Artikel: Orang Beneran, Atau Orang-Orangan?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Jika orang lain memperlakukan anda dengan semena-mena; tentu anda tidak akan
tinggal diam. Anda akan melawan. Jika ada orang yang mengancam kepentingan
anda; tentu anda akan mempertahankan diri mati-matian. Pendek kata, segala
sesuatu yang orang lain lakukan kepada anda akan mendapatkan respon sepadan.
Apakah respon anda itu merupakan ’sikap pemberontakan’? Tidak. Itu merupakan
gambaran bahwa sebagai manusia, kita memiliki kewenangan dalam menentukan hidup
kita sendiri. Dengan itu; kita tidak akan membiarkan orang lain memegang
kendali atas hidup kita. Setiap intervensi dari orang lain tentu akan kita
hadapi. Tetapi, apakah kita masih memegang kendali atas aspek hidup yang lebih
esensial lagi?
Setiap sore selepas sembahyang Ashar, saya berangkat ke sawah untuk mencari
rumput bagi domba kami. Sedangkan di musim padi mulai menguning, tugas itu
bertambah dengan keharusan untuk mengusir burung-burung liar yang memakan bulir
padi di sawah kami. Tahukah anda bagaimana caranya kami mengusir burung-burung
itu? Kami menakut-nakuti mereka dengan sesosok tubuh berupa boneka yang terbuat
dari jerami. Lalu dibentuk mirip manusia. Dipakaikan baju bekas yang sudah
rombeng. Ditutupi topi. Kemudian ditancapkan ditengah sawah dan dihubungkan
dengan seutas tali ke sebuah saung pengintaian. Kami menyebut boneka itu
sebagai ’bebegig’. Anda menyebutnya sebagai ’orang-orangan’.
Anda tentu tahu karakter orang-orangan. Misalnya; dia tidak pernah menuntut.
Tidak pernah membantah. Tidak melawan. Tidak berdebat. Tidak memberontak. Tidak
menolak perlakuan apapun yang diterimanya. Pokoknya apapun perlakuan dari orang
lain kepadanya, diterimanya dengan apa adanya. Pendek kata; tidak ada mahluk
sepasrah orang-orangan. Dia pasrah, rah, rah, rah......
Emh, ngomong-ngomong; bukankah kita baru saja menyebutkan sifat-sifat kita
sendiri ya? Saya tahu anda keberatan dengan pernyataan terakhir saya. Kita
tidak seperti orang-orangan kok. Karena, kita tidak mungkin membiarkan orang
lain mengintervensi hidup kita. Lagi pula, kita kan bukan orang-orangan. Kita
ini adalah orang beneran.
Anda benar. Kita adalah orang beneran yang bukan orang-orangan. Kita memiliki
jiwa. Dan Tuhan melengkapi kita dengan hasrat, dan keinginan. Tetapi, mari kita
uji kembali apakah benar kita masih bertanggungjawab penuh terhadap hidup kita
sendiri. Misalnya; jika seseorang menyakit hati kita, apakah kita bisa
menetralisir pengaruh buruknya pada diri kita? Kalau kita masih sering sakit
hati atas perbuatan buruk orang lain; itu menunjukkan bahwa kita belum
benar-benar memegang kendali atas hidup kita sendiri. Kita masih bisa disetir
oleh orang lain. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang beneran.
Jika dikantor teman-teman kita malas bekerja. Kemudian kita berpikir tak ada
gunanya rajin sendirian karena gajinya sama saja. Lantas, kita ikut malas
seperti mereka. Maka itu mengindikasikan bahwa kita sudah tidak lagi memegang
kendali penuh atas hidup. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang
beneran.
Jika ditempat kerja anda memperhatikan; semua orang pada sibuk bermain
facebook. Padahal dijam-jam itu seharusnya mereka bekerja. Sehingga, pekerjaan
mereka harus jeda sesaat setiap kali ’buah beri berwarna hitam’ berbunyi;
’durirang’. Atau, konsentrasi kerja mereka terpecah setiap kali ada pop-up
chatting muncul dilayar monitor. Lantas, anda merasa menjadi alien ditempat
canggih itu. Lalu, anda mengikuti cara kerja mereka. Tidak lagi peduli bahwa
perusahaan telah membayar jam kerja anda; sehingga dengan sepenuh kesadaran
anda membiarkan gurita komunikasi tanpa batas itu mengendalikan diri anda juga.
Ehm, bukankah itu adalah sifat orang-orangan? Padahal, kita ini orang beneran.
Teman saya yang orang beneran, sengaja sign-out dari account facebooknya pada
jam kerja. Kemudian dia sign-in lagi pada jam-jam istirahat dimana dia berhak
mengisi waktunya sesuka hati. Meskipun begitu; ternyata nilai dirinya tidak
berkurang. Dia tetap bisa menjaga kualitas dirinya. Merawat profesionalisme
kerjanya. Tanpa harus kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi. Dan terus
mengikuti perkembangan teknologi masa kini.
Kita beruntung telah diciptakan Tuhan menjadi orang beneran. Karena, itu
berarti bahwa Tuhan mengijinkan kita untuk memiliki prinsip hidup. Dan
berpegang teguh kepada prinsip hidup itu. Tuhan mengijinkan kita untuk
mengatakan ’tidak’ kepada arus yang diciptakan dan menghanyutkan manusia lain.
Kita boleh mengambil keputusan yang berbeda dengan orang lain. Terlebih lagi,
kita boleh mengukur; apakah sesuatu memberikan manfaat kepada kita dan
organisasi yang kita wakili, atau tidak. Mengapa demikian? Karena, tidak semua
hal yang ada diluar diri kita adalah baik adanya bagi kita. Dan tidak segala
perlakuan orang lain kepada kita memberikan dampak positif bagi hidup kita.
Misalnya, ketika orang lain memperlakukan kita dengan cara yang buruk; kita
memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari keburuan yang ditimbulkannya.
Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mencegah orang itu agar tidak melakukan
keburukan kepada kita. Namun, didalam diri kita ada sistem pertahanan yang
sudah dirakit oleh Tuhan. Sehingga kita bisa mempertahankan diri. Jadi,
kalaupun ada orang yang bersikap buruk kepada kita; Tuhan memberi kita
kekuasaan untuk memutuskan apakah kita mengijinkan keburukan itu merusak diri
kita, atau sekedar melintas seperti angin lalu saja.
Orang-orangan juga memiliki banyak sikap yang terpuji, misalnya; dia tidak
pernah memiliki inisiatif. Lho, tidak memiliki inisiatif kok disebut sebagai
sikap terpuji? Oh, tentu saja. Sebab, setiap petani seperti kami sama sekali
tidak menginginkan orang-orangan sawah kami memiliki inisiatif. Bayangkan
kalau dia berinisiatif untuk mengejar burung-burung itu? Atau, dia berinisiatif
untuk mengusulkan sebuah gagasan brilian kepada kami? Kami tidak akan senang
dibuatnya. Malah kami ketakutan karenanya. Sebab, fitrah dari orang-orangan
sawah adalah; pasrah kepada titah, perintah dan perlakuan siapapun kepadanya.
Itulah orang-orangan. Mereka memiliki sepenuhnya sikap ’tidak memiliki
inisiatif’. Merekalah pemilik 100% sikap itu. Ehm, bukankah itu berarti bahwa
orang beneran sama sekali tidak berhak memiliki sikap ’tidak memiliki
inisiatif’? Oh, ya tentu saja. Karena sikap itu belongs to orang-orangan. Tuhan
telah memberikannya kepada orang-orangan. Sebagai gantinya, Tuhan menganugerahi
orang beneran seperti kita dengan sifat ’mengendalikan hidup’. Melalui akal
yang Dia berikan, fitrah kita adalah untuk berpikir. Sehingga, dari kepala
kita; muncul banyak inisiatif.
Makanya, agak mengherankan jika dikantor-kantor; banyak orang yang tidak
memiliki inisiatif. Mereka menunggu saja apa yang dikatakan dan diperintahkan
oleh atasan. Jika atasan diam, mereka diam. Anehnya, jika atasannya
memerintahkan untuk melakukan ini dan itu; mereka sering mengeluh. Beda sekali
dengan orang-orangan. Mereka menerima fitrahnya sebagai ’mahluk yang tidak
memiliki inisiatif’. Dan mereka konsekuen dengan akibatnya, yaitu; menerima
dengan ikhlas apapun yang dilakukan oleh tuannya. Jika petani menarik tali
sekali, dia bergoyang sekali. Jika petani menarik tali seribu kali, dia
bergoyang seribu kali. Dan dia, tidak pernah mengatakan; ”mentang-mentang elu
atasan gue, elu semena-mena memerintah gue.”
Setiap sore sepulang sekolah, saya bertemu dengan orang-orangan sawah. Setiap
kali saya bertemu dengannya, setiap kali pula saya diingatkan bahwa; ada
perbedaan kontras antara dirinya dengan saya. Kita para manusia adalah orang
beneran. Sedangkan mereka hanyalah orang-orangan. Oleh karena itu, kita perlu
memastikan bahwa kita memiliki sifat-sifat dalam fitrah orang beneran. Dan
memastikan bahwa, kita tidak mirip orang-orangan. Mengapa demikian? Karena,
ketika orang-orangan itu rusak atau usang; maka urusannya berhenti sampai
dititik itu. Tetapi, orang beneran seperti kita; jika meninggal kelak, masih
memiliki urusan. Karena setelah itu, kita akan berhadapan dengan pertanyaan
dari Tuhan; kamu gunakan untuk apakah, seluruh daya hidup yang sudah Aku
berikan?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Learning Facilitator for “Fundamental Leadership Development” Program
http://www.dadangkadarusman.com/
Catatan Kaki:
Perbedaan orang beneran dengan orang-orangan, bukanlah karena mereka terbuat
dari jerami; melainkan karena kita mempunyai kesempatan untuk membuat hidup ini
memiliki arti.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]