Keajaiban Berakhlak Baik

By: agussyafii

Siang itu saya di Rumah Amalia kedatangan seorang tamu, anak muda yang 
bercerita bahwa di dalam hidupnya senantiasa dimudahkan, 'sewaktu sekolah 
bukanlah termasuk ranking di dalam kelas, begitu selesai bisa langsung kerja, 
sampai bekerja pun termasuk yang biasa-biasa aja namun kariernya sampai 
puncaknya,'ucapnya.

'Bagaimana anda bisa melakukan semua itu?' tanya saya padanya.

 'Ibu saya selalu mengajarkan agar senantiasa berbuat baik kepada orang lain, 
perlakukanlah orang lain sebagai engkau ingin diperlakukan.' jawabnya dengan 
mata berkaca-kaca, menerawang seolah teringat nasehat ibunda tercinta. Itulah 
keajaiban perbuatan baik yang telah menjadi akhlak yang baik. Akhlak yang baik 
dan mulia selalu membawa keberuntungan bagi hidup kita. 

Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan 
dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Bagi 
orang yang berakhlak baik, berbuat baik adalah satu ekpresi, bukan transaksi, 
oleh karena itu perbuatan baiknya mengalir begitu saja tanpa harus 
mempertimbangkan untung rugi. Yang dimaksud dengan perbuatan adalah kegiatan 
fisik atau mental yang dilakukan secara sengaja dan bertujuan. Perbuatan bisa 
berujud aktifitas gerak, bisa juga berwujud diam tanpa gerak. Tidak berbuat dan 
tidak berkatakata yang dilakukan secara sengaja adalah suatu perbuatan yang 
bernilai akhlak. Oleh karena itu bagi orang yang berakhlak, perkataannnya, 
perbuatannnya dan diamnya diukur secara cermat, kapan harus berkata dan kapan 
harus diam, kapan harus bertindak dan kapan harus berdiam diri. Akhlak 
mengandung dimensi vertikal, horizontal dan internal, oleh karena itu 
kemanfaatan hidup berakhlak dirasakan oleh masyarakat dan oleh
 orang yang bersangkutan.

Kejaiban Hidup dengan berakhlak baik hadir dalam berbagai bentuk, diantaranya 
sebagai berikut ini:

     1. Dapat menikmati ketenangan hidup. Ketenangan dalam hidup diperoleh oleh 
orang yang tidak memiliki konflik batin, konflik interest. Konflik batin timbul 
disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang berakrab-akrab dengan diri sendiri, 
dengan kemampuan diri sendiri, dengan apa yang telah dimiliki. Pusat perhatian 
orang berakhlak ialah pada bagaimana menjadikan dirinya bermakna, bermakna bagi 
keluarga, masyarakat dan bangsa serta kemanusiaan sesuai dengan nilai yang 
diajarkan oleh Tuhan Sang Pencipta. Dari segi ini orang yang berakhlak selalu 
bekerja keras tak kenal lelah untuk orang lain, yang dampaknya pulang kepada 
diri sendiri, yaitu tidak hirau terhadap kesulitan pribadinya. Secara internal 
orang berakhlak selalu mensyukuri nikmat Allah kepada dirinya sehingga ia 
merasa telah diberi banyak dan banyak memiliki. Dari itu ia selalu berfikir 
untuk memberi dan sama sekali tidak berfikir untuk menguasai apa yang telah 
dimiliki orang lain.

  2. Tidak mudah terguncang oleh perubahan situasi. Perubahan merupakan 
sunnatullah dalam kehidupan. Terkadang perubahan terjadi dengan amat cepat, 
membalik keadaan begitu rupa, yang selama ini berkuasa jatuh terhina, yang 
terhina naik ke atas panggung, yang selama ini ditabukan justeru berubah 
menjadi perilaku umum setiap hari, yang mudah menjadi sulit, sebaliknya yang 
semula mustahil menjadi sangat gampang. Bagi orang yang berakhlak, perubahan 
itu tak lebih hanya sunnatullah kehidupan, sementara sunnatullah itu sendiri 
justeru tidak berubah. Oleh karena itu bagi orang yang berakhlak, yang menjadi 
perhatian adalah bukan perubahannya, tetapi yang tidak berubah, yaitu 
kaidah-kaidah sunnatullah, seperti kebenaran akan jaya dan kebatilan akan 
runtuh, bahwa setiap kesulitan akan membawa kemudahan, bahwa kejujuran akan 
mendatangkan keberkahan, bahwa yang yang buruk, meski disembunyikan akan 
terbuka, bahwa yang baik meski sedikit akan diakui juga , bahwa
 merendahkan diri akan mendatangkan kemuliaan dan bahwa kesombongan akan 
berakhir dengan kehancuran. Bagi orang berakhlak dengan akidah tersebut diatas, 
ia akan memandang perubahan situasi justem dengan perspektif sunnatullah yang 
tidak berubah. Oleh karena itu ia tetap tenang di tengah perubahan zaman.

 3. Tidak mudah tertipu oleh fatamorgana kehidupan. Kehidupan yang kita jalani 
memang benar-benar merupakan realitas, tetapi tak jarang apa yang ditawarkan 
kepada kita dan apa yang sedang kita ikuti sebenarnya bukan realitas tetapi 
hanya fatamorgana belaka. Bahwa untuk menjadi pandai orang harus belajar adalah 
realitas, bahwa untuk mencapai ke tingkat sosial tertentu orang harus berjuang 
melalui tahap-tahap pekerjaan adalah realitas, bahwa untuk menjadi kaya orang 
harus berusaha secara ulet serta membutuhkan waktu adalah realitas. Sebaliknya 
untuk menjadi pintar mendadak, menjadi kaya mendadak, untuk mencapai kedudukan 
tinggi secara mendadak adalah lebih sering merupakan fatamorgana yang menipu. 
Bagi orang yang berakhlak, fatamorgana kehidupan tidak menarik baginya, karena 
ia justeru tertantang untuk mengatasi kesulitan secara realistis. Orang yang 
berakhlak tahu persis makna sabar, yaitu tabah hati tanpa mengeluh, dalam 
menghadapi cobaan dan
 rtintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam kerangka mencapai tujuan. Orang 
sabar tahu persis bahwa menggapai tujuan bukan suatu yang mudah karena untuk 
itu membutuhkan waktu dan keuletan dalam menghadapi rintangan. Hanya orang 
dalam keadaan lemah mental atau tertekan sajalah yang mudah tertipu oleh 
fatamorgana kehidupan, kepada sesuatu yang nampaknya sangat menjanjikan tetapi 
sebenarnya tipuan belaka.

 4. Dapat menikmati hidup dalam segala keadaan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa 
hidup manusia mengalami pasang dan surut, terkadang beruntung, di lain kali 
merugi, terkadang disambut oleh banyak orang, di lain kali dimaki dan bahkan 
diusir oleh orang banyak. Bagi orang yang berakhlak, karena prinsip hidup lurus 
yang selalu dipegang, maka ia selalu siap menghadapi keadaan surut maupun 
keadaan pasang. Di waktu beruntung ia bersyukur kepada Tuhan, berbagi rasa 
syukurnya kepada orang lain dan tidak menghambur-hamburkan keberuntungannya. 
Meski keberuntungan melimpah ruah, orang berakhlak tetap hidup wajar, tidak 
berlebihan dan tetap menjadi dirinya. Ketika sedang mengalami surut dalam 
hidupnya ia sabar, tidak mengeluh dan menerima apa adanya. Meski dalam keadaan 
serba kekurangan secara materi, orang yang berakhlak masih tetap memiliki 
keindahan dalam hidupnya karena ia tetap bisa melakukan sesuatu yang bermakna. 
Adapun orang yang tak berakhlak ketika
 beruntung ia lupa daratan berfoya-foya dengan keberuntungannya, dan ketika 
jatuh merugi ia lupa ingatan, sedih berkepanjangan, stress dan ada yang bunuh 
diri.


Wassalam,
agussyafii
----
Terima kasih atas dukungan dan partisipasi teman2 semua dengan 
terselengarakannya 'program Kegiatan 'Amalia Satukan Hati (SEHATI)' Hari Ahad, 
Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Info selengkapnya di 
http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com, 
http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke