Artikel:  Saat Sifat Buruk Ditanggalkan, Sifat Baik Bermekaran
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
                  
Anda pernah bertemu dengan orang yang sering bersikap negatif? Cara berpikirnya 
negatif. Cara bicaranya negatif. Cara menyampaikan pendapatnya negatif. Caranya 
memandang seisi dunia pun negatif. Sebaliknya, anda juga pasti pernah bertemu 
dengan orang yang sering bersikap positif. Segala sesuatu yang keluar dari 
mulutnya positif. Tulisan-tulisannya positif. Perilakunya positif. Dan caranya 
memandang seisi dunia juga positif. Pertanyaannya adalah; apakah perbedaan 
sikap kedua orang ini disebabkan oleh ’perbedaan gen’ dalam dirinya, atau 
perbedaan pilihan hidup yang diambilnya?
 
Jika berkunjung ke lapangan olah raga komplek kami,  anda akan melihat pohon 
mangga yang tinggi dan besar. Dari kejauhan daunnya terlihat hijau rindang, 
disertai ranting-ranting bersilangan. Namun, kalau melihatnya dari dekat; anda 
akan tahu bahwa daun-daun hijau nan subur itu bukanlah daun mangga. Melainkan 
daun benalu yang tebal dan menjalar. Tidaklah mengherankan jika pohon mangga 
itu enggan berbuah.  Kira-kira sebulan yang lalu, kami memotong sebagian pohon 
mangga itu. Terutama dicabang-cabangnya yang ditumbuhi para benalu. Tidak 
disangka, ternyata sedemikian banyaknya benalu itu sehingga sebuah mobil bak 
terbuka harus bolak-balik mengangkut sampahnya. 
 
Hari minggu kemarin, saya berkumpul bersama beberapa warga lain dilapangan itu. 
Dan tanpa sengaja, kami melihat pohon mangga itu. Kami semua terkagum-kagum 
dengan pemadangan itu. Kenapa? Karena, sekarang pohon mangga itu dipenuhi oleh 
pucuk-pucuk daun muda yang besar-besar dan subur-subur. Sekarang, saya menjadi 
lebih faham; mengapa para bijak bestari sering menasihatkan kita untuk 
menghilangkan sifat-sifat buruk yang kita miliki. Sebab seperti benalu itu; 
sifat buruk menyebabkan sifat-sifat baik didalam diri kita enggan muncul ke 
permukan.
 
Memang, ada orang yang percaya bahwa sifat baik dan buruk seseorang itu sudah 
tercetak dalam kode-kode genetiknya. Sehingga, ada ilmuwan yang menduga bahwa 
orang-orang tertentu dilahirkan dengan bakat menjadi penjahat. Tapi, tidak 
pernah ada kesepakatan tentang kebenaran dugaan ini. Tuhan tidak adil jika 
menciptakan orang-orang tertentu dengan gen untuk menjadi manusia picik, 
berpikiran sempit, dan senang berprasangka buruk. Padahal, Dia menciptakan 
orang lainnya dengan gen untuk menjadi manusia yang baik, berperangai terpuji, 
serta sopan dan santun kepada lingkungannya.
 
Guru ngaji saya sewaktu disurau dulu menjelaskan kalau Tuhan berfirman bahwa; 
”Pada saat meniupkan ruh kehidupan kepada janin manusia, Dia memasukkan 
kecenderungan sifat manusia kepada kebaikan, dan keburukan.” Oleh karenanya 
kelak ketika dewasa, seorang manusia memiliki kendali penuh atas dirinya 
sendiri. Apakah dia memilih menjadi manusia yang berperangai baik, atau buruk.
 
Sayang sekali jika memilih untuk membiarkan sifat-sifat buruk tumbuh subur 
didalam diri kita. Sebab, saat kita memilih untuk menjadi buruk; sifat-sifat 
baik kita terkunci rapat. Misalnya, ketika kita memilih untuk memaki orang 
lain, maka sifat toleran kita tidak kelihatan. Saat kita malas, maka sifat 
rajin kita hilang. Saat kita membenci orang lain, maka sifat penyayang kita 
terkekang. Sebaliknya, ketika kita memilih untuk teguh hati, maka sifat cengeng 
langsung hengkang. Saat kita menghormati hak orang lain untuk berpendapat, maka 
sifat sok benar sendiri kita tidak mendapat tempat. Dan, saat kita memilih 
untuk berakhlak mulia, maka perilaku-perilaku tak terpuji kita pergi. 
 
Apa peduli elu? Hidup, hidup gua. Mulut, mulut gua. Terserah mau gua pake apa! 
Ada orang yang berprinsip begitu? Banyak. Kita pun kadang-kadang demikian.  
Namun, kita lupa bahwa manfaat bersikap baik itu bukan untuk orang lain. 
Melainkan bagi diri kita sendiri. Sebab, jika kita berperilaku baik kepada 
orang lain, kemudian orang lain merespon dengan hal-hal yang baik pada kita; 
maka yang untung adalah kita. Sebaliknya, jika kita bersikap buruk kepada orang 
lain, lalu orang lain membenci kita, menjauhi kita, dan mengucilkan kita; maka 
kita akan kehilangan banyak kesempatan.  
 
Oleh karena itu, sudah saatnya untuk menyadari bahwa berperilaku buruk itu sama 
sekali tidak memberi manfaat apapun kepada diri sendiri. Apakah dalam konteks 
hubungan sosial antar manusia, ataupun dalam konteks pekerjaan. Karena, jika 
kita membawa sifat-sifat buruk itu ke tempat kerja, misalnya; maka percayalah, 
kita tidak akan disukai teman. Tidak disayangi atasan. Tidak dihormati 
pelanggan. Sehingga pasti kita akan menjadi pegawai yang gagal. Sebaliknya, ada 
hadiah istimewa bagi mereka yang membawa perangai baiknya ke tempat kerja. 
Sebab, dengan sifat-sifatnya yang baik itu; dia akan selalu mendapatkan tempat 
terhormat, dimanapun dia berada.
 
Dibeberapa cabang pohon mangga itu sekarang bermunculan bunga-bunga bakal buah. 
Padahal, ini bukan musim mangga berbuah, loh. Semoga saja, hidup kita juga 
demikian. Ketika semua sifat buruk dari dalam diri kita dibuang; maka segala 
sesuatu yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Bahkan, dalam bentuk dan 
jumlah yang tidak pernah kita bayangkan. 
 
Pantaslah kalau Tuhan kemudian berfirman:”Janganlah Engkau mencampur adukkan 
kebenaran dengan kebatilan”. Karena ternyata benar bahwa keburukan-keburukan 
sifat kita bisa menyingkirkan sifat baik. Sebaliknya, sifat baik kita bisa 
mengusir sifat buruk. Jadi, bagaimana caranya menjadi orang baik? Gampang; 
tanggalkan semua sifat buruk dari dalam diri kita. Karena, ketika benalu yang 
menempel di batang pohon mangga itu kita buang; dia menemukan kembali 
kegairahan hidupnya. Kemudian pucuk-pucuk daun yang indah bermunculan. Dan 
bunga-bunganya, bermekaran.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“The Golden Triangle Of Leadership” Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
 
Catatan Kaki: 
Tidak mungkin memenangkan sebuah pertandingan, dengan menunjukkan 
keburukan-keburukan yang kita miliki. Jadi, satu-satunya cara untuk menang 
adalah; mendemonstrasikan semua kebaikan  yang bisa kita lakukan.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke