Artikel: Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang Kaya?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Maaf, judul bagian ini bukanlah iklan sebuah pelatihan untuk menjadikan anda 
orang kaya. Selain karena saya tidak memiliki program pelatihan semacam itu, 
saya juga tidak tahu bagaimana caranya membuat seseorang menjadi kaya. Sampai 
saat ini saya baru memiliki kesempatan untuk sama-sama mengajak merenungkan 
tentang bagaimana cara kita memandang kekayaan. Konon, dari hal sederhana 
semacam ini saja sudah bisa ketahuan apakah seseorang berbakat untuk menjadi 
manusia kaya atau tidak. Makanya, Anda bisa mengerti mengapa sampai sekarang 
saya belum menjadi orang kaya.
 
Saya baru selesai melakukan aktivitas di fitness center. Setelah membersihkan 
diri, saya menuju ke loby untuk menanti istri saya yang menjemput. Di loby itu 
terdapat sebuah kursi panjang yang bisa diduduki oleh tiga orang. Saya 
mendapati seorang Bapak tengah duduk disana. Setelah mengucapkan permisi, saya 
duduk disampingnya. Lalu membuka laptop kembali. ”Wah, kerja terus, nih....” 
beliau menyapa ramah begitu layar notebook saya menyala. Saya bilang, ”Sambil 
menunggu istri saya memjemput, Pak.” begitu saya menjawab.
 
”Bekerja dalam bidang apa?” lanjutnya. Sesaat kemudian beliau mengetahui kalau 
saya menjalani profesi sebagai penulis jika sedang tidak ada tugas untuk 
memfasilitasi program pelatihan. 
 
”Oh, Anda seorang trainer, ya?” 
Saya mengangguk. ”Jika Bapak lebih senang menyebutnya demikian....” 
”Motivator, begitu?” orang ini menjadi semakin menyenangkan. 
”Nah, kalau itu bukan.....” Saya bilang. ”Soalnya saya tidak tahu bagaimana 
cara memotivasi orang.”  saya melanjutkan ”Saya sendiri masih sangat 
membutuhkan motivasi.”
 
”Tapi, buku-buku Anda kelihatannya menunjukkan itu.” Seseorang yang penuh 
perhatian.
Saya menjelaskan kalau memang kadang-kadang saya diminta untuk membawakan topik 
training semacam itu. Jika saya mampu, ya ayo saja. Tetapi sebenarnya program 
utama yang saya bawakan berhubungan dengan Management, Leadership, 
Communication, dan Productivity Enhancement.  Untuk memperkuat itu, lalu saya 
menyerahkan kartu nama. Ketika beliau membalas dengan sebuah kartu nama juga, 
saya jadi tahu kalau ternyata beliau adalah seorang trainer juga. Karena merasa 
diri lebih muda, secara otomatis saya memposisikan diri untuk lebih mendengar 
dari beliau. Siapa tahu dari pertemuan ini saya bisa belajar suatu ilmu. Benar 
saja. Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan insight dari beliau. Sebuah 
ciri khas trainer yang handal.
 
”Saya punya sebuah teka-teki,” katanya. ”Tolong Mas Dadang jawab ya.” Saya 
mengiyakan, selama saya mampu untuk melakukannya. Lalu pada selembar kertas 
kecil beliau menuliskan tujuh kata. Berani, Kaya, Kasih, Memberi, Syukur, 
Menerima, Sehat. Kira-kira begitulah. Kemudian beliau meminta saya untuk 
mengurutkan berdasarkan prioritas diri saya sendiri. Nomor satu prioritas 
tertinggi, sedangkan nomor 7 untuk prioritas terendah. Setelah memberikan skor 
berdasarkan prioritas pribadi, saya mengembalikan kertas itu kepadanya. 
 
”Mas Dadang,” katanya. ”Berdasarkan penelitian, sekitar sembilan puluh persen 
orang yang ditanya dengan daftar ini menempatkan kata ’kaya’ pada urutan yang 
paling rendah. Dinomor 6 atau nomor 7.” katanya. Seketika itu juga saya 
menyadari kalau kata ’kaya’ menjadi prioritas saya yang nomor 6. Berarti saya 
termasuk kebanyakan orang, dan saya segera mengerti konsekuensinya. ”Saya 
pernah membaca buku,” lanjut beliau. ”Dalam buku itu dijelaskan seandainya 
seluruh uang yang ada di dunia ini dikumpulkan lalu dibagi rata kepada semua 
orang maka setiap orang akan kebagian sekitar 25 Milyar.”  Saya 
mengangguk-anggukan kepala.
 
Lalu beliau melanjutkan, ”Namun setahun kemudian, sekitar 90% uang itu akan 
kembali dimiliki oleh 5% orang. Anda mengerti maksudnya?” Hmmh, sebuah 
pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.  Rupanya itulah kaitan antara 
meletakan kata ’kaya’ pada prioritas rendah dengan kepemilikikan uang. Mungkin 
itu juga alasannnya mengapa sampai sekarang saya belum kaya juga, haha.
 
Bagaimanapun juga, segala sesuatunya bisa masuk akal. Mari kita lupakan soal 
seerapa akuratnya angka-angka yang tadi kita sebutkan. Tapi, fakta bahwa saya 
menempatkan kata ’kaya’ siurutan ke-6 dalam prioritas hidup menegaskan jika 
saya tidak mungkin mengalokasikan sebagian besar potensi dan kapasitas yang 
saya miliki untuk mencari uang. Jika saya tidak mengerahkan seluruh atau 
sebagian besar daya hidup untuk mencari uang, mana mungkin saya bisa mewujudkan 
pencapain tertinggi dalam bentuk kekayaan? Begitulah logikanya. Anda pun pasti 
demikian bukan? Jadi, pelajaran penting yang saya dapatkan dari pertemuan ini 
berbunyi, ”Kalau kamu mau kaya, jadikanlah kata ’kaya’ sebagai prioritas 
hidupmu.”
 
Apakah saya tidak ingin kaya? Sejujurnya saya tidak tahu. Soalnya yang melekat 
dalam diri saya dari dulu sederhana saja, yaitu ingin serba berkecukupan. Jika 
saya ingin ini uang saya cukup, jika ingin itu juga cukup. Padahal, banyak hal 
yang ingin saya lakukan dalam hidup. Sehingga untuk mewujudkannya tidaklah 
mungkin kecuali jika saya memiliki dana yang cukup. Apakah itu termasuk ingin 
kaya? Entahlah. Yang jelas, sampai sekarangpun jika saya harus memilih ’kaya’ 
atau ’syukur’ tetap saja saya memilih syukur diurutan tertinggi. Soalnya, 
setiap kali saya memperhatikan jemari tangan saya memijit key board laptop 
disana saya melihat keajaiban. Saya tidak bisa membayangkan jika Tuhan 
mengurangi jari-jari tangan ini. Saya tidak tahu lagi mesti bagaimana 
menuangkan gagasan tanpa jemari tangan. 
 
Lalu saya membayangkan kedua mata ini. Saya belum menemukan harga yang tepat 
seandainya boleh ditukar dengan sejumlah uang. Jantung ini. Sepasang telinga. 
Kaki, paru-paru dan segala sesuatu yang Tuhan lekatkan didalam diri saya. 
Istri, anak-anak, ayah dan ibu kami. Semuanya. Jika saya harus mendahulukan 
’kaya’ dari ’syukur’ dan ’kasih’ maka itu bertentangan dengan panggilan hati 
saya.  Saya beruntung hari ini bisa bertemu dengan kenalan baru itu. Sebab dari 
pertemuan itu saya jadi semakin menyadari betapa banyaknya hal yang mesti saya 
syukuri. 
 
Ketika kendaraan yang menjemput saya tiba, saya segera pamit kepada beliau. 
Sebelum berpisah, saya mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh saya rasakan 
dihari itu. Saya bilang,”Saya belum kaya, Pak. Masih sering pusing memikirkan 
bagaimana cara menafkahi keluarga. Tapi entah mengapa, sewaktu saya sembahyang 
Ashar tadi saya kok merasa seperti orang yang sangat kaya.” Kami bersalaman, 
lalu berpisah dengan kesepakatan untuk terus menjalin silaturahmi. 
 
Saya terkenang Firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Suci. ”Jika kamu 
bersyukur, maka akan Aku tambah nikmatku lebih banyak lagi.” demikian kata 
Tuhan. ”Tetapi jika kamu tidak bersyukur, sesungguhnya siksaanku sangatlah 
pedih.” Sekarang saya tahu bagaimana caranya untuk kaya hanya dengan dua 
langkah sederhana. Langkah pertama berusaha, langkah kedua bersyukur. Apapun 
yang kita dapatkan dari hasil ikhtiar merupakan modal untuk memperoleh 
kepemilikan berikutnya seperti yang Tuhan janjikan. Sesuai janji Tuhan, ikhtiar 
tanpa henti akan mengantarkan kita kepada sebuah pencapaian. Sedang rasa syukur 
yang terus menerus menjamin tambahan dari Tuhan. Dengan demikian, kekayaan yang 
kita dapatkan nanti bukan hanya banyak dalam hal jumlah. Namun nilainya juga 
penuh dengan berkah.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Penulis Buku dan Training Facilitator  
www.bukudadang.com/  dan www.dadangkadarusman.com/   
 
Catatan Kaki:

Sangatlah penting untuk menjadi orang kaya dengan harta dan kekayaan yang penuh 
berkah. Namun berkah, tetap lebih bernilai daripada jumlah.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
kunjungi www.bukudadang.com 

--------------------------------
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah bisa dipesan di 
http://www.bukudadang.com/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke