Cinta Yang Terbenam

By: agussyafii

Siang itu saya mendapatkan janji untuk bertemu dengan seorang perempuan separuh 
baya. Kami bertemu di kantor. 'Saya sebenarnya sudah bercerai,' begitu tutur 
perempuan itu tentang perjalanan hidupnya. 'Saya menggugat cerai suami saya 
dalam proses yang panjang dan melelahkan. Orang tuanya dan dia sangat berharap 
bisa mengasuh Bima, putra kami sebab bagi mereka. Laki-laki adalah penerus 
keturunan. Perempuan hanyalah dianggap sebagai 'konco wingking' (teman 
dibelakang). ' Ucapnya menghela napas panjang.

'Kelima saudara laki-lakinya semuanya hanya memiliki anak perempuan. 
Satu-satunya garis keturunannya yang memiliki anak laki-laki hanyalah kami 
yaitu Bima.' Wajahnya terlihat tegar. 'Perempuan mana yang tidak ingin minta 
cerai? Setiap gajian, dia simpan sendiri. Sementara untuk kehidupan sehari-hari 
dari gaji saya, untuk membantu orang tua dan adik-adik, saya harus 
sembunyi-sembunyi untuk mengirimkan pada mereka.'  Tutur perempuan itu. Tak 
lama kemudian dia meminum teh hangat yang sudah sejak tadi telah disediakan. 

'Barangkali gaji bapak untuk keperluan yang lebih utama seperti rumah, 
peralatan?' tanya saya.

'Benar Mas Agus, gajinya memang buat bayar kreditan rumah. Rumah itu sekarang  
dia yang meninggalinya. Sementara saya dan Bima tinggal dikontrakan.Saya dan 
Bima kabur dari rumah. Sejak itu dia tidak pernah mau peduli terhadap nasib 
kami berdua. Bahkan setiap apapun yang hendak ingin dilakukan untuk kepentingan 
istri dan anaknya sendiri dia selalu meminta izin ibunya. Itulah yang tidak 
saya suka mas,' ucapnya. Air matanya mengalir tak mampu disembunyikan kesedihan 
hatinya.

Dalam hati saya berpikir bahwa perempuan ini mengalami problem yang begitu 
berat. Problem klasik antara menantu dan mertua. Memang agak jarang saya 
mendengar menantu laki-laki bertengkar dengan mertua laki-laki atau menantu 
laki-laki bertengkar dengan mertua perempuannya namun saya hampir sering 
mendengar menantu perempuan bertengkar dengan mertua perempuannya. Mungkin 
alasan yang utama mertua perempuan merasa lebih tahu segalanya daripada menantu 
perempuannya, maka terlihatlah mertua perempuan cerewet bila bertemu dengan 
menantu perempuannya.

'Apakah Ibu pernah kemukakan perasaan ibu pada bapak?' tanya saya.

'Sudah Mas Agus dan itu tak merubah apapun.' ucapnya.

'Apa yang membuat Ibu jatuh cinta pada beliau?' tanya saya kembali.

'Suami saya itu tipe ideal, ganteng, tinggi, besar. Sifatnya jujur dan setia. 
Saya teringat waktu kami berpacaran dia begitu sayang pada saya. Setiap kali 
datang selalu membawakan makanan kesukaan saya. Dia membantu tugas-tugas 
kuliah, juga pekerjaan rumah, dia tidak pernah menyalahkan saya, apa lagi 
mencela kekurangan saya. Dimata saya, dia begtiu sempurna sebagai suami namun 
begitu menikah semua yang terlihat sempurna itu menjadi hilang.' tuturnya.

Saya memahami apa yang diucapkan, cintanya telah melukai hatinya, cintanya 
telah menenggelamkan hidupnya. 'Alhamdulillah Mas Agus, hakim telah mengabulkan 
gugatan cerai saya dan Bima dalam pengawasan saya sebagai ibunya. Saya tidak 
berharap apapun pada mantan suami saya. Rasanya tubuh saya menjadi bugar 
seperti melepaskan beban berat dipundak saya. Rasa plong!' Ucap Sang Ibu itu.

'Ah, bagaimana dengan Bima, Bu?' ucap saya terlontar tanpa tersadari. Apakah 
Sang Ibu menyadari bahwa anaknya suatu saat membutuhkan teladan dan kebanggaan 
dari seorang ayah.  Seorang ayah yang memberikan kehangatan bagi Bima, 
putranya. Pelukan kasih sayang, menemaninya bermain, menjemputnya ke sekolah 
atau membantunya mengerjakan PR. 'Suami saya berpesan, bila nanti Bima telah 
besar dan menanyakan tentang bapaknya, bilang aja sudah mati!' Tutur Sang Ibu 
tanpa raut muka berubah, betapa tipisnya batas cinta dan benci.

Saya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun tentang apa yang telah 
dikatakannya. Begitulah orang tua tidak pernah mau mengerti kondisi 
anak-anaknya. Mengorbankan anak-anak yang tumbuh dan berkembang yang 
membutuhkan cinta kasih, pelukan hangat, dukungan dan rasa aman bagi dirinya. 
Sedemikian mudahkah cinta itu tenggelam dalam perceraian? Tidak adakah jalan 
yang lebih baik?

---
Dan pergaulilah istri kalian dengan baik, kemudian bila kamu tidak menyukainya, 
maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Alloh 
menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS: An-Nisaa':19).

Wassalam,
agussyafii

---
Yuk, sambut satu cinta untuk anak-anak Amalia. Dalam kampanye program  'Satu 
Cinta Untuk Amalia (TALIA)' Kirimkan dukungan dan komentar anda di 
http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii, 
http://www.twitter.com/agussyafii,  atau sms di 087 8777 12 431




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke