dan semua hal lain yang jumlahnya
tiada terhingga. Namun, karena kita kurang mensyukurinya; maka kita sering lupa
bahwa semua itu adalah wujud keberuntungan hidup yang Tuhan anugerahkan kepada
kita.
Memang benar bahwa ’sudut pandang’ kita menentukan apakah kita bisa menemukan
hikmah dibalik setiap kejadian atau tidak. Namun, saya meyakini bahwa
keberuntungan sama sekali bukan soal sudut pandang; melainkan soal kesadaran.
Kita perlu lebih sadar bahwa Tuhan menginginkan kehidupan kita baik. Bahkan
Tuhan tetap ingin agar hidup kita baik sekalipun kita sering mengambil langkah
dan keputusan-keputusan yang bodoh. Hanya saja, kita sering tidak menyadari
semua kebaikan Tuhan selama ini. Sehingga, kita sering berburuk sangka
kepada-Nya. Kita mengira bahwa Dia memberi orang lain lebih banyak nikmat,
daripada yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal, boleh jadi kenikmatan yang
sesungguhnya terletak pada hati nurani kita. Bukan pada benda atau
atribut-atribut yang kita lekatkan pada tubuh kita. Jika kita berhasil
menemukan tak berhingga kenikmatan didalam hati kita; mungkin kita bisa lebih
sadar akan betapa beruntungnya diri kita. Karena ternyata. Kehidupan
kita. Diliputi. Oleh keberuntungan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Betapa banyak kebodohan yang sudah kita buat. Namun, Tuhan selalu bersedia
untuk menutupinya dengan begitu banyak keberuntungan yang bisa kita dapat.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]