15/01/2008 12:24 WIB 
Hidayat: Jangan Sampai Bangsa Tempe Ini Kehilangan Tempenya
Ramdhan Muhaimin – detikcom
   
  Jakarta - Meroketnya harga kacang kedelai yang membuat pengrajin tempe tahu 
menjerit disesalkan Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Pemerintah harusnya sudah 
mengantisipasi sejak jauh-jauh hari.

"Ini semestinya sudah dikalkukalsi sebelumnya, karena pemerintah sebagai 
pengayom masyarakat dan pelaksana kedaulatan kesejahteraan rakyat. Kok bisa 
terjadi hal semacam ini," katanya.

Hidayat yang menyampaikan hal itu di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 
(15/1/2008) juga menyatakan, pemerintah tidak cukup dengan mengeluarkan 
kebijakan yang bersifat sementara. Seharusnya, kebijakan pemerintah bersifat 
jangka panjang.

"Kebijakan bea impor yang dikatakan Mendag hanya solusi yang bersifat 
sementara. Seharusnya ada penyelesaian jangka panjang. Jangan sampai kita 
bergantung pada tempe luar negeri, impor, apa-apa dari impor," cetusnya.

"Saya berharap pemerintah menghadirkan solusi segera supaya bangsa kita yang 
bangsa tempe ini tidak kehilangan tempenya," imbuh Hidayat.

Dia juga mengatakan, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak berupaya 
melakukan swasembada pangan. 

"Harus ada policy kemandirian pangan, termasuk beras, gula tebu, kedelai. Saya 
yakin kemandirian ini bisa dilakukan kalau ada komitmen serius pemerintah. Jadi 
tidak ada alasan lagi," tegasnya.

( umi / nrl )
  --
   
   
  KOMENTAR
   
  Bangsa tempe kehilangan tempe jelas seperti dikatakan Hidayat: 


  "Kebijakan bea impor yang dikatakan Mendag hanya solusi yang bersifat 
sementara. Seharusnya ada penyelesaian jangka panjang. Jangan sampai kita 
bergantung pada tempe luar negeri, impor, apa-apa dari impor," dan menambahkan: 
"Harus ada policy kemandirian pangan, termasuk beras, gula tebu, kedelai. Saya 
yakin kemandirian ini bisa dilakukan kalau ada komitmen serius pemerintah. Jadi 
tidak ada alasan lagi,"
   
  Apa yang tidak disebutkan disini ialah bahwa politik penguasa dunia sudah 
lama menjadikan negeri tempe Indonesia menjadi negeri konsumsi, pelemparan 
segala macam barang produksi negeri maju termasuk Cnina, dan memonopoli 
’pembelian’ (perampokan) hasil alam bahan mentah Indonesia. 
   
  Dalam buku pengakuannya Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins 
tulis sendiri dengan huruf miring: (sekiranya semua pemuda/mahasiswa Indonesia 
bisa baca buku ini)
   
  “Economic hit men (EHMs) are highly paid professionals who cheat countries 
around the globe out of trillions of dollars. They funnel money from the World 
Bank, the U:S: Agency for International Development (USAID), and other foreign 
“aid” organizations into the coffers of huge corporations and the pockets of a 
few wealthy families who control the planet’s natural resources. Their tools 
include fraudulent financial reports, rigged elections, payoffs, extortion, 
sex, and murder. . . “
   
  Ketika ramai-ramainya isu formalin tahun lalu, mendag Mari Pangestu di 
Jakarta bikin test formalin. Semua bakso dan mi yang dia test kadar formalinnya 
nol atau tidak ada. Kemudian seorang pemuda bertanya mengapa harga beras mahal, 
mendag jawab ’harga beras macam-macam tergantung kwalitasnya’ dan cepat-cepat 
meninggalkan tempat test formalin. Apakah mendag cs tidak tahu pranan EHM? 
   
  Salam negeri tempe
  MUG

       
---------------------------------
Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping. 
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: 
http://shopping.yahoo.se/c-169901-resor-biljetter.html

Kirim email ke