Artikel:  Kapan Harus Membuka Dan Menutup Pintu Hati Kita?  
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Tentu kita masih ingat tentang frase ’membuka pintu hati’. Pernyataan ini tidak 
hanya berlaku untuk urusan menerima atau menolak kehadiran seseorang dalam 
hidup kita. Melainkan untuk hal apapun yang melibatkan perasaan hati. Atau 
segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Hingga 
tindakan yang akan kita ambil sebagai respon terhadap suatu keadaan. Hati 
kitalah yang menentukan apakah kita mengalah, atau melawan. Hatilah yang 
menentukan apakah kita akan mendendam atau memaafkan. Lebih dari itu, hatilah 
yang menentukan apakah kebaikan yang kita lakukan itu bernilai pahala dimata 
Tuhan atau sekedar tebar pesona dihadapan sesama manusia.   
 
Ketika tiba di rumah sore itu, saya mendapati sebuah kejanggalan. Pintu kamar 
saya tidak berdiri tegak sebagaimana biasanya. Jadi, pasti ada sesuatu dengan 
pintu itu. Benar saja. Tiang kusen tempat lazimnya sang pintu menempel jebol. 
Bagaimana bisa begitu? Ternyata bagian dalam tiang kusen itu keropos digerogoti 
oleh rayap. Padahal bagian luarnya terlihat baik-baik saja. Sama sekali tidak 
menujukkan kalau tiang kusen itu sedang menderita ’luka dalam’ yang begitu 
serius. Gara-gara kejadian itu, pintu kamar kami tidak bisa ditutup sampai 
seorang tukang kayu tuntas memperbaikinya dua hari kemudian.
 
Selama pintu kamar itu tidak bisa ditutup, saya bertanya dalam hati; mengapa 
sih pintu harus ditutup? Tanpa kita sadari, keberadaan pintu merupakan wujud 
ekspresi bahwa pada dasarnya kita tidak ingin sembarangan orang memasuki rumah 
atau ruangan-ruangan khusus yang kita miliki. Pendek kata, pintu merupakan 
bagian dari proses pertahanan diri yang sangat kita andalkan. Ini berlaku dalam 
pengertian fisik, maupun mental. Bayangkan saja, seandainya kita tidak bisa 
menutup pintu rumah kita. Sembarangan orang bisa lalu lalang melintasinya. 
Padahal, tidak semua orang memiliki itikad yang baik ketika memasuki rumah 
orang lain. Dalam konteks abstrak, pintu hati memainkan peranan untuk mencegah 
agar segala sesuatu yang kurang berkenan bagi kita tidak bisa memasuki relung 
hati. Jika kita tidak pernah menutupnya, maka segala sesuatu bisa memasukinya 
tanpa kendali. Maka, jadilah kita orang yang terombang-ambing oleh sistem nilai 
apapun yang datang dari luar. Padahal,
 belum tentu segala hal yang datang dari luar itu baik adanya bagi kita. Jika 
pengaruh dari luar itu malah menyakiti hati kita, mengapa kita mesti 
mengijinkannya masuk juga?
 
Bagaimana jika pintu rumah kita sama sekali tidak bisa dibuka? Tentu bukan 
kepatuhan semacam itu yang kita harapkan dari sang pintu. Sebab, meskipun pintu 
itu harus cukup tangguh untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak 
berkepentingan; dia juga harus sigap untuk membuka saat orang-orang yang pantas 
masuk membutuhkan akses. Persis seperti jiwa kita. Meskipun kita tidak ingin 
sistem nilai sembarangan masuk kedalamnya, tetapi ada banyak hal lain yang 
justru harus masuk kedalam sanubari kita. Karena, ada banyak penyemangat hidup 
dari luar yang bisa membesarkan hati. Dan ada banyak sistem nilai yang patut 
kita adopsi. Jika pintu hati kita juga tetap tertutup untuk hal-hal positif 
semacam itu, maka kita tidak akan pernah bisa meningkatkan nilai hidup. 
 
Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana seandainya pintu rumah kita hanya 
terbuka bagi orang-orang yang berniat buruk, dan tertutup bagi orang-orang yang 
berniat baik? Tentu rumah kita akan menjadi tempat pertemuan para penjahat. 
Tidak mustahil jika kemudian para penjahat itu malah bersarang didalam rumah. 
Sehingga, cepat atau lambat kita juga akan berubah ikut menjadi jahat. Jika 
kita tidak ingin terlibat menjadi jahat, kita harus segera minggat. Padahal, 
itu rumah kita lho. Pertanyaan selanjutnya adalah; bagaimana seandainya pintu 
hati hanya terbuka bagi sistem nilai yang buruk, dan tertutup bagi nilai-nilai 
yang baik? Bukankah lama kelamaan hati kita akan menjadi sarang bagi biang dari 
segala keburukan? Padahal, kita bisa minggat dari rumah kita; tapi tidak bisa 
lari dari hati kita.
 
Ya. Ini cuma sekedar teori. Tetapi, mari kita coba melihat realitasnya 
sehari-hari. Mulailah dengan menanyakan kepada diri sendiri; apakah kita dapat 
dengan mudah menerima nasihat-nasihat baik, dan sulit untuk menerima 
sentimen-sentimen atau hasutan negatif? Jika demikian, pasti pintu hati kita 
berfungsi dengan baik. Ketika hati kita dipenuhi oleh niat baik, perilaku kita 
juga akan semakin baik. Pertanyaan sebaliknya; apakah kita lebih mudah menerima 
energi negatif, dan sering mengabaikan  bunyi-bunyi kecil yang mengalunkan 
himbauan bisik suci? Jika demikian, pastilah pintu hati kita tidak berfungsi 
dengan baik. Ketika hati kita dipenuhi oleh niat buruk, sikap dan perilaku kita 
juga akan semakin buruk.
 
Pintu hati juga berperan dalam menyeleksi energi positif dan energi negatif. 
Contoh ekstrimnya begini. Jika ada orang yang menampar Anda. Setelah itu, dia 
memberi Anda uang satu juta rupiah. Mana yang akan anda ingat paling lama; 
tamparannya dipipi anda, atau uang satu juta rupiah yang diberikannya? Jika 
atasan anda memberikan pekerjaan yang sangat berat, serta menuntut anda dengan 
tugas menyebalkan ini-itu . Lalu, diakhir tahun anda mendapatkan kenaikan gaji 
double digit. Anda lebih mengingat ’perlakuan menyebalkan’ dari atasan anda 
atau kenaikan gaji Anda yang sudah susah payah diperjuangkannya kepada 
managament? 
 
Jika kita dikecewakan oleh seseorang, kita sering terus mengingat kekecewaan 
itu sepanjang hidup kita. Tetapi, jika seseorang melakukan kebaikan pada kita, 
maka kita dapat melupakan kebaikan orang itu hanya dalam hitungan hari saja. 
Kita sering lupa bahwa seseorang telah berbuat baik pada kita. Kita lebih 
sering menerima sugesti berisi komplain kepada pekerjaan daripada berucap 
syukur sekalian mengatakan; ”Tuhan, terimakasih bulan ini Engkau telah kembali 
memberi kami rezeki yang halal lagi baik.” Kita lebih mudah mengingat 
peristiwa-peristwa yang mengecewakan di kantor daripada pelajaran-pelajaran 
penting yang kita peroleh dari ruang-ruang training. 
 
Begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita sering keliru memerintahkan 
sang pintu hati untuk membuka dan menutup. Seharusnya, pintu hati kita tertutup 
untuk sifat dendam sehingga kita bisa menjadi manusia pemaaf. Kita boleh terus 
mengingat perilaku buruk orang lain kepada kita. Tujuannya, untuk menjaga diri 
agar jangan sampai orang itu dapat dengan mudah memperlakukan kita tanpa sopan 
santun dan kepantasan tindakan. Bukan untuk memelihara dendam. Sebab, ketika 
kita memeliharan dendam; seolah kita tidak percaya bahwa Tuhan akan memberikan 
balasan yang sepadan.
 
Seharusnya, pintu hati kita terbuka kepada nilai-nilai kebaikan sehingga 
semakin hari, kita bisa menjadi manusia yang semakin baik. Kita boleh mengambil 
sebanyak mungkin sistem nilai yang baik. Sehingga kita mempunyai begitu banyak 
referensi untuk menjadikan jiwa kita semakin baik. Tujuannya, untuk memberi 
diri kita berbagai alternatif sehingga semakin mudah untuk melakukan kebaikan. 
Jika kita tidak bisa melakukan kebaikan yang ini, masih ada refensi kebaikan 
lain yang itu. Jika kita tidak bisa membantu dengan materi, misalnya; maka kita 
bisa meringankan dengan kalimat-kalimat penghiburan.
 
Apakah ada orang yang menutup pintu hatinya untuk hal-hal positif? Banyak. 
Bahkan, bisa jadi kita juga demikian. Buktinya, betapa sering kita mencibir 
saat seseorang menyeru kita untuk menjauhi sifat curang? Betapa seringnya kita 
mengabaikan hibauan untuk menjalankan amanah yang kita emban dengan 
sebaik-baiknya, bukan malah mengkhianatinya. Dan betapa banyak pelajaran 
berharga yang disampaikan oleh seorang teman, namun kita meresponnya dengan 
mengatakan; ’apa urusan elu?’
 
Selama dua hari itu, kami tidak bisa leluasa melakukan aktivitas didalam kamar. 
Saat itu, seolah kami tengah disadarkan bahwa pintu merupakan sebuah komponen 
penting dalam hidup kita. Karena pintu bisa mencegah masuknya nilai-nilai buruk 
kedalam diri kita. Dan pintu harus mampu menjadi akses sesuatu yang baik untuk 
kebaikan hidup kita. Dengan kata lain, pintu hati kita harus bisa terbuka untuk 
memberi jalan masuknya kebaikan kedalam hati, sekaligus menjadi jalur 
pembuangan sifat-sifat buruk yang kita miliki. Lebih dari itu, pintu hati kita 
juga harus bisa kita tutup supaya tidak sembarangan sistem nilai buruk 
mempengaruhi diri kita. Sekaligus menjaga agar jangan sampai sifat-sifat baik 
yang kita miliki berceceran. 
 
Apakah sifat baik kita bisa berceceran? Bisa. Karena, setiap manusia dilahirkan 
dalam keadaan suci. Itulah sebabnya, sewaktu masih kecil; kita semua adalah 
manusia-manusia yang berhati tulus. Berpandangan positif. Berpikiran jernih. 
Berniat baik. Namun, setelah beranjak dewasa kita sering bertingkah sebaliknya. 
Seolah kita tidak pernah memiliki sifat-sifat baik itu dimasa lalu. Padahal, 
seperti yang pernah disampaikan oleh guru mengaji saya sewaktu kecil;”Tuhan 
telah mengilhamkan kepada setiap jiwa nilai-nilai kebaikan dan keburukan. 
Beruntunglah orang yang mensucikannya. Dan merugilah orang-orang yang 
mengotorinya.” Bersih dan kotornya jiwa seseorang sangat ditentukan oleh baik 
dan buruknya sesuatu yang keluar masuk kedalam hatinya. Sedangkan baik atau 
buruknya sesuatu yang masuk kedalam hati seseorang, sangat ditentukan oleh 
fungsi pintu hatinya. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Learning Facilitator  of “Fundamental Leadership Development” Program
http://www.dadangkadarusman.com/  
 
Catatan Kaki:
Membuka pintu hati agar hal-hal baik bisa masuk sama pentingnya dengan 
membukanya untuk membuat sifat-sifat buruk keluar darinya. 
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke