Artikel: Airnya Yang Keruh, Atau Dispensernya Yang Berdebu?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Apakah anda pernah berurusan dengan para pemakai ’topi negatif?’ Apapun yang
anda katakan, mereka selalu menanggapinya secara negatif. Sekalipun anda
membicarakan sesuatu yang positif, dimata mereka tetap saja negatif. Bahkan,
sekalipun mengakui bahwa gagasan anda mengandung sisi positif, mereka tetap
berdiri disudut pandang negatif. Walhasil, mereka tidak mendapatkan manfaat
apapun dari apa yang anda sampaikan. Eh, jangan-jangan; yang memakai topi
negatif itu kita sendiri, ya?
Teman saya yang bekerja disebuah perusahaan air minum dalam kemasan bercerita
tentang seorang pelanggan yang komplain dengan sangat garang. Sungguh seorang
pelanggan yang sadar bahwa ’Customer is King’. Didorong oleh dedikasi, teman
saya mengunjungi rumah sang pelanggan untuk menindaklanjuti pengaduannya. Tahap
pertama yang dilakukan oleh teman saya adalah memastikan bahwa air minum yang
dibelinya memang asli keluaran perusahaannya. Ternyata asli. Jadi, seharusnya
air itu mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kualitas air yang
dipasarkannya.
Tahap kedua, teman saya menginspeksi tata cara penanganan air tersebut.
Termasuk diantaranya kondisi dispenser yang digunakan tuan rumah. Pemeriksaan
tidak hanya dibagian yang mudah terlihat, melainkan juga bagian dalamnya. Dan
dengan disaksikan oleh tuan rumah, pemeriksaan itu menghasilkan ’beberapa telur
kecoa’ dan biangnya sekalian. Sekali lagi, salah satu sifat ’lemah’ manusia
muncul. Jika air yang keluar dari dispenser kita kotor, kita berkesimpulan
bahwa air yang kita beli kualitasnya buruk. Dan pihak yang harus
bertanggungjawab adalah produser air itu.
Dalam banyak situasi, kisah nyata yang diceritakan oleh teman saya itu sangat
mirip dengan keseharian kita. Kita cenderung melihat ’keluar’ daripada
’kedalam’. Makanya tidak heran jika ada saja orang-orang yang selalu memandang
negatif terhadap pemikiran, gagasan dan pendapat orang lain. Dari sudut pandang
ilmu perilaku, hal semacam itu disebut dengan istilah ’judgemental’. Orang
dengan sikap ’judgemental’ selalu terfokus kepada kelemahan pendapat orang
lain. Sehingga, terhadap apapun yang dikatakan oleh orang lain; dia selalu
berusaha menemukan sisi buruknya. Tidak peduli betapa baik dan mumpuninya
gagasan seseorang, pasti ada celah untuk diserang. Lagipula, bukankah kita
percaya pada dogma ’tidak ada yang sempurna’?
Lho, bukankah kemampuan seseorang untuk menemukan titik lemah adalah salah satu
ciri kecerdasan? Itu betul. Karena kemampuan untuk berpikir kritis adalah tanda
dari orang-orang yang IQ-nya tinggi. Namun, kita semua tahu, bahwa IQ bukanlah
faktor penentu utama dalam mengukur kualitas diri seseorang. Karena, tanpa
standar kecerdasan lain, seseorang dengan IQ tinggi hanya mirip mesin hitung.
Sederhananya, ’berpikir kritis’ ada di daerah ’kedigdayaan’ IQ, sedangkan
’menemukan cara terbaik untuk ’mengekspresikan’ beda pendapat ada di wilayah
’kearifan’ EQ. Dan untuk membangun interaksi positif manusia butuh
kedua-duanya. Makanya, orang-orang yang hanya cerdas IQ tapi rendah EQ, sering
dilanda frustrasi karena kegagalannya untuk meraih penerimaan orang lain atas
’kecanggihan’ dirinya.
Tahap ketiga yang dilakukan oleh teman saya adalah menunjukkan cara
membersihkan dispenser, dan tips merawatnya agar tetap bersih. Dan setelah
dispenser itu dibersihkan, ternyata air yang keluar dari dalamnya juga bersih.
Boleh jadi, bukan gagasan atau sumbernya yang bermasalah, melainkan kepala dan
hati kita yang berfungsi seperti dispenser itu yang kurang bersih. Sehingga
kalau kita bersedia membersihkannya, akan kita temukan kebenaran, dan
kejernihan dari gagasan yang datang dari orang lain. Mengapa kita butuh itu?
Karena, orang paling cerdas sekalipun tidak mampu menemukan semua solusi.
Sehingga, kesediaan kita untuk menerima gagasan dan masukan dari orang lain
dengan hati yang bersih menjadi faktor penting. Apakah itu berarti kita harus
selalu setuju dengan gagasan orang lain? Tidak juga. Namun, setidak-tidaknya
kita bisa bertukar pikiran dengan itikad yang baik, melalui cara yang baik,
untuk menemukan solusi terbaik.
Mengapa begitu? Karena, dari sudut pandang ilmu komunikasi, bukan hanya isi
atau konten yang harus baik, melainkan juga bagaimana cara menyampaikannya.
Jika menerapkan prinsip ini, mungkin kita bisa menghindari konflik yang terjadi
karena salah satu pihak merasa benar sendiri. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang bersedia membersihkan ’dispenser’ didalam dirinya sendiri.
Caranya? Antara lain, (1) Menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gagasan,
(2) Membuka diri akan kemungkinan kebenaran pihak lain, (3) Menenpuh jalan
elegan saat berbeda pendapat, dan (4) Jikapun tidak bisa mencapai kata
sepakat, junjung tinggilah norma yang berlaku dimasyarakat.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“SS-Pro™ Office Communication Strategy” Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Catatan Kaki:
Kualitas diri seseorang tidaklah semata-mata dinilai dari kecanggihan hasil
pemikirannya. Melainkan juga, melalui cara dia menyampaikannya.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]