Gus  Dur dan Suharto: Pahlawan Rasa dan Pahlawan Logika 

By: Prof. DR. Achmad Mubarok MA

Wafatnya Gus Dur benar-benar menjadi fenomena luar biasa bagi masyarakat  
Indonesia yang sedang kebingunan nonton sinetron bank Century. Ketika syaraf 
masyarakat menjadi rusak dan tumpul ketika dipaksa harus menonton berita yang 
diulang-ulang selama beberapa minggu ditambah acting politisi yang jogetannya  
terlalu ketara motif politikingnya  tiba-tiba menyeruak berita wafatnya Gus 
Dur’ Berita Gus Dur sakit sudah menu mingguan, tetapi wafatnya Gus Dur tetap 
mengejutkan . Langsung seluruh media mengusung berita Gus Dur. Bahkan 
Presidenpun menunda agenda kenegaraan untuk melayani pemakaman Gus Dur. 
Selanjutnya seperti yang kita saksikan, seluruh media TV dan Koran 
berhari-hari  menampilkan serba serbi sosok Gus Dur semasa hidupnya. Rasanya 
dalam perspektip respond masyarakat, Gus Dur adalah tokoh terbesar dalam 
sejarah. Bukan hanya masyarakat tetap berduyun-duyun menziarahi makamnya hingga 
berminggu-minggu, tetapi semua golongan agama pun mengadakan
 upacara doa bagi Gusd Dur. Di Gereja-gereja upacara doa bagi Gus dur 
dilangsungkan juga Tokoh-tokoh pengkritik Gus Durpun terbungkam mulutnya  
kecuali untuk berbicara tentang kebaiakannya. Saya kira Gus Dur tidak akan 
habis dibicarakan orang hingga 2-3 bulan ke depan. Secara politis, Gus Dur 
berjasa meredakan tensi politik nasional yang disulut oleh kasus bank Century’
         
Gus Dur itu tokoh kontroversil, tokoh nyeleneh, tokoh yang konsisten dalam 
ketidak konsistenannya. Tetapi siapa Gus dur justeru dikukuhkan oleh 
kewafatannya.  Kualitas kemuliaan manusia dapat dilihat disaat kematiaanya, 
yaitu waktu mati berbeda dengan waktu lahir. Ketika manusia lahir ke dunia, dia 
menangis, sementara yang menonton; ayahnya, kakek-neneknya dan seluruh 
kerabatnya tersenyum gembira menyongsong kelahirannya. Jika ia orang ber”bobot” 
di depan Tuhan maka sewaktu meninggal, keadaannya kebalikan dibanding waktu 
lahir, yaitu ia tersenyum ria karena akan berjuampa dengan Tuhan yang Maha 
Pengasih, sementara yang menonton; keluarga dan komunitasnya menangis sedih 
ditinggalkan. Jika orang jahat maka sewaktu lahir ia menangis yang menonton 
tertawa, maka ketika matipun ia menangis dan yang menonton tertawa senang. 
Tokoh Gus Dur membuktikan bahwa ia benar-benar seorang yang berada di hati 
begitu banyak orang. Ratusan ribu manusia mengiringi
 kepergian Gus Dur dengan air mata dan gelombang doa, tahlil dan tadarus. Arwah 
Gus Dur benar-benar merupakan magnit spiritual yang sangat kuat gaya tarikannya.
        
Yang sedang heboh sekarang adalah usulan agar Gus Dur ditetapkan sebagai 
pahlawan Nasional. Tidak ada satupun suara menentang yang terdengar. Di DPR pun 
suaranya sangat kencang. Yang dipersoalkan adalah bagaimana prosedurnya, siapa 
yang usul dan siapa yang menetapkan. Orang yang tak sabar kepada prosedur 
bahkan mengatakan bahwa Gus Dur tidak perlu gelar pahlawan karena beliau sudah 
menjadi pahlawan yang sebenarnya di hati rakyat. Gelombang perasaan public 
mengisyaratkan hal yang sama bahwa Gus dur adalah pahlawan, diberi gelar oleh 
Negara atau tidak. Bahkan  terhadap gagasan diselenggarakannya sidang MPR untuk 
merehabilitir nama baik Gus Dur karena MPR dulu memakzulkannya, dikatakan bahwa 
tidak perlu ada sidang MPR karena Gus Dur memang tidak terbukti kesalahannya. 
Gus Dur dulu dilengserkan  MPR bukan karena kesalahan tetapi karena intrik 
politik ketika itu.
       
Yang menjadi lebih menarik adalah gagasan yang numpangi, yaitu yang mengatakan 
bahwa jika Gus dur ditetapkan sebagai pahlawan nasional maka Suharto juga harus 
ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ditinjau dari sudut jasa formal, Suharto 
jauh lebih besar dibanding Gus Dur. Suharto menjadi Presiden RI selama 32 
tahun, Gus Dur hanya dua tahun. Sebagai Presiden, Suharto tangannya kuat dan 
panjang, Gus Dur tangannya pendek hingga dekritpun di jegal. Meski demikian  
tidak ada  respond public ketika Golkar  mengusulkan agar Presiden Suharto 
dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Sementara Gus Dur, baru lima menit wafat 
sudah mengalir SMS ke istana agar Gus Dur dimakamkan di makam pahlawan. Pada 
malam tahlilan tujuh harinya sudah lebih lima juta facebooker mendukung usulan 
tersebut. Jadi Gus Dur adalah pahlawan yang diusulkan oleh perasaan banyak 
orang, sementara Suharto diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh logika yang 
menumpangi kepahlawanan Gus Dur.
        
Tapi betapapun harus diakui, Suharto adalah orang besar. Beliau adalah komandan 
dan manajer yang sangat efektip. Jejaknya nampak pada tatanan fisik ekonomi dan 
stabilitas social yang terkendali, bahkan perilaku anarkispun berlangsung 
terkendali. Sedangkan Gus Dur lebih sebagai budayawan yang efektip. Jejaknya 
terasa dalam getaran fikiran dan perasaan masyarakat luas menembus sekat ruang 
dan waktu. Di sini kita masih meributkan gelar kepahlawanan untuk kedua 
presiden kita, tetapi disana Gus Dur dan Pak harto sudah ketemu berhaha hehe, 
hanya mungkin kelas kamarnya yang berbeda, wallohu a`lam.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke