--- In [email protected], shodan purba <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
Kita terlalu i ninabobokkan oleh slogan 'nasionalisme', padahal kalak 
pe ei kang ende-endenna tapi i langkah-kena langkah kemuhenna, sim 
salabin... jadi Sergei nina, jadi. Walo pe perjuangen pemekaren DS, 
leben i rancang kalak Karo, tapi tempa2 perjuangen ei perjuangen 
Panitia ngenca. Jelma si enterem la ngidah maka 'struktur' ei nge 
pagi mbereken ingan cio cilinggem man anak kempuna.  
******

Enaknya mendengar lagu nina bobok 'nasionalisme' adalah kita orang 
baik, loyal kepada pemerintah, oh...betapa baiknya orang Karo. Senang 
sekali mendengar pujian, padahal akibatnya tidak mau lagi keluar dari 
comfort zone ( seperti kata Bapa ini). Apakah kita takut sekali jika 
dianggap berbeda dengan orang Indonesia lainnya? Apakah orang Toba 
yang menjadikan propinsi Tapanuli tidak orang Indonesia lagi? 
Jawabannya adalah kita tidak berani lagi mengeksplorasi diri sendiri.

Cerminan dari ketidakberanian ini jelas terlihat tatkala ada 
seseorang Karo melakukan sesuatu umumnya kebanyakan mendapat caci 
maki dan hujat. Apakah karena kelamaan kena jajah Belanda sehingga 
kurang percaya diri? Kita yang kurang percaya diri, orang lain maba 
beratna.

Kemudian, ketika sekelompok orang Karo menggagas suatu struktur baru 
nampak sekali jika gagasan itu hanya dimaklumi kelompok itu. 
Minoritas masyarakat Karo mungkin paham, tapi umumnya tidak. Saya 
pikir mungkin saatnya membuat suatu terobosan baru dalam hal 
sosialisasi. Saya tidak menentang sosialisasi mahal di hotel-hotel 
atau membuat suata acara akbar, tetapi apa pesan soasialisasi itu 
sampai pada masyarakat?

Jika tidak sampai, maka masyarakat tidak akan pernah mengganggap 
mereka adalah bagian dari gerakan atau struktur baru. Contoh kecil 
saja, soal revitalisasi hutan yang sudah puluhan tahun jadi program 
pemerintah. Apakah pesan revitalisasi ini sudah mengakar rumput atau 
sekedar buat berita bagus di media? Buang uang, buang waktu.

Masyarakat harus paham dulu, kemudian terlibat, lalu merasa bagian 
dari pergerakan. Coba saja, adakah masyarakat Karo yang paham program 
bupati terpilih sekarang? Jika ada yang tahu dan paham, tolong ajari 
saya.


salam,
ita



Kirim email ke