Artikel: Apa Definisi Anda Tentang Pekerjaan Idaman?
Setiap orang pasti memiliki impian untuk mendapatkan pekerjaan idamannya. Akan
tetapi, belum tentu pekerjaan idaman anda sama dengan pekerjaan idaman orang
lain. Jangankan jenis pekerjaannya. ’Definisi tentang pekerjaan idaman’ saja
bisa jadi berbeda. Jadi, apa sebenarnya definisi anda tentang pekerjaan idaman?
Kebanyakan orang menganggap bahwa yang disebut bekerja adalah berstatus
karyawan untuk sebuah perusahaan. Jika itu adalah pengertian bagi kata
’bekerja’, maka setelah selesai kuliah saya tidak langsung bekerja. Sebab,
begitu saya mendapatkan ijazah dari kampus; saya melakukan sesuatu yang tidak
ada hubungannya dengan sebutan ’karyawan’.
Pada umumnya, orang tidak memiliki ’pekerjaan’ karena memang mereka tidak
mempunyai kesempatan untuk ’bekerja’. Atau lamaran yang mereka ajukan tidak
mendapat sambutan dari perusahaan yang dilamarnya. Atau mereka kalah dalan
bersaing dengan pelamar lainnya. Saya tidak demikian. Sebab, ada banyak
kesempatan bagi saya untuk mendapatkan ’status sebagai karyawan’. Sekalipun ada
perusahaan yang memanggil untuk bekerja bersama mereka, namun saya tidak
terlampau menggubrisnya. Mengapa saya tidak terlalu tertarik penawarannya?
Karena, saya menganggap bahwa semua kesempatan dan penawaran yang mereka
berikan bukanlah pekerjaan yang saya idamkan.
Jika anda mengira bahwa saat berprinsip demikian jiwa saya sudah matang, anda
keliru. Semoga bukan sebuah aib jika saya mengatakan bahwa yang sebenarnya
terjadi adalah; saya justru belum benar-benar memahami apa sesungguhnya
pekerjaan idaman bagi saya itu. Saya memang memiliki beberapa kriteria
terhadap pekerjaan yang saya inginkan. Tetapi, jujur saja; saya tidak
benar-benar mampu membedakan apakah itu kriteria pekerjaan idaman, atau sebuah
daftar panjang tuntutan-tuntutan yang saya ingin agar perusahaan yang
mempekerjakan saya memenuhinya. Faktanya, saya sendiri tidak begitu faham;
bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan pekerjaan ideal macam itu. Sekarang
anda boleh mengingat kembali; apakah diusia yang sama anda juga mengalami
kegalauan yang sama?
Saya membutuhkan waktu satu tahun untuk menyadari bahwa cara berpikir saya
keliru. Sebab, seperti hal-hal ’ideal’ lainnya, keinginan untuk mendapatkan
’pekerjaan ideal’ harus sejalan dengan ’situasi real’ yang kita hadapi. Jika
situasinya memungkinkan untuk mendapatkan ’pekerjaan ideal’ itu, maka kita
memang layak memperjuangkannya. Namun, jika situasinya seperti langit dan bumi,
maka mungkin kita membutuhkan sebuah tangga untuk menghubungkan kenyataan
ditanah tempat kita berpijak, dengan angan-angan yang bergelantungan diatas
awan.
Saya sangat beruntung telah melewati masa satu tahun yang ’aneh’ itu. Sebab,
dari hasil pengembaraan itu akhirnya bisa menemukan definisi ’bekerja’ itu apa.
Sehingga, saya memiliki kemantapan hati ketika akhirnya saya benar-benar
mendapatkan ’pekerjaan’. Maka, jadilah saya seorang karyawan. Dan tahukah anda,
pekerjaan apa yang saya dapatkan? Saya menjadi seorang salesman. Sekarang boleh
jadi hati kecil anda berbisik; ’jeh, untuk jadi salesman saja kok ribet
amat.....’
Mungkin anda benar. Sesungguhnya itu adalah hal yang sederhana saja. Namun,
tidak demikian bagi saya pada saat itu. Karena, ketika itu saya tengah memasuki
tahap pendewasaan kejiwaan yang penuh dengan gejolak. Sekalipun demikian,
proses panjang itu dikemudian hari akan saya sadari sebagai tahapan yang saya
perlukan. Sehingga meskipun pekerjaan itu benar-benar jauh dari apa yang saya
idamkan; tapi bisa menjadi tangga yang bisa membawa saya kepada sesuatu yang
dicita-citakan. Oleh karena itu, ketika saya telah bulat tekad untuk menjadi
karyawan, saya melakukannya dengan sepenuh hati. Dan saya tidak mau tergoda
oleh kemalasan atau tindakan yang melenakan.
Banyak nasihat yang kita dengar tentang ’melakukan sesuatu dengan sepenuh
hati’. Kita memahami nasihat itu secara konsepsi. Namun, seringkali kita secara
sengaja mengingkari. Sehingga saat bekerja kita sering lupa membawa hati.
Makanya, tidak heran jika saat bekerja kita sering ingin segera berhenti. Lalu
melakukan hal-hal lain yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah apapun
terhadap kualitas pekerjaan kita. Tidak pula meningkatkan kualitas diri kita
sebagai seorang pekerja.
Perjalanan dialog diri selama setahun itu membawa berkah bagi saya. Karena,
ketika menemukan bahwa hati yang penuh diperlukan saat bekerja; saya selalu
berupaya untuk membawa hati itu serta. Hasilnya? Sebelum genap enam bulan
memulai pekerjaan itu, saya mendapatkan kesempatan untuk ’naik satu level’
dalam pekerjaan saya. Setelah itu, saya bertanya-tanya; apakah perusahaan ini
bisa membawa saya kepada apa yang saya idamkan?
Jawabannya; bisa. Tapi, belum seperti yang saya inginkan. Maka pada bulan
ke-12, saya bermigrasi kepada organisasi yang ’saya kira’ akan membantu saya
mendapatkan pekerjaan idaman. Saya memang menginginkan sesuatu diperusahaan
yang baru itu. Namun, mereka tidak mau memberikannya. Bahkan, diperusahaan itu
saya hanya dihargai sebagai salesman. Dan itu berarti saya harus kembali turun
tingkatan. Saya terima? Ya. Saya menerimanya. Kemudian saya menuliskan surat
pengunduran diri kepada perusahaan pertama.
Untuk mengejar sebuah impian, mungkin diperlukan pengorbanan. Jika memang
demikian, saya tidak keberatan. Namun, ketika memulainya kembali saya harus
mempunyai rencana yang lebih rapi. Maka, ketika menjalani pelatihan sebelum
bekerja itu saya membuat ’rencana kerja 5 tahun’ pertama saya. Dan 5 tahun
kemudian, saya menemukan bahwa semua hal yang saya rencanakan itu benar-benar
dikabulkan Tuhan. Jika ada hal yang tidak bisa saya raih, maka itu berarti saya
mendapatkan yang lebih baik dari yang saya rencanakan. Buah manis atas
kesediaan membawa hati kedalam pekerjaan. Dan ditahun ke-10 sejak memulai
perjalanan itu, saya menemukan bahwa pencapaian yang saya raih jauh melampaui
apa yang bisa diwujudkan oleh kebanyakan orang seprofesi saya.
Jika anda mengira bahwa perjalanan karir saya ’mulus-mulus’ saja, anda keliru.
Karena, saya belum menceritakan pahit getirnya. Semoga bukan merupakan sebuah
aib, jika saya mengatakan bahwa selama bekerja beberapa belas tahun itu sudah
dua kali saya berhadapan dengan situasi dimana saya ’nyaris dikeluarkan’. Bukan
’nyaris di-PHK’, tapi ’nyaris dikeluarkan’. Tahukah anda, mengapa saya ’nyaris
dikeluarkan’? Itu adalah dampak dari eksperimen-eksperimen yang saya lakukan.
Ya, saya menyebutnya eksperimen. Sebab, semua itu saya lakukan dengan kesadaran
sepenuh hati untuk menemukan nilai tambah yang bisa saya berikan kepada
perusahaan, dan kepada diri sendiri.
Saya tidak menganggapnya sebuah aib karena eksperimen-eksperimen itu tidak
melanggar norma. Tidak pula mengabaikan etika. Apalagi mengkhianati integritas
diri. Kedua peristiwa itu terjadi karena hati saya sepenuhnya menyadari bahwa
saya harus melakukan tindakan yang terbaik bagi perusahaan. Mungkin, landasan
itulah pula yang akhirnya ’menyelamatkan’ saya dari pemecatan. Sebab, saya
percaya bahwa perusahaan, tidak ingin kehilangan karyawan yang bersedia
mendedikasikan diri dengan sepenuh hati.
Lagipula, jika anda yakin bahwa anda memiliki kualitas diri yang tinggi. Dan
anda dengan sepenuh hati melakukan yang terbaik bagi perusahaan; mengapa anda
takut dikeluarkan? Bahkan, sekalipun anda benar-benar kehilangan pekerjaan itu;
apa yang mesti anda khawatirkan? Sebab, kekhawatiran hanya bisa menghinggapi
orang-orang yang tidak yakin akan 2 hal. Yaitu; kualitas dirinya, dan kebenaran
tindakannya. Jika anda yakin dengan kedua hal itu, kekhawatiran tidak mungkin
mengambil alih diri anda, bukan?
Saat memilih untuk berhenti, beberapa teman mengira saya bodoh. Memang, dari
dulu saya telah mengambil banyak keputusan yang bodoh. Namun, tak satupun yang
saya sesali. Sebab, eksperimen untuk menemukan definisi tentang apa sebenarnya
’pekerjaan idaman’ ini memang menuntut saya memasuki lorong-lorong yang
kelihatannya bodoh. Namun, jika kita melintasi lorong gelap itu sepenuh hati;
mudah-mudahan bisikan nurani bisa membawa kita kepada cahaya. Sehingga kita
bisa menemukan jalan keluar diujung sana.
Apa definisi anda tentang pekerjaan idaman? Barangkali anda sudah berhasil
menemukan sebuah jawaban. Namun, bagi saya pribadi; ’pekerjaan idaman’ itu
bukanlah sebuah titik akhir. Sebab, ternyata setelah anda berhasil mendapatkan
pekerjaan sesuai dengan yang anda idamkan, hati nurani anda membisikan definisi
lain yang menuntut anda untuk mengejarnya kembali. Saat anda menjadi salesman,
misalnya; anda mendefinisikan pekerjaan idaman sebagai supervisor. Saat anda
jadi suprvisor, definisi anda berubah menjadi Sales Manager. Begitu seterusnya,
sehingga anda tidak betul-betul tahu; dimana letak titik akhir dari definisi
’pekerjaan idaman’ itu. Tetapi, setiap kali kita menjalaninya dengan
kesungguhan hati dan dedikasi yang tinggi; saya yakin, anda tidak akan pernah
tersesat. Sebab, setiap eksperimen yang kita lakukan selalu sarat dengan
pelajaran. Dan semakin banyak pelajaran yang kita dapatkan, semakin berkembang
pula; definisi kita. Tentang. Pekerjaan
idaman.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“SS-Pro™ Personality Leadership Strategy” Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Catatan Kaki:
Bekerja bukanlah semata-mata untuk mendapatkan sejumlah imbalan. Melainkan
salah satu cara bagi kita untuk mensyukuri anugerah dari Tuhan.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]