The community’s
concern about the slowing down and deterioration of Kandangan's village life
has prompted me to use my knowledge, skills and experience to strengthen this
village with the output of my business (Magno: The Story Behind)

Apabila berpikir desain menyarankan turun ke
lapangan untuk mendapatkan inspirasi, Singgih S. Kartono mendapatkannya dari
desa tempat kelahirannya. Ia sempat meninggalkan desanya untuk melanjutkan
perkuliahan di ITB. Tapi jarak ini membuatnya bisa mengamati desanya dari dua
posisi, orang dalam dan pengamat. Sebagai orang dalam, mau tidak mau ia
berempati, merasakan sendiri keprihatinan akan kondisi desa. Sebagai pengamat,
ia bisa berjarak dan tidak tenggelam dalam kondisi desanya. Ia sadar akan
berbagai perubahan keadaan desa. Hutan sekitar desa yang menjadi gundul. Air
yang semakin sulit didapatkan. Pendapatan per kapita yang rendah. Peralihan
pekerjaan dari desa ke kota. Keadaan ini membulatkan niatnya untuk memberikan
konstribusi langsung ke masyarakat desanya.

Terbentuk cita-cita untuk menjalankan bisnis
yang keluarannya dapat memperkuat desanya. Keluar dari jebakan cara pandang
defisit, Singgih justru mengapresiasi potensi yang ada. Ia mulai merintis
bisnis yang bisa hidup dan berkembang di desanya, sekaligus berdampak positif
kepada masyarakatnya. 
 
 “Negara kita kaya akan kayu, tapi tak
ada barang dari Indonesia yang desainnya bagus dan dikenal dunia (Sempurna
dalam Ketidaksempurnaan)
Harus ada produk
kayu dari Indonesia yang menjadi ikon dunia (dari Kandangan menuju London)
Keprihatinan akan kondisi hutan di desanya
tidak mampu menghentikan karakteristiknya sebagai desainer. Bukan solusi-solusi
biasa yang ditempuhnya. Ia justru bermimpi menciptakan produk kayu Indonesia
yang menjadi ikon dunia. Sekilas nampak kontradiktif. Prihatin akan kondisi
hutan yang gundul tetapi justru bermimpi menghasilkan produk dari kayu. Berbeda
dengan pendekatan problem solving yang reaksioner dan parsial, berpikir desain
justru menantang kita untuk menciptakan solusi inovatif yang secara sistemik
nantinya akan menyelesaikan persoalan. Adanya produk kayu yang menjadi ikon
dunia justru membalikkan pandangan masyarakat terhadap hutan dan kayu. Hutan
yang selama ini dipandang menjadi penghambat tumbuhnya tembakau, akan dipandang
berharga. Nilai kayu tidak lagi sebatas pada berat dan nilai guna, tetapi
mengandung nilai estetiknya.
 
Radio itu
sempurna karena ketidaksempurnaannya. Karena tak ada gambar, seperti halnya
televisi, masing-masing orang jadi punya imajinasi (Sempurna dalam
Ketidaksempurnaan)
Apa yang menjadi ikon dunia? Singgih
menjatuhkan pilihannya pada radio, benda yang telah mencuri perhatian dan
menjadi bahan skripsinya. Ada beberapa prinsip desain radio ini yang memicu
hasrat orang untuk memilikinya. Pertama, prinsip relasi personal dan emosional.
Radio bukan sebagai obyek bagi pemiliknya, tetapi sebagai bagian kehidupan
manusia. Dalam salah satu radionya, tidak terdapat penunjuk gelombang radio. Si 
pemilik dituntut belajar dengan perasaannya untuk
bisa mengetahui di mana letak gelombang radio melalui sentuhan tangannya. Radio
Magno tidak dilapisi bahan kimia untuk melindungi radio. Pemilik radio harud
untuk merasakan sensasi kayu sekaligus merawat radio itu. 

Kedua,
prinsip klasik, sederhana, dan esensial
(basic). Dalam pandangan Singgih, prinsip ini yang bertahan sepanjang sejarah
desain. Kesederhanaan ini melawan arus modernitas yang menawarkan multi fungsi
dalam sebuah produk. Kesederhanaan inilah yang justru membuat Radio Magno
menjadi sempurna. Orang-orang bisa punya imajinasi sendiri, punya pemaknaan
pribadi terhadap radio Magno yang dimilikinya. Radio ini memicu hasrat orang
karena ketidaksempurnaannya.

Craft is an
alternative economic activity that has the potential to be developed and to
grow in villages. It has characteristics that are suitable for villages' living
conditions and growth prospects. These characteristics are that it is labour
intensive, requires low technology and investment and abundance of local
material input (Magno: The Story Behind)
Radio Magno lahir dan diproduksi di Desa
Kandangan, Temanggung. Daerah yang jauh dari mana-mana. Mungkin ada kesangsian.
Mungkin ada yang sinis. Bagaimana mungkin produk kualitas ekspor bisa dihasilkan
oleh masyarakat desa? Sekali lagi, Singgih memberikan solusi inovatif. Ia
mendesain sistem kerajinan yang memungkinkan warga desa mampu menjalankan
aktivitas produksi sejak hari pertama bekerja. Bagi mereka yang mempunyai bakat
pengrajin, akan bisa menguasai seluruh aktivitas produksi dalam beberapa hari
kemudian. Ia membangkitkan semangat para pekerjanya untuk bekerja dengan
kualitas tinggi. Tidak saja untuk menghasilkan karya kualitas ekspor, tetapi
juga berdampak pada perkembangan positif psikologis para pengrajin.
 
…..ia menuju
pasar dan membeli radio hanya untuk diambil mesinnya. “Habis mau gimana lagi?
Ya harus dengan cara kanibal” (Sempurna dalam Ketidaksempurnaan)
……saya naik vespa
ke luar kota untuk mencari kayu bekas karena tak mampu membeli kayu banyak.
Saya memotong-motong sendiri di depan rumah (Sempurna dalam Ketidaksempurnaan)
Bagaimana Singgih mengatasi isu kapabilitas
keuangan? Berpikir desain mengajarkan bahwa solusi inovatif harus sesuai dengan
visibilitas keuangan. Keterbatasan bukannya untuk dilawan dan dimusuhi.
Keterbatasan ini harus dilampui oleh seorang pemikir desain. Cara-cara kreatif
harus ditemukan dengan tetap menjaga kesesuaian akan pemenuhan kebutuhan dan
hasrat orang. 
 
In designing, I
cannot start the process with a completed and detailed concept……For me,
designing is like a trip without a map.…Like any voyage, sometimes the
objective is very clear but the journey is blurry or sometimes both are blurry.
But in the end of the journey, I know that there will be something with a
deeper meaning which awaits me (Magno: The Story Behind)
Proses berpikir desain ini sifatnya iteratif,
bukannya linear sebagai langkah yang berurutan. Artinya, setiap langkah dapat
berulang, dapat kembali pada tahap awal, sebelum nantinya masuk ke tahap akhir.
Begitu pula Singgih mendesain Radio Magno. Ia tidak bisa memaparkan secara
runtut langkah-langkah desain yang dilakukannya. Ia mengikuti intuisinya dalam
menempuh jalan desain menuju Radio Magnonya. Seperti berpetualang, trial and
error dilakukan berkali-kali. Ia hanya yakin bahwa tujuannya satu: radio kayu.
We should
redesign the way we live and take steps towards better ways of living. (Magno:
The Story Behind)
As a designer, I strive to create designs that will
contribute to our quality of life, be it your life activities or your own
personal development (Magno: The Story Behind)
Dalam keyakinannya, desain bukan semata-mata
mengkreasikan produk yang bagus. Lebih dari itu, desain adalah menciptakan
pilihan jalan hidup yang lebih baik melalui karya yang dihasilkan. Ia menyoroti
kebiasan hidup modern yang over production
dan pergantian produk yang sangat cepat. Kebiasaan yang membuat kita menjadi
rakus dalam menggunakan sumber daya alam. Kerusakan alam adalah akibatnya. Oleh
karena itu, ia memegang teguh prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam
proses maupun karya desainnya. Penggunaan sesedikit mungkin kayu dalam
mengkreasikan karya dan penanaman kembali pohon yang digunakan. Kayu itu
kehidupan, keseimbangan dan keterbatasan. 

Proses desain seperti paparan diatas yang
mengantarkan Singgih  menciptakan
Radio Magno. Masyarakat internasional pun teresonansi oleh kedalaman nilai,
prinsip dan filosofi dibalik radio kayu nan unik tersebut. Radio Magno meraih
penghargaan Design for Asia Award dari Hongkong Design Center dan Good Design
Award – Japan pada tahun 2008. Tahun berikutnya Radio Magno menggetarkan Eropa,
terbukti dengan Design Plus Award – Ambiente Frankfurt Germany dan Brit
Insurance Design of the Year 2009 dari Design Museum, London. Ada lebih
dari 51 toko yang tersebar di 16 negara Eropa dan Jepang yang memajang Radio
Magno.
 
Dalam kasus Indonesia, penerapan berpikir
desain nampak dalam proses penciptaan Radio Magno oleh Singgih Susilo Kartono.
Pembacaannya akan keadaan desanya yang butuh lapangan kerja, kayu tropis, dan 
impian
untuk menciptakan produk yang menjadi ikon dunia membawa langkahnya untuk
membuka usaha kreatif yang berbuah mahakarya dan meraih banyak penghargaan
internasional. Lebih dari itu, Singgih membuktikan bagaimana berpikir desain
dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan dengan sebuah solusi
inovatif.

Kajian akan berpikir desain serta penerapan
yang lebih luas menjanjikan kemungkinan masa depan yang cerah. Kita tidak lagi 
perlu menyelesaikan persoalan satu demi satu, karena satu solusi inovatif 
seperti radio Magno bisa langsung menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus. 
Kita tidak lagi
sekedar menjual bahan mentah atau bahan baku, tetapi menciptakan karya-karya
yang menjadi ikon dunia. Sebuah langkah menuju terbitnya Indonesia kreatif.
Berani?



Versi lengkap dapat diakses di
http://mppo.psikologi.unair.ac.id



Singgih Susilo Kartono akan menjadi bintang tamu pada Shared Learning MPPO 
Jilid 2
9 April 2010

Pastikan anda menyaksikan cerita inspiratifnya
Langsung

SHARED LEARNING MPPO II : Pagelaran Teatrikal Partisipatif
http://mppo.psikologi.unair.ac.id/imagining/article.php?story=20100308123008735


      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke