Curhat: Kado Terbaik Bagi Seseorang Yang Kita Cintai
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kali ini saya tidak memposting artikel. Melainkan hendak curhat saja. Jadi,
mungkin ini tidak terlampau bermanfaat bagi Anda. Silakan treat tulisan ini
sekedarnya saja.
Jika orang yang anda cintai berulang tahun, anda memberinya kado apa? Kecupan
dikeningnya sudah pasti. Tetapi, selain ungkapan kasih sayang seperti itu saya
yakin anda sangat ingin memberinya sesuatu yang berharga. Cincin berlian,
misalnya. Atau sebuah hand phone canggih. Bahkan mobil atau rumah baru. Mengapa
sih kita memberinya hadiah? Karena kita ingin menunjukkan betapa kita sangat
mencintai dirinya. Namun, kadang kita keliru mendefinisikan cinta’ itu.
Misalnya, orang tua yang membelikan kado berupa sepeda motor kepada anaknya
yang belum genap berusia 17 tahun. Padahal itu sangat beresiko bagi keselamatan
anaknya sendiri. Lagipula, apakah kado ulang tahun harus berupa benda-benda
mahal seperti itu?
Beberapa belas tahun lalu, seorang perempuan cantik yang saya cintai berulang
tahun. Padahal, saya tidak termasuk orang yang mampu memberikan kemewahan dan
hadiah-hadiah berharga mahal. Itu jika saya boleh mengganti kata ’bokek’ dengan
ungkapan yang lebih halus. Tetapi, saat itu saya bersedia menyerahkan hal
terbaik yang saya miliki kepadanya. Yaitu diri saya sendiri. Maka, dihari ulang
tahunnya itu saya menyerahkan diri saya sendiri melalui sebuah janji untuk
setia mengarungi sisa hidup yang saya miliki. Sejak saat itu, hari ulang tahun
kelahirannya adalah juga hari ulang tahun pernikahan kami.
Kemarin, saya kedatangan tamu. Seorang teman lama yang dulu sering berbagi
cerita dan pekerjaan sewaktu kami masih sama-sama bekerja. Seperti kebanyakan
orang lainnya, kami pun tenggelam dalam kisah-kisah masa silam. Lalu,
pertanyaan: ”Sekarang si ini dimana?” dan ”Si itu sudah jadi apa, ya?”
berseliweran disela-sela tawa. Semua yang kami tanyakan tentulah orang-orang
yang pernah dekat dengan kami. Dan teman saya ini adalah orang yang memiliki
kemampuan untuk menghimpun banyak sekali informasi. Sehingga darinya, saya bisa
mengetahui hal-hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kami
ikut merasa senang ketika mendengar teman-teman berhasil meraih pencapaian yang
lebih tinggi. Kami juga ikut bersedih ketika ada teman yang kurang beruntung.
Namun, diantara senang dan susah itu ada juga yang membuat saya tidak tahu
apakah harus ikut senang. Atau bersedih. Bahkan saya tidak sepenuhnya
mempercayai kisah itu. Tahukah Anda mengapa?
Teman saya bercerita tentang sahabat kami yang dikenal begitu baik dan taat.
Namun, dalam perjalanan selanjutnya setelah kami berpisah beliau dikabarkan
bermasalah dengan sebuah keluarga lain. Mungkin dia khilaf karena ’mendekati’
perempuan bersuami hingga menimbulkan masalah dikemudian hari. Dari dulu, saya
tidak tertarik mendengar hal-hal seperti itu. Saya memilih untuk ’menjadi tidak
tahu’ tentang hal itu. Tapi kali ini, saya ngeri mendengarnya karena dua hari
lagi adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Saya tidak tahu, apakah bisa
tetap istikomah untuk terhindar dari hal serupa itu atau tidak. Tetapi malam
itu, seolah saya mendapatkan kado berupa sebuah nasihat tentang contoh yang
tidak perlu ditiru.
Keesokan harinya, saya membaca dimedia masa dan menyaksikan dilayar televisi.
Seorang selebriti mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan permohonan maaf
karena telah menyebabkan rumah tangga seseorang berantakan. Untuk kedua kalinya
saya mendapatkan kado ulang tahun pernikahan. Mudah-mudahan, tidak ikut
terseret arus sedemikian. Tidak mudah memang. Terutama ketika kita sering
bepergian. Berinteraksi dengan jenis manusia yang beragam. Membuat godaan demi
godaan seolah menjadi santapan harian. Sahabat saya bilang;”Jangan pernah
memulainya,” katanya. Karena menurutnya; sekali mencoba, sangat sulit untuk
menghentikannya. Mungkin memang demikian. Saya hanya bisa bertanya-tanya dalam
hati; ’Adakah kado yang lebih baik dari kesetiaan?’
Hari ini istri saya berulang tahun. Anak pertama kami memberinya 30 lembar
voucher pijat gratis yang bisa di klaim ibunya untuk mendapatkan pijatan
darinya selama 30 hari. Anak kedua kami mengirimkan dua buket bunga tanda
cinta. Anak ketiga kami yang masih TK, bahkan memberinya hadiah ’ulang tahun
setiap hari’ dengan sekuntum bunga mungil yang dipetiknya dari halaman rumah.
Ditambah kecupan dipipi kiri dan kanan. Saya harus memberi kado apa ya? Tidak
mungkin saya memberikan diri saya lagi, karena sudah menjadi miliknya sejak
ijab kabul dulu. Kali ini, saya hanya bisa memberinya kado berupa buku yang
saya tulis sendiri. Sebuah penerbit telah berbaik hati menerbitkannya untuk
kami. Dan istri saya, menjadi orang pertama yang mendapatkannya.
”Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk? Kok judulnya aneh begini sih?”
”Biar saja.” saya bilang. ”Supaya menjadi pelajaran bagi kita untuk membebaskan
diri dari sifat serakah.” Seserakah-serakahnya nyamuk, dia pasti berhenti
rebutan materi ketika perutnya sudah kekenyangan. Kita? Tidak tahu kapan harus
berhenti. Karena kita memiliki gudang penyimpanan yang melebihi perut. Sehingga
sifat serakah kita nyaris tidak ada batasnya. Semoga buku itu menjadi panduan
bagi kami untuk semakin memupuk rasa syukur. Sebab, jika rasa syukur itu tumbuh
subur. Mungkin kami tidak perlu lagi melirik kekanan dan kekiri. Rasa syukur
itu menghidupkan ketentraman hati. Sehingga, kita tidak panas hati ketika
melihat orang lain lebih ini dan lebih itu. Dan rasa syukur, bisa menyelamatkan
kita dari dorongan untuk mengambil materi yang bukan hak kita. Karena dengan
rasa syukur, kita berterimakasih kepada Tuhan. Tanpa menuntut-Nya untuk
memberikan sesuatu yang belum tentu baik dimata-Nya.
Kalau orang yang Anda cintai berulang tahun; kado terbaik apa yang Anda
persembahkan kepadanya? Sampai sekarangpun saya masih ragu; ’Adakah kado yang
lebih baik dari kesetiaan?’ Barangkali, kita bisa memulai dengan permohonan
maaf yang tulus kepadanya. Atas semua yang pernah kita lakukan dimasa lalu.
Kemudian memulai ikrar baru. Untuk menyerahkan diri kita kepadanya. Seutuhnya.
Semoga.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
http://www.bukudadang.com/
Penulis Buku ” Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk”
Catatan Kaki:
Tidak ada kesalahan yang tidak termaafkan, ketika sesal yang tulus mengiringi
permintaan maaf yang kita ucapkan.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
--------------------------------
Buku terbaru Dadang Kadarusman "Melampaui keserakahan Seekor Nyamuk" sudah bisa
dipesan di http://www.bukudadang.com/
[Non-text portions of this message have been removed]