Catatan budaya JOEY BANGUN
Tulisan ini juga bisa disimak :
www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun
&
//joeybangun.blogs.friendster.com
FENOMENA
BIANG
Biang (Bahasa Indonesia : Anjing) adalah
binatang berkaki empat yang suka menggonggong.
Bagi orang Karo non Muslim daging biang yang biasa dimakan disebut B1.
Sedang untuk daging Babi disebut B2. Mungkin pengertian B1 dan B2 yang muncul
pada makanan khas suku Karo ini diambil dari jumlah B pada kosa kata dalam
namanya.
Tidak
semua merga suku diperbolehkan makan daging biang. Merga Sembiring contohnya.
Tapi tidak juga semua sub merga Sembiring tidak boleh makan biang. Merga
Sembiring golongan Singombak (menghanyutkan perabuan) menjadi golongan la
tengka man biang (pantang makan daging anjing). Merga Sembiring yang
digolongkan Singombak ini adalah Brahmana,
Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muham,
Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Sementara golongan Sembiring
yang tengka man biang (boleh makan daging anjing) adalah Kembaren, Keloko,
Sipayung, Sinulaki.
Golongan Sembiring Singombak tidak
diperbolehkan makan daging biang tentu ada sebabnya. Konon hal ini terjadi
karena salah seorang nenek moyang merga Sembiring pernah dikejar
musuhnya kemudian menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sebuah sungai
dan hampir tenggelam. Seekor anjing kemudian menyelamatkan orang itu dan
membawanya ke seberang. Mulai dari situ Merga Sembiring Singombak berjanji
untuk pantang makan daging anjing dan sungai tersebut dinamakan Lau Biang.
Lau Biang mempunyai cerita tersendiri.
Siapa yang tidak tahu fenomena Gertak
(baca : jembatan) Lau Biang. Gertak Lau Biang adalah jembatan yang
menghubungkan kuta Batukarang, Nageri, dan Singgamanik ini adalah saksi bisu
segala penindasan dan dokumen sejarah. Gertak Lau Biang menjadi tujuan dari
beberapa daerah di Sumatera Utara untuk pengeksekusian orang-orang yang
dianggap antek-antek Belanda dan PKI. Mereka dibunuh dengan cara biadab. Ada
yang dipancung, ditikam bahkan langsung dibuang begitu saja dari jembatan itu
ke sungai Lau Biang yang deras. Biasanya malam pengeksekusian dini hari. Gertak
Lau Biang telah menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Karo. Banyak cerita
yang mewarnai fenomena tersebut. Fenomena itu menjadi misteri yang sulit untuk
terungkap. Tentang Gertak Lau Biang bisa disimak di kolom Joey Bangun di
website www.tanahkaro.com. Tulisan ini pernah dimuat di beberapa media daerah
dan Nasional.
Biang
kuta, itulah sebutan bagi anjing kampung. Di pedesaan Karo, biang kuta biasanya
dipelihara dan dibiarkan berkeliaran begitu saja. Anjing-anjing itu biasanya
tugasnya menjaga kesain (halaman) kuta. Jadi tiap kesain ada anjing penjaganya.
Di setiap rumah orang Karo di Medan dan sekitarnya, anjing-anjing kampung ini
biasanya dijadikan anjing peliharaan untuk menjaga rumah.
Tentang
biang peliharaan di rumah juga punya cerita unik. Banyak nande-nande pemilik
anjing di Jambur dan Losd selesai pesta adat pergi ke dapur. Biasanya mereka
minta dikantongkan dalam plastik makanan sisa-sisa pesta. Jika ditanya, jawaban
mereka pasti sama, "Man perpangan biangku."
Belakangan biang tidak hanya dijadikan
hewan peliharaan ataupun makanan. Namun juga kata-kata sumpah serapah pada
hal-hal tidak berkenan. Biasanya diucapkan spontan sebagai bentuk emosional
pada lawan bicara. Betapa malangnya nasib biang, sudah dijadikan makanan malah
diucapkan sebagai sumpah serapah.
Sebuah filosofi Karo menutup tulisan ini.
Bagi sinangtangi biang kicat, sinangtangisa karatna (seperti melepas anjing
terjepit, yang melepaskannya malah digigitnya) artinya seseorang yang sudah
ditolong malah menjatuhkan orang yang menolongnya. Hati-hati, fenomana filosofi
ini banyak terjadi di masyarakat Karo.
copyright by
= JOEY BANGUN =
//joeybangun.blogspot.com
&
www.tanahkaro.com
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ