Pisang Ajaib – Satu Lagi Isyarat Yang Dikirim Tuhan?    
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Disadari atau tidak, kita sering mengharapkan keajaiban. Misalnya, kita tidak 
henti-hentinya berhayal untuk mendapatkan uang milyaran. Namun, sesungguhnya 
kita tidak melakukan upaya yang memungkinkan mengalirnya uang sebanyak itu ke 
rekening kita. Bagaimana caranya? Belum tahu. Pokoknya, berharap saja dulu. 
Anehnya usaha yang kita lakukan nyaris tidak ada bedanya dengan apa yang kita 
kerjakan sejak pertama kali impian itu muncul puluhan tahun yang lalu. Apakah 
kita boleh melepaskan impian itu sekarang? Tidak. Siapa tahu ada keajaiban.
 
Siang itu sesudah sembahyang Jumat, saya bersepeda untuk memfoto copy hand out 
training yang akan diselenggarakan keesokan harinya di sebuah perusahaan. 
Selain sehat, bersepeda itu memberi kita kesempatan untuk melihat-lihat. Ke 
kiri. Ke kanan. Saat melintasi pos pangkalan para pengendara ojek, mata saya 
menangkap pemandangan yang menarik perhatian. Disamping pos itu ada rumpun 
pisang yang dipagari oleh tiang-tiang bambu. Rasa ingin tahu kekanak-kanakan 
saya memaksa untuk berhenti. Sebagai imbalannya saya menemukan sebuah fenomena 
langka, yang boleh jadi hanya terjadi beberapa kali saja sepanjang umur dunia.
 
Apa yang saya lihat disana? Sebatang pohon pisang. Anda yang telah membaca 
tulisan dan buku-buku saya mungkin mulai bosan. Pisang lagi, pisang lagi. Tapi 
maaf, untuk fenomena yang satu ini, saya tidak yakin pernah ada literatur yang 
menjelaskannya. Bahkan dalam naskah yang ditulis oleh Professor ahli botani 
sekalipun. Pohon pisang itu sudah ditebang. Tunggul sisa-sisa tebangannya sudah 
berubah menjadi kecokelatan, membusuk, dan rapuh. Biasanya, keteguhan hati 
pohon pisang ditunjukkan dengan tumbuhnya kembali daun-daun pada batang yang 
sudah ditebang itu. Namun kali ini, bukan pohon pisang baru yang tumbuh. 
Melainkan setandan buah pisang! 
 
Ya. Setandan buah pisang muncul dari pohon pisang yang sudah ditebang. Jika 
saya mendengar cerita ini dari orang lain, mungkin sulit untuk mempercayainya. 
Namun, karena saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka tidak ada 
sedikitpun keraguan yang menyelimuti hati saya. Semula saya mengira hanya 
tempelan patung pisang terbuat dari kayu yang banyak dijual untuk hiasan. 
Namun, seorang warga meyakinkan saya bahwa buah pisang itu aseli, lengkap 
dengan getahnya sekalian. 
 
Saya nyaris tergetar karenanya. Hari ini, setelah sembahyang Jumat saya 
ditunjukkan oleh Tuhan tentang kebenaran firman-Nya. Dalam kitab suci, Dia 
mengatakan ”Allahlah, yang mengeluarkan kehidupan dari kematian. Dan 
mengeluarkan kematian dari kehidupan.” Tegasnya, kematian dan kehidupan itu 
adalah hak prerogratif Tuhan. Untuk itu, sama sekali tidak ada keraguan. 
Kelirulah kita yang sering mengira bahwa yang mati itu, mati. Kematian justru 
merupakan jembatan untuk menyeberang ke benua kehidupan lain. 
 
Kita memang tidak meragukan jika Tuhan itu Maha Menghidupkan dan Maha 
Mematikan. Kita memang tidak menyangkal jika Tuhan itu Sang Pemilik Nyawa yang 
kita pinjam. Dan kita tidak membantah jika Tuhan itu bisa mengambil nyawa 
hamba-hambanya kapan saja. Namun, kita sering sekali melupakan misi hidup yang 
kita emban. Bahwa hidup itu memiliki tujuan. Sedangkan setiap kali Tuhan 
menghidupkan seorang insan, pastilah Dia akan meminta pertanggungjawaban. 
Banyak sekali bukti bahwa kita sering melalaikan ini. Salah satunya, keengganan 
kita untuk memperindah kepribadian dengan perilaku-perilaku baik sambil memilih 
untuk berkubang dalam keburukan. ”Hidup ini berat,” begitu kita berkilah. 
”Curang-curang sedikit tidak apalah...” demikian kita berargumen.
 
Padahal, ada banyak bukti yang sudah dengan gamblang Tuhan perlihatkan. 
Penemuan mayat Fir’aun yang sampai saat ini masih utuh itu, misalnya. Menjadi 
isyarat dari Tuhan bahwa firman-firman-Nya mengandung kebenaran. Beberapa waktu 
lalu, terbetik berita tentang penemuan fosil manusia raksasa yang dalam kitab 
suci disebut sebagai kaum ’Ad. Mereka dikenal dengan postur tubuhnya yang 
sangat tinggi dan besar. Serta semua ketangguhan fisik yang Tuhan anugerahkan. 
Namun, Tuhan memusnahkan mereka karena kesombongannya dihadapan Sang Pencipta. 
Belum lama ini para ahli arkeologi melaporkan penemuan bahtera Nabi Nuh yang 
diberkahi Tuhan. Seakan-akan Tuhan memperlihatkan satu demi satu rahasia masa 
lalu umat manusia untuk menjadi pelajaran. Benar. Seperti diajarkan oleh guru 
mengaji saya bahwa Tuhan mengabadikan kaum-kaum terdahulu. Lalu memperlihatkan 
rahasia-rahasia itu. Agar manusia moderen bersedia menerima wahyu kebenaran. 
 
Ketuhanan Yang Maha Esa. Begitulah bunyi sila pertama dari Dasar Negara 
Republik Indonesia. Cukuplah sila itu untuk menegaskan bahwa Tuhan, tidak ada 
penguasa utama selain Dia. Raja dari segala raja. Yang tidak ada tandingan, dan 
bandingan bagi-Nya. Sudah cukup banyak bukti keakuratan setiap catatan dalam 
kitab suci. Maka, mengapa kita masih meragukan kebenarannya? Padahal Tuhan 
sudah membuka satu demi satu tabir misterinya. Baik di langit, maupun di bumi. 
Ketika Rasulullah menyampaikan firmanTuhan, ”Maka apabila langit terbelah 
seperti mawar merah yang berkilau mengkilat bagaikan minyak,” banyak orang 
menyebutnya pembohong. Mungkin wajar jika manusia yang hidup ribuan tahun lalu 
menyangkal firman itu. Sebab akal dan pengetahuan belum mampu menjangkaunya 
kecuali dengan iman. Namun setelah teleskop Hubble milik NASA membuktikan 
ternyata memang di langit terdapat Oily Red Rose Nebule alias Nebula mawar 
merah yang mengkilap, bagaimana mungkin kita masih
 menyangkal kebenaran firman-Nya ya? 
 
Oh, mungkin langit itu terlampau jauh untuk ditempuh oleh mata. Itulah 
sebabnya, saya memiliki hati yang sangat bebal seperti ini. Maka dari itu, hari 
ini Tuhan memperlihatkan bukti yang mudah saya lihat sendiri. ”Akulah yang 
mengeluarkan kehidupan dari kematian,” kata-Nya. Dan benar. Dari batang pohon 
yang membusuk itu, bukan daun yang tumbuh. Melainkan setandan buah pisang yang 
sempurna. Padahal, selama ini saya nyaris selalu meyakini bahwa daun itu 
seperti dapur atau pabrik makanan bagi tanaman. Tanpa daun, tidak ada proses 
fotosintesis. Tanpa fotosintesis tidak ada zat gula dan fruktosa. Tanpa 
fruktosa, tidak akan pernah ada buah. Tapi hari ini, Tuhan memperlihatkan 
betapa mudahnya Dia menciptakan buah. Bahkan, dari tunggul batang pohon pisang 
yang sudah ditebang.
 
Siang itu saya bergegas pulang. Maksud hati mengambil kamera untuk mengabadikan 
keagungan isyarat Tuhan. Namun sekeras apapun berusaha, saya tidak menemukan 
kamera itu. Saya terus mencari sambil berharap bisa mendapatkan rekaman otentik 
fakta itu. Tapi, terik matahari segera berganti. Mendung menggelayuti langit. 
Kemudian hujan angin seolah menghalangi keinginan saya. Seakan menegaskan 
larangan itu, sang hujan tidak berhenti hingga malam. Keesokan paginya, 
matahari tersenyum cerah. Langit terang benderang. Sedangkan awan putih 
berjalan anggun dan perlahan. Saya tidak tahu, apakah itu berupa ejekan. Atau 
penghiburan. Terserah. Saya sudah bertekad untuk mengabadikan momen penting 
itu. Lalu ketika saya berangkat menuju ke tempat training hari itu, saya 
berhenti di lokasi pisang ajaib itu tumbuh.  
 
Saya sama kagetnya dengan para penjaga situs di pangkalan ojek itu. Sebagian 
buah pisang itu sudah mulai matang menguning. Padahal, kemarin sore masih hijau 
semua. Sekarang saya mengerti, mengapa langit menghalangi saya untuk merekam 
momen itu kemarin. Karena Tuhan, menginginkan saya untuk melihat keajaiban 
lain. Sangat mudah bagi-Nya untuk menghidupkan sesuatu dari yang mati. Sama 
mudahnya dengan mematikan yang hidup. Sangat mudah bagi-Nya untuk membuat 
matang sesuatu. Sama mudahnya dengan membiarkan sebagian tetap mentah. Melalui 
mantera ajaibnya Tuhan bertitah, ”Jadilah!” Maka segala sesuatu yang 
dikehendaki-Nya jadi. ”Kun!” firman-Nya. ”Fayakun.” Maka jadilah.  
 
Sabtu, tanggal 22 Mei 2010. Tuhan mengijinkan saya untuk mengabadikannya dalam 
sebuah video. Kemudian mempostingnya di Youtube 
(http://www.youtube.com/watch?v=tIqC3UKpTMg ). Jika anda meragukan keasliannya, 
silakan dianalisis sendiri. Namun hati saya dan para pengendara ojek yang 
diberkati itu bersaksi, ”Laa roiba fiihi,” tidak ada keraguan sedikitpun 
tentangnya. Oleh sebab itu, saya bersaksi atas kebenaran firman Tuhan. Dan saya 
bersaksi atas kebenaran Nabi-Nabi yang telah diutus-Nya dari awal hingga akhir 
zaman. Untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan untuk menyampaikan petunjuk 
yang terang benderang. Seperti nasihat yang sudah dikokohkan oleh founding 
fathers bangsa Indonesia. Pancasila. Satu. Ketuhanan Yang Maha Esa. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
WTS – Writer, Trainer, and Speaker    
www.bukudadang.com/  dan www.dadangkadarusman.com/   
 
Catatan Kaki:
Keajaiban hanyalah milik mereka yang bersungguh-sunguh dalam berusaha, dan 
tulus dalam kepasrahan kepada Sang Maha Kuasa.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
kunjungi www.bukudadang.com 

--------------------------------
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah tersedia di Toko Buku atau bisa 
dipesan di http://www.bukudadang.com/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke