Artikel: Masih Adakah Dedikasi Disaat Kantor Sepi?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Masih ingat pepatah ’Kucing pergi, tikus menari’ ? Jaman sekarang tubuh tikus 
hampir seukuran kucing, sehingga kucing tidak lagi berselera mengganggu tikus. 
Tapi, pepatah itu masih relevan hingga kini. Terlebih lagi, jika dikaitkan 
dengan prinsip kepemimpinan atau leadership, dan kinerja atau performance. 
Dalam konteks ini, kita bisa menguji kedua hal diatas ketika Umat Islam 
merayakan Iedul Fitri, atau saat Kaum Kristiani merayakan Natal. Tahukah anda 
mengapa demikian? Karena, itu adalah saat-saat dimana para atasan dan kolega 
pergi liburan. Walhasil, suasana kantor menjadi sunyi senyap. Lantas, apakah 
disaat senyap seperti itu kinerja anda naik dan menjadi lebih baik, atau malah 
turun menukik?
 
Seorang karyawan terlihat sibuk didepan komputernya dengan tampang yang serius. 
Mungkinkah dia termasuk karyawan yang sungguh-sungguh dalam bekerja? 
Kelihatannya sih demikian. Namun, ketika karyawan itu menyadari bahwa 
atasannya  berdiri tepat dibelakangnya, dan melihat seluruh tampilan dilayar 
komputernya; mendadak wajah karyawan itu berubah menjadi pucat pasi. Pada 
kesempatan lain, seorang karyawan buru-buru menutup layar monitor laptopnya 
ketika boss besar memasuki ruang rapat. Kita tentu mafhum; mengapa seseorang 
tidak ingin atasannya mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
 
Kedua peristiwa yang saya ceritakan diatas bukan kisah rekaan semata. Dan itu 
sudah cukup menggambarkan betapa banyak orang yang tidak sungguh-sungguh 
bekerja pada saat seharusnya mereka bekerja. Jika saat para atasan berada 
dikantor saja banyak karyawan yang tidak sungguh-sungguh bekerja, maka bisa 
dibayangkan betapa banyak karyawan yang  menyia-nyiakan amanah seperti itu 
disaat musim libur panjang tiba? 
 
Padahal, salah satu ciri karyawan yang baik adalah; bekerja dengan 
sungguh-sungguh meski tidak seorangpun mengawasinya. Oleh karena itu, kita bisa 
mengukur apakah kita ini karyawan yang baik atau bukan justru pada saat atasan 
kita tidak berada di tempat. Dengan kata lain, musim libur panjang seperti 
Iedul Fitri dan Natal adalah saat yang tepat untuk membuktikan kualitas diri 
kita sebagai seorang profesional. 
 
Sewaktu saya masih kecil, guru mengaji saya menceritakan kisah tentang seorang 
anak yang tengah menggembalakan kambing yang jumlahnya banyak sekali. Suatu 
hari seorang lelaki tak dikenal menghampirinya, dan berkata; ”Nak, jual satu 
ekor kambingmu itu kepadaku.” Sambil dikeluarkannya uang dari dalam saku.
 
”Maaf  Tuan, kambing-kambing ini bukan milik saya. Jadi tidak akan saya jual.” 
sahut anak itu.
”Sudahlah, Nak. Jumlah kambing itu sangat banyak. Majikanmu tidak akan tahu 
kalau berkurang satu.” Orang itu meyakinkan.
”Benar Tuan. Majikanku tidak akan tahu kalau beberapa ekor kambing yang 
kugembalakan ini hilang.” Sahutnya. ”Tetapi Tuan,” lanjutnya. ”Tuhanku Yang 
Maha Melihat senantiasa memperhatikan semua yang aku lakukan ketika 
menggembalakan kambing-kambing ini.”
 
Lelaki pendatang itu tertegun sesaat. Lalu memeluknya erat. Dan berkata;”Kamu 
benar anakku. Tidak ada satu tempatpun dimuka bumi ini yang tidak terlihat oleh 
Tuhan.”  Guru ngaji saya mengatakan bahwa lelaki asing itu bernama Umar Bin 
Khatab. Seorang Khalifah yang gemar menyamar.
 
Hari ini, kita mendapatkan anugerah yang tak ternilai dalam bentuk pekerjaan 
yang dipercayakan oleh perusahaan. Dan hari ini, kita mendapatkan pengingat 
dari gembala kecil itu. Karena, bekerja bukan semata-mata untuk menyenangkan 
majikan. Bekerja adalah sarana pengabdian kepada Tuhan. Sebab, Tuhan telah 
menganugerahkan begitu banyak potensi melalui kesempurnaan penciptaan diri 
kita. Sehingga, menyia-nyiakan amanah dari perusahaan, pada hakekatnya 
menyia-nyiakan anugerah Tuhan. 
 
Malu kita seandainya diusia yang sudah dewasa seperti ini masih berprinsip 
untuk bekerja dengan baik hanya jika ada atasan. Bukan malu karena takut 
ketahuan atasan. Tapi malu bahwa kita selalu diperhatikan oleh Tuhan. Padahal, 
Tuhan menyediakan pahala untuk  setiap perbuatan baik yang kita lakukan. 
Artinya, jika kita bekerja dengan baik, maka bukan hanya gaji dari perusahaan 
yang kita dapatkan. Melainkan sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari itu. 
Mengapa? Karena, setinggi apapun gaji yang anda terima; belum tentu sepadan 
dengan pengorbanan yang anda berikan. Sedangkan imbalan dari Tuhan? Tidak 
pernah lebih sedikit dari usaha yang kita upayakan. Bahkan, karena Tuhan itu 
Maha Pemurah; maka Dia menyediakan pahala yang berlipat-lipat. Bagi 
hamba-hambanya yang bekerja dengan tulus ikhlas. Yaitu, orang-orang yang 
bekerja bukan karena pengawasan orang lain. Melainkan mereka yang 
mempersembahkan setiap pekerjaan yang dilakukannya sebagai wujud pengabdian
 kepada Tuhan.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Ikhlas itu bukan bersedia bekerja tanpa imbalan. Melainkan mengharapkan 
keridoan Tuhan, atas setiap tindakan yang kita lakukan. 
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke