Tanah Karo (ISB)
Diperkirakan puluhan hektar tanaman cabe saat berbuah di Desa Batukarang
Kecamatan Payung, Karo layu dan mati. Cabe yang seyogianya panen raya di areal
persawahan Panggung Baru dan Panggung Lama saat ini tampak sebagian tanaman dan
buah mulai layu sehingga tidak dipetik lagi. Sementara buah yang masih dapat
dipanen harga jualnya relatif murah dan diperkirakan petani akan gagal panen.
Hal ini dijelaskan Manis Bangun, Senang Sitepu alias SS, Bapa Indra Bangun,
Rekro Tarigan kepada SIB, Sabtu (26/1) di salah satu kios pajak cabe Simpang
Tiga, Batukarang.
Penyebab layu dan sebagian tanaman mulai mati diduga akibat serangan penyakit
Vitovtora Salonase yang cenderung menyerang tanaman berbunga terompet awal
Januari 2008 silam menyebabkan daun dan buah cabe layu.
Pembina dan Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Pemkab Karo
sebaiknya meneliti penyakit yang mematikan tanaman cabe. Sampai saat ini, pihak
terkait belum ada melakukan penelitian atau memberikan penyuluhan kepada
petani, ujar SS dan Bangun didampingi petani Nande Andri Br Sembiring, Bapa
Lisa Bangun, Daswan Tarigan, Bapa Heppy Purba, Bapa Leonardo Surbakti mengharap.
Permaina Parengge
Sejak panen dimulai Nopember 2007 silam sampai saat ini, harga cabe relatif
murah. Selama panen harga maksimal pernah mencapai Rp9000/kg dari harga
rata-rata Rp6000/kg.
Pantauan SIB, Sabtu (26/1) di 7 kios pasar cabe yang ada di Simpang Tiga
Batukarang terlihat transaksi jual-beli tidak bergairah. Wajah-wajah petani
cabe muram. Setiap hari, panen yang mencapai sekitar 20 ton per/hari ini,
sampai pukul 19.30 WIB harga beli dari parengge belum jelas dengan alasan
menunggu harga pasar dari Medan. Sedangkan cabe yang dibawa masing-masing
petani ke kios tetap dilakukan penimbangan berat.
Ketika ditanya SIB beberapa harga cabe hari itu kepada parengge yang
hilir-mudik di sekitar kios mengaku belum tahu.
Menunggu informasi pedagang dari Medan berapa harga pasaran. Abang pedagang
atau petani?, ujar parengge balik menanya SIB.
Pedagang dari Medan dilarang parengge datang langsung ke lokasi kios pasar
cabe atau transaksi langsung dengan petani di Simpang Tiga Batukarang. Pedagang
dari Medan menunggu di Desa Payung yang jaraknya sekitar 4 kilometer dengan
kios pasar cabe Simpang Tiga Batukarang. Setelah malam dan seluruh hasil panen
cabe terkumpul di kios parengge baru parengge melakukan transaksi dengan
pedagang lewat telepon seluler.
Biasanya, kalau parengge membuat harga beli Rp6000/kg dari petani,
parengge menjual Rp8000,-per kg kepada pedagang.
Dalam waktu relatif singkat dan hanya membawa cabe dari Batukarang ke Payung
dengan jarak 4 kilometer, parengge sudah mengantongi untung Rp2000/kg. Yang
tetap tertindas kan kami petani. Sebab dengan harga yang murah demikian, petani
tidak sanggup lagi memberi pupuk atau pestisida lainnya yang merupakan
kebutuhan utama untuk bertani. Inilah nasib petani Karo pada umumnya, ujar
beberapa petani kepada SIB bernada kecewa. (M37/x)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.