Terima kasih atas ceritanya yang sangat menyentuh...
 
saya jadi inget beberapa tahun yang lalu ketika saya terlibat perbincangan yang 
lama di MSN dengan kawan saya yang bekerja di afrika, dengan temannya yang 
sangat banyak, dan hobi menulis blog, saya sempat berpikir, apa motivasi dalam 
memberikan pengalaman2 ke orang2 di seluruh dunia, memberikan kartu ucapan 
kepada temen2 yang di Indonesia, dan negara2 lainya ... 
 
saya sempet bertanya kepada kawan saya .. lalu dia menjawab 
 
" dalam berteman, sebaiknya kita yang dulu menuai kebaikan, sebab apapun yang 
kita berikan kepada orang lain dengan tulus, dan niat karena Alloh ingin dapat 
pahala dan kebaikan dari sisi-Nya maka apapun yang kita tebar akan dapat kita 
nikmati benihnya di kemudian hari...apapun itu...jadi berbagilah kebaikan 
dengan orang-orang di sekitar kita...
 
 

--- On Sun, 5/30/10, Rahmadsyah Mind-Therapist <[email protected]> wrote:


From: Rahmadsyah Mind-Therapist <[email protected]>
Subject: <trainersclub> Sepenggal Kisah "Kakek dan Tabungannya"
To: "TCI" <[email protected]>
Cc: "Money" <[email protected]>, "Motivasi Indonesia" 
<[email protected]>, "HR GATE" <[email protected]>, 
[email protected]
Date: Sunday, May 30, 2010, 6:28 PM


  








Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang baik, semoga hari ini menjadi penentu keberhasilan kita. 
Melalui karya dan pahatan sejarah yang kita bekas kan kepada alam semesta. 
Sehingga hukum ketertarikan yang nyata ada didunia, meiyakan dalam wujud amin, 
terhadap doa dan usaha kita.
 
Tadi siang tepatnya jam 11.00 wib. Saya masuk ke sebuah Bank di dramaga Bogor. 
Saya disapa ramah oleh pak Satpam. Kemudian, saya diberikan form dan no 
antrian. No antrian yang dilaminating kertas berwarna kuning, tetulis rapi 
hasil printing, font times new roman 118. Setelah saya mengisi no rek adik saya 
yang di Aceh, kemudian sambil menunggu giliran, saya mencari kursi kosong yang 
disediakan buat nasabah.
 
Terdengar suara teller memanggil ”no antrian seratus tiga belas (113)”. Dalam 
hati saya, alhamdulillah tidak lama lagi. Panggilan antrian pun terus 
berlanjut. Hingga ke 116. Berdirilah seorang kakek, umurnya mungkin sudah 
diatas 70. kulitnya sudah mengeriput. Rambutnya telah menunjukan perubahan 
warna menjadi putih. Memakai baju kemeja putih, dan celana bahan cokelat. 
Kepala nya tertutup kopiah hitam.
 
Pak Satpam menyapa ”Ada yang bisa saya bantu pak?” sang kakek mengeluarkan 
surat berukuran setengah A4, terlaminating, dari kejauhan saya dapat melihat 
ada pas photo backround merah dan berkopiah hitam, serta baju putih, dalam foto 
tersebut. ”saya mau ambil pensiunan”.
 
Pak satpam kemudian bertanya kepada atasannya, apakah bisa melalui bank ini? 
Karena kakek tersebut juga membawa buku nasabah atas nama beliau sendiri pada 
bank itu. Kemudian buku tabungan beliau di cek oleh teller. Karena si kakek mau 
tau berapa uang ditabungan beliau, sebab anaknya bilang sering transfer (tabung 
kata kakek)  kerening kakek itu.
 
”Antrian seratus delapan belas (118)” teller satunya lagi memanggil no antrian 
saya. Saya menuju meja teller, menyerahkan form transfer yang telah saya isi 
berserta dengan uangnya. Sekarang saya semakin dekat berdiri dengan kakek, 
sehingga terdengar pembicaraan teller dengan kakek.
”Bapak mohon maaf, uang ditabungan bapak tinggal (... tidak terdengar suara 
siteller) (saya tidak tau berapa persisnya, yang pasti tidak ada yang bisa 
diambil). Sikakek bilang ”Anak saya bilang dia sering nabung ke no rekening 
saya”. Teller kemudian menjelaskan ”Bapak, anak bapak bukannya menabung, tapi 
malah melakukan penarikan lewat ATM”. Teller kembali melanjutkan ”ini tanda 
penarikan lewat ATM, 1 jt,1jt,500,50, 75,700 ...(sampai halaman terkhir) dan 
ini sisanya”.
 
Sang kakek terdiam kaku, beliau sudah sangat tua. Berbicara saja 
terengah-engah, suara nya sudah tak terdengar. Teller menanyakan lagi ”ATM 
bapak siapa yang pegang?” kakek menjawab ”Anak saya, dulu saya pernah minta 
bantuan dia untuk mengambilkan uang satu juta”. ”Anaknya dimana sekarang?” 
Kakek hanya diam, dan terus bernafas.
 
”Terima kasih bapak, uang nya telah terkirim, masih ada yang bisa dibantu” 
Teller yang melayani transaksi saya, menyodorkan kertas warna kuning untuk saya 
simpan. Saya pun meninggalkan Bank tersebut, sambil melihat kepada sang kakek 
yang dipenuhi wajah kesedihan.
 
Sampai diluar, saya tidak langsung pulang, tapi duduk ditangga teras bank 
tersebut, membuka Netbook untuk cari tau info no telf travel perjalanan Bogor – 
Bandung. Beberapa saat kemudian, sang kakek keluar dan duduk ditangga juga, 2 
meter dari kanan saya. Beliau sampil memasukkan surat-surat dan KTP nya, dalam 
sebuah amplop. Kepala nya menunduk, melihat keatas, kiri dan kanan.
 
Saya tinggalkan fokus dengan informasi di situs travel yang sedang saya cari, 
Dan saya lakukan konekting dengan sang kakek, untuk merasakan dan memahami apa 
yang beliau fikirkan. Saya langsung merasa (cepat konekting, mungkin karena 
didalam sudah saya lakukan sebelumnya) ”Perasaan sedih hadir dalam diri saya, 
mata saya berkaca-kaca, dan butiran bening mengaburi pandangan saya. Selain itu 
yang muncul dalam diri saya, sebuah pertanyaan mengapa seperti ini dan mengapa 
t.e.g.a”.
 
Sang kakek kemudian berdiri dan melankah menuju keluar halaman bank. Dan naik 
ankot menuju laladon / bubulak. 
 
Ada kesedihan, haru, kasihan dan juga diselimuti marah dalam diri saya. 
Kesedihan merasakan apa yang dirasakan oleh sang kakek. Kasihan, usia nya yang 
sungguh sangat dan bukan lagi bisa dikatakan muda, uang yang mungkin bisa 
beliau nikmati dimasa tua habis. 
 
Sementara kemarahan dalam diri, karena : Bagaimana bisa terjadi, bagaimana bisa 
t.e.g.a seorang anak berperilaku kepada bapaknya seperti itu? Tapi saya sadar, 
kemarahan kepada anak si kakek itu, tidak wajar saya marah kepadanya. Karena, 
pasti ada hal  (informasi) yang belum lengkap saya dapatkan, untuk segera saya 
sikapi demikian. 
 
Saya duduk dan terdiam sejenak. Memory saya kembali kemasa saat-saat detik 
terakhir bersama keluarga sebelum tsunami. Setelah itu saya melakukan 
perenungan, bahkan muncul pertanyaan dalam diri, bagaimana dengan kehidupanku 
saat aku tua seperti beliau kelak? Ada pelajaran dan hikmah yang tersirat dalam 
diri. Sebuah pesan singkat, bertebaran berupa suara ”Jadilah orang baik”.
 
Shahabat, mari kita kirimkan doa untuk si kakek, mudah-mudahan masalah yang 
sedang beliau alami saat ini, segera terbuka pintu penyelesaiannya. Semoga 
Allah mengangkat derajat, keimanan, ketaqwaan, terampuni dosa, dan diterima 
amal ibadah beliau, juga kita.. Amin ya Rabbal’alamin.
 
Bogor 26 mei 2010.



Rahmadsyah
Trainer&Mind-Therapist I 081511448147 I Practitioner NLP & Hypnosis
I YM ; rahmad_aceh I www.facebook. com/rahmadsyah












      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke