Artikel: Hari Ketika Setiap Jiwa Dibangkitkan Kembali
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Tidak semua negara didunia memiliki momentum yang disebut sebagai Hari
Kebangkitan Nasional alias Harkitnas. Bangsa Indonesia memiliki dan
merayakannya setiap tanggal 20 Mei. Sayangnya, kita sering terlampau jauh
memaknai kebangkitan sebagai agenda sebuah bangsa. Padahal, kebangkitan yang
paling hakiki bermula dari proses bangkitnya nilai-nilai positif sebuah
pribadi. Sebuah bangsa bisa bangkit, hanya jika sebagai individu kita mampu
bangkit. Jika dihadapkan kepada kesulitan hidup, kita bangkit untuk mencari
solusi yang konstruktif. Kalau mengalami kegagalan, kita bangkit untuk terus
mengerahkan segenap kemampuan. Saat patah hati, kita bangkit dari kesedihan
lalu meneruskan perjuangan. Jika dihadapkan kepada persaingan bisnis yang
semakin keras, kita bangkit untuk terus gigih. Kita juga perlu bangkit dengan
cara mengurangi perilaku buruk untuk kemudian memperbanyak tindakan-tindakan
yang lebih bermartabat. Sebagai individu, bukankah makna bangkit yang
seperti itu jauh lebih konkrit?
Jika setiap individu berhasil bangkit, secara otomatis bangsa ini juga akan
bangkit. Sedangkan kebangkitan individu itu adalah urusan pribadi. Tidak ada
kaitannya dengan demo dan parade di jalan-jalan ibu kota. Juga tidak ada
hubungannya dengan tanggal atau peringatan hari-hari tertentu dalam catatan
sejarah. Kebangkitan pribadi terjadi setiap hari. Sebab, tidak ada artinya kita
bangkit kemarin jika hari ini terpuruk lagi. Jika hari ini kita memiliki
perilaku positif, maka besok kita harus menjaga perilaku positif itu agar tetap
menjadi penghias perangai kita. Jika kita gagal menjaga momentum itu untuk
menjadi karakter kepribadian dan identitas diri kita, maka boleh jadi kita
hanya bisa bangkit sehari. Sedangkan sisa-sisa hari dalam hidup kita diisi
dengan keterpurukan. Dari sudut pandang religi hal semacam itu disebut su’ul
khatimah. Artinya, akhir yang buruk.
Kalau kita baik kemarin tapi sekarang dan besok buruk, maka kita termasuk
menderita su’ul khatimah. Kondisi seperti itu sangat membahayakan. Sebab dalam
keadaan seperti itu, sangat sulit bagi kita untuk menutup hidup dalam keadaan
’sedang baik’. Makanya, kebangkitan itu mesti terjadi terus menerus. Jika kita
jatuh, bangkit lagi. Jatuh lagi, ya bangkit lagi. Jatuh lagi, ya bangkit saja
lagi. Itulah yang sering kita sebut sebagai persistensi. Yaitu sikap pantang
menyerah untuk melakukan sesuatu yang positif dan konstruktif. Sikap seperti
itu disebut istiqamah. Seorang pribadi yang istiqamah tidak berarti selalu
benar, tapi segera menyadari kesalahannya lalu kembali ke jalur yang benar.
Mereka yang istiqamah juga bukanlah orang-orang yang selalu berhasil, karena
tidak ada bentuk kehidupan yang hanya terdiri dari keberhasilan saja. Mereka
yang istiqamah itu adalah orang-orang yang gigih untuk terus berjuang sampai
bisa mewujudkan keberhasilan.
Oleh karena itu, orang-orang yang terjebak kisah nostalgis dimasa lalu tidak
termasuk bangkit. Apalagi mereka yang menyalahkan keadaan. Atau menimpakan
penyebab segala kesialan kepada orang lain. Mereka yang gemar melakukan
kecurangan juga bukan pribadi yang terbangkitkan. Ciri bangkitnya seorang
pribadi adalah mampu mendayagunakan modal yang telah Tuhan berikan dalam proses
penciptaan dirinya. Apa sajakah modal itu? Pertama, Tuhan telah meniupkan ruh
yang condong kepada kebaikan. Jadi, ciri pribadi yang bangkit pastilah
cenderung kepada kebaikan dan selalu berusaha menghindari perilaku buruk.
Mengapa? Karena perilaku buruk itu karakter syetan. Bukan piranti lunak manusia.
Kedua, Tuhan telah menciptakan kita dengan keunikan masing-masing. Jadi,
pribadi yang terbangkitkan juga dicirikan oleh keberaniannya untuk
mengeksplorasi potensi dirinya. Kita tahu bahwa sesuatu yang unik itu bernilai
tinggi. Makanya toko-toko yang menjual pernak pernik unik selalu diserbu oleh
konsumen. Penyedia jasa yang memiliki keunikan layanan selalu dicintai
pelanggan. Anehnya, kita sering ragu jika keunikan diri yang kita miliki ini
akan laku di pasaran. Kita takut menampilkan keunikan yang kita miliki dalam
menjalani aktivitas keseharian. Sebagai gantinya, kita lebih suka meniru-niru
perilaku orang lain. Kita mengira dengan meniru orang lain bisa berhasil
seperti mereka.
Ada yang harus ditiru, memang. Dalam NLP itu disebut modeling. Premisnya, jika
kita bisa meniru plek ketiplek orang lain, maka kita bisa meraih pencapaian
yang mereka dapatkan. Ini hanya benar jika menyangkut metode atau cara kerja.
Misalnya, jika kita ingin berhasil meraih pencapaian seperti si A, maka cara
berbicara, cara berpikir, cara bekerja, cara berpakaian dan semua cara kita
mesti sama dengan si A. Mirroring, jika Anda lebih suka menyebutnya demikian.
Dalam konteks pencapaian material, kita bisa melakukan modeling atau miroring
seperti itu. Namun dalam tatanan kejiwaan, kita tidak bisa begitu saja
menerapkannya. Why? Because. You. Are. Simply. Unique. Memangnya Anda bersedia
untuk hanya menjadi ’cangkang’ saja. Wujud badaninya adalah Anda, namun
’dalemannya’ adalah orang lain. Tentu saja tidak. Lagipula, siapa sih yang
betah berlama-lama menggunakan karakter pribadi orang lain dengan menanggalkan
karakter dirinya sendiri? No. You are you.
Not somebody else.
Tidak perlu takut gagal jika Anda bersedia menerima keunikan pribadi Anda
sendiri. Sebab, yang paling penting adalah bagaimana kita mengelola keunikan
itu untuk menjadi sebuah nilai berharga bagi diri sendiri maupun orang lain.
Meniru orang lain juga tidak akan menjamin keberhasilan, jika kita gagal
memberi makna atas apa yang kita tiru itu. Bisakah kita menjadi pribadi yang
bernilai tinggi? Begitulah tantangannya. Jika kita bisa, maka dengan sendirinya
keberhasilan akan menjadi milik kita. Tanpa harus meniru orang lain. Begitu
lho, ciri pribadi yang terbangkitkan itu.
Tunggu dulu. Fakta menunjukkan bahwa dengan meniru orang lain kita berhasil.
Padahal, waktu kita berjuang dengan keunikan yang kita miliki malah gagal.
Selain dari sudut pandang materialisme seperti sudah kita bahas diatas, hal itu
juga benar dari sudut pandang sosial. Sudah menjadi kodrat manusia untuk
menyukai kemiripan. Makanya, kita lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang
memiliki gagasan yang sama, kesukaan yang sama, minat yang sama, dan hal-hal
yang sama lainnya. Benar, kita memiliki banyak kesamaan dengan orang lain.
Namun kesamaan yang ada pada kita, sama sekali tidak membatalkan keunikan yang
masing-masing miliki. Jika segala sesuatu yang kita miliki ini benar-benar sama
100% dengan orang lain, bagaimana kita menjalani hidup? Tidak mungkin kita
memiliki pacar yang berbeda. Mustahil kita mempunyai tempat tinggal yang
berbeda. Justru karena adanya perbedaan itulah maka kita bisa berdamai dengan
pihak lain.
Kesamaan aspek sosial ini juga bisa dibangun dan direkayasa. Artinya, kita
menyesuaikan diri agar bisa lebih diterima oleh orang lain, atau komunitas
tertentu. Secara umum kita menyebutnya ’keluar dari comfort zone’. Sedangkan
dalam terminologi disiplin ilmu Social Style Personality, hal semacam itu
disebut Versatility. Apapun landasan ilmu yang Anda gunakan, keluar dari
comfort zone itu sifatnya situasional, kondisional, dan temporer. Bukan sesuatu
yang permanen. Sesuatu ’didalam diri’ selalu memanggil kita untuk ’kembali’.
Sang pemanggil itu tiada lain selain ’kepribadian’ kita. Kemampuan untuk keluar
dari comfort zone merupakan salah satu fondasi penting, namun tidak berdiri
sendiri dan bukan satu-satunya. Hal ini diperkuat oleh fakta lain yang tidak
terbantahkan, yaitu; tidak ada seorang manusia pun yang bisa hidup dengan
kepribadian orang lain.
Mengapa bisa begitu? Karena dalam setiap pribadi, Tuhan telah memberikan
keunikannya masing-masing. Mengapa Tuhan memberi kita keunikan? Boleh jadi
karena Tuhan ingin hidup kita memiliki daya saing. Bukankah tidak ada daya
saing tanpa keunikan? Oleh karenanya, janganlah sekali-kali menyalahkan Tuhan
jika kita selalu kalah dalam persaingan. Tanyakanlah kepada diri sendiri,
apakah saya sudah menggunakan keunikan yang Tuhan anugerahkan ini untuk
meningkatkan nilai jual dan keunggulan pribadi kita? Jika kita sudah menjadi
pribadi yang unggul, mana mungkin kita tersisihkan begitu saja?
Jadi, jelas sekali kalau Tuhan memberi keunikan itu untuk membantu setiap insan
akan mampu mengangkat martabat dirinya sendiri. Lebih dari itu, desain
keberhasilan yang Tuhan rancang tidak dalam konteks persaingan. Melainkan
saling melengkapi. Bayangkan, jika setiap orang mampu menjadikan keunikan
pribadinya masing-masing untuk kehidupan. Maka setiap orang bisa berkontribusi
kepada orang lain tanpa harus menihilkan kontribusi pihak lain. Mana ada
persaingan jika demikian? Yang ada hanyalah harmoni. Karena melalui keunikan
yang masing-masing miliki, kita bisa saling melengkapi. Bukankah seperti itu
konteks kebangkitan yang lebih konstruktif?
Supaya bisa menata makna kebangkitan hakiki itu, kita perlu bercermin kepada
nasihat Rasulullah SAW tentang esensi kebangkitan setiap insan. Beliau
menasihatkan agar kita selalu mengingat suatu hari, ketika semua manusia
dibangkitkan. Yaitu, hari ketika anak-anak yang kita banggakan dan harta yang
kita kumpulkan tidak lagi berguna. Ketika jabatan dan kehormatan tidak lagi
memiliki arti. Hari dimana kita akan dimintai pertanggungjawaban secara
pribadi. Pada hari kebangkitan itu, setiap perbuatan kita selama hidup akan
dievaluasi. Untuk menentukan tempat yang akan kita tinggali. Dalam kehidupan
yang abadi.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
WTS – Writer, Trainer, and Speaker
www.bukudadang.com/ dan www.dadangkadarusman.com/
Catatan Kaki:
Kebangkitan yang hakiki itu adalah ketika kita berhasil memberi makna kepada
penciptaan dan kehadiran kita didunia, agar menjadi bekal saat semua jiwa
dibangkitkan kembali oleh pemiliknya.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
kunjungi www.bukudadang.com
--------------------------------
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah bisa dipesan di
http://www.bukudadang.com/
[Non-text portions of this message have been removed]