Artikel: Demonstrasi Karyawan Yang Disukai Perusahaan    
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh sedunia. Setiap kali 
memperingatinya,  para buruh sedunia melakukan demonstrasi untuk menuntut 
perbaikan nasib mereka. Sayangnya kita sering melihat demontrasi buruh itu 
cenderung menjadi kegiatan kontra produktif. Terutama karena buruh nyaris 
selalu dicitrakan sebagai lawan bagi management. Ini ironis. Karena pakem ilmu 
management mengatakan bahwa buruh itu adalah aset terpenting bagi perusahaan. 
Tetapi, antara buruh dengan menangement seolah nyaris selalu berseberangan. 
 
Ironi yang kedua adalah, kita sering dikelirukan oleh definisi ’buruh’ yang 
salah. Menurut anggapan kita, buruh adalah pegawai kelas rendah di perusahaan. 
Padahal, sekalipun Anda seorang Direktur Utama sebenarnya Anda juga adalah 
buruh seperti mereka. Bedanya? Anda menduduki posisi yang tinggi, sedangkan 
mereka berada pada strata yang paling rendah. Paradigma ini penting, supaya 
kita bisa mendudukan permasalahan buruh ini pada proporsi yang tepat. Selama 
management belum benar-benar memandang buruh sebagai aset paling penting 
perusahaan, kita tidak akan pernah bisa menemukan keselarasan. Mengapa 
demikian? Karena dengan sudut pandang itu management tidak akan memperlakukan 
buruh dengan baik. Sedangkan buruh, akan terus menerus merongrong melalui 
tuntutan-tuntutan atas perbaikan nasib dan kesejahteraan. 
 
Salah satu penyebab utama mengapa para buruh memilih untuk turun ke jalan 
adalah karena mereka tidak memiliki nilai tawar di ruang-ruang pertemuan. 
Sehingga jalan menjadi satu-satunya arena pelampiasan. Padahal setiap kali 
buruh melakukan demonstrasi, lebih banyak lagi pihak yang mengalami kerugian. 
Apakah buruh tidak boleh turun ke jalan? Kadang-kadang turun ke jalan bisa 
menjadi pendobrak pintu para pengambil keputusan yang terlalu angkuh dalam 
ketertutupannya. Para penyelenggara negara juga terkadang harus digedor dengan 
kehebohan besar sebelum memainkan perannya sebagai regulator tertinggi. Namun, 
kita harus sudah mulai memikirkan strategi demonstrasi yang lebih efektif. 
Yaitu, proses demonstrasi yang tidak usah berdarah-darah. Tidak menimbulkan 
kehebohan, serta tidak menyebabkan tertundanya proses produksi perusahaan. 
Apakah bisa melakukan demo yang demikian? Bisa. Mari saya tunjukkan.
 
Pertama-tama, kita mesti memahami sistem nilai (believe) yang digunakan dalam 
pengelolaan bisnis perusahaan. Ada 3 sistem nilai utama yang dipegang teguh 
oleh petinggi perusahaan manapun. Pertama, penghematan biaya (cost 
effectiveness). Kedua, pengoptimalan produksi (productivity). Dan yang ketiga, 
daya saing (competitiveness). 
 
Posisi karyawan memiliki keterkaitan langsung terhadap ketiga believes itu. 
Makanya, memberikan gaji serendah mungkin dan menekan ongkos kesejahteraan 
karyawan menjadi jalan pintas yang masih diterapkan dibeberapa perusahaan. Hal 
ini berkaitan dengan sistem nilai pertama dan kedua. 
 
Bagaimana dengan yang ketiga? Perusahaan apapun, keberlangsungan bisnis jangka 
panjangnya sangat ditentukan oleh kemampuan mereka untuk bersaing. Oleh 
karenanya, daya saing atau competitivesness merupakan agenda yang menempati 
posisi tertinggi didalam benak para pengambil keputusan atau top management. 
Sedangkan daya saing itu, tidak pernah bisa dilepaskan dari peran para 
karyawan. Oleh sebab itu, jika perusahaan ingin memiliki daya saing yang tinggi 
maka satu-satunya cara adalah dengan memiliki karyawan yang berkualitas tinggi.
 
Setelah memahami ketiga believes itu, mari kita mulai merancang strategi untuk 
melakukan demo karyawan yang lebih efektif. Dimulai dengan visi. Setiap demo 
karyawan harus mengikuti visi yang berbunyi: ”Menjadikan Karyawan Sebagai Mitra 
Sejajar Bagi Perusahaan”. Selanjutnya, misi. Setiap pelaku demo karyawan harus 
berpegang teguh kepada misi yang berbunyi: ”Melakukan demonstrasi secara 
simpatik dan elegan untuk memperjuangkan kepentingan karyawan dan perusahaan”. 
Setelah itu, barulah kita membuat grand strategynya, yaitu: ”Bergerak mengikuti 
alur berpikir para pengelola perusahaan”.
 
Visi dan misi membantu kita untuk menjaga agar demonstrasi karyawan tetap 
berada dalam koridor yang benar. Sedangkan strategy memberikan arahan tentang 
pelaksanaan demo itu dilapangan. Mari kita membahas taktik demo efektif sesuai 
dengan grand strategy yang kita rancang diatas. Kita sudah mengetahui alur 
berpikir para top management, yang tiada lain adalah ketiga believes yang sudah 
kita bahas tadi. Jika kita mampu mendukung usaha-usaha top management untuk 
mewujudkan ketiga believes itu, maka kita akan bisa mewujudkan Visi untuk 
menjadikan karyawan sebagai mitra sejajar perusahaan. Bagiamana 
implementasinya? Mari, akan saya beberkan.
 
Cost effectivess (believe pertama). Para karyawan harus memahami bahwa top 
management yang hebat sudah sejak lama menyadari jika penghematan biaya itu 
tidak hanya bisa dilakukan dengan cara membayar gaji dan kompensasi yang rendah 
kepada karyawan. Justru yang paling utama adalah memperbaiki proses produksi, 
atau proses bisnis yang selama ini diterapkan. Dibagian mana karyawan bisa 
berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan kemauan untuk 
memperbaiki cara mereka melakukan pekerjaan. 
 
Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah bekerja dengan 
sebaik-baiknya? Jika anda masih sering mengobrol dengan teman pada saat mesin 
sedang beroperasi, maka itu menunjukkan bahwa cara anda bekerja menimbulkan 
resiko biaya bagi perusahaan. Jika terjadi kegagalan produksi gara-gara 
kelalain anda itu, maka tujuan top management tidak tercapai. Contoh lain yang 
terjadi di pabrik; seorang karyawati mengalami kecelakaan kerja karena 
membiarkan rambutnya terurai panjang pada saat mengoperasikan mesin pemintal 
benang. Karena kecelakaan itu, mesin berhenti berproduksi dan perusahaan harus 
mengeluarkan biaya pengobatan. Hal-hal semacam ini, bisa dihindari jika seluruh 
karyawan mendemonstrasikan perilaku yang tepat ditempat kerja. Mengindahkan 
peraturan perusahaan. Dan menyokong usaha perusahaan untuk mewujudkan zero 
accident. Itu adalah contoh pelaksanaan demonstrasi sejalan dengan believes top 
management yang pertama.
 
Productivity (believe kedua). Para karyawan harus menyadari bahwa para pemegang 
jabatan tinggi diperusahaan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya 
dihadapan para pemegang saham. Sedangkan ukuran realistis bagi para pemegang 
saham adalah sampai sejauh mana uang yang diinvestasikannya menghasilkan 
keuntungan. Itu berkaitan dengan produktivitas. Dibagian mana karyawan bisa 
berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan komitmen 
mereka untuk memperhatikan kualitas kerja dan penggunaan jam kerja yang 
diamanatkan oleh perusahaan.
 
Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah mengedepankan 
kualitas kerja daripada melakukannya secara asal-asalan? Jika anda masih sering 
terlambat masuk ke kantor, atau mengambil waktu jam makan siang lebih lama dari 
yang seharusnya, maka itu menunjukkan bahwa cara anda bekerja menimbulkan 
jatuhnya tingkat produktivitas perusahaan. Jika produktivitas perusahaan tetap 
rendah setelah pekerjaan itu diberikan kepada Anda, maka tujuan top management 
tidak tercapai. Contoh lain yang terjadi di kantor-kantor; seorang karyawan 
kepergok atasannya bermain games komputer pada jam kerja. Karena itu, waktu 
kerjanya menjadi berkurang, dan tentu saja produktivitas pun berkurang. Hal-hal 
semacam ini, bisa dihindari jika seluruh karyawan mendemonstrasikan komitmen 
yang tinggi terhadap pekerjaan. Bekerja sungguh-sungguh. Dan menyokong usaha 
perusahaan untuk meningkatkan produktivitas. Itu adalah contoh pelaksanaan 
demonstrasi sejalan dengan believes top
 management yang kedua.
 
Competitiveness (believe ketiga). Para karyawan harus menyadari bahwa 
perusahaan tidak akan bisa bertahan jika kalah bersaing dari lawan-lawannya. 
Jadi, jika top management memaksa kita untuk tangguh dalam bersaing sebenarnya 
mereka sedang memperjuangkan kepentingan kita juga. Dibagian mana karyawan bisa 
berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan kesediaan 
untuk mencurahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, serta berupaya untuk 
terus menerus meningkatkan diri. 
 
Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah mengoptimalkan 
potensi diri anda dalam menangani pekerjaan? Juga perlu direnungkan apakah Anda 
terus memacu diri untuk belajar dan mengasah keahlian? Jika anda masih berkutat 
dengan sekedar memenuhi job-description, maka itu menunjukkan bahwa cara anda 
bekerja menempatkan perusahaan pada kelompok mediocre, alias tidak memiliki 
keunggulan. Jika para karyawannya hanya bekerja sebatas itu, maka tujuan top 
management tidak tercapai. Contoh lain yang terjadi di lingkungan kerja adalah; 
seorang karyawan mengeluh ketika kepadanya diserahkan tugas yang lebih banyak. 
Menurutnya, gaji kecil kok harus kerja banyak? Karena sikapnya seperti itu, 
maka karyawan yang hebat diperusahaan lain akan dengan sangat mudah mengalahkan 
mereka. Hal-hal semacam ini, bisa dihindari jika seluruh karyawan 
mendemonstrasikan dedikasi yang tinggi kepada profesi dan diri mereka sendiri. 
Mendorong proses pertumbuhan perusahaan.
 Dan menyokong usaha perusahaan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya 
manusianya. Itu adalah contoh pelaksanaan demonstrasi sejalan dengan believes 
top management yang ketiga.
 
Tidak ada top management yang akan menentang jika Anda bisa melakukan demo 
seperti itu. Artinya, itulah cara berdemo yang efektif bagi para buruh. Sebab, 
ketika buruh bisa berdomo dengan cara seperti itu; maka managament bukan 
sekedar bersedia memberikan gaji yang anda tuntut. Mereka akan membayar anda 
jauh lebih tinggi dari itu. Memberi fasilitas yang melimpah. Serta membuka 
kesempatan yang seluas-luasnya. 
 
Sekarang, kepada Anda sudah disodorkan alternatif berdemo yang jauh lebih baik 
dan lebih efektif. Silakan tentukan sendiri, cara berdemo mana yang akan Anda 
pilih. Cara lama yang menguras begitu banyak energi, kehebohan dan kericuhan 
itu? Atau, cara baru yang saya tawarkan disini. Jika Anda memilih cara baru 
ini, saya mengucapkan selamat. Karena pada tahap ini, nilai diri Anda sebagai 
seorang karyawan sudah menanjak tinggi. Bagaimana jika setelah melakukan semua 
itu perusahaan tetap menyepelekan kita? Tenang saja. Sebab, jika Anda mengikuti 
strategi demonstrasi ini dengan baik, maka Anda akan menjadi karyawan yang 
sangat handal. Sehingga di pasar tenaga kerja; harga anda, sangatlah mahal.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Penulis Buku: “Ketika Kuda, Semut Dan Gajah Bekerja”  
www.bukudadang.com/  dan www.dadangkadarusman.com/   
 
Catatan Kaki:
Kita tidak pernah tahu, pada langkah keberapa keberhasilan itu akan menjadi 
milik kita. Sama seperti halnya para pemecah batu yang tidak tahu pada pukulan 
keberapa batu besar itu bisa terbelah menjadi dua.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
kunjungi www.bukudadang.com 
--------------------------------
Buku terbaru Dadang Kadarusman "Melampaui keserakahan Seekor Nyamuk" sudah bisa 
dipesan di http://www.bukudadang.com/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke