MJJ....

ada NASEHAT dari orang tua;

"BELAJARLAH DARI KESALAHAN YG SUDAH PERNAH TERJADI DAN
JANGAN PERNAH MENGULANGINYA.
BILA ENGKAU MENGULANGINYA, APA BEDANYA ENGKAU DENGAN
PEMBUAT KESALAHAN.
BILA ENGKAU MEMBENCINYA APA BEDA DENGAN ENGKAU DENGAN
PEMBUAT KESALAHAN"
LEPASKANLAH KEBENCIAN ITU DAN BELAJARLAH SEHINGGA
ENGKAU MENJADI BIJAKSANA DAN BERBEDA DENGAN PEMBUAT
KESALAHAN KERENA DISINILAH LETAK KEMENANGAN ITU"

...........(KAPITAL meaning not angry)............

Semoga kita bisa dengan bijak dan arif serta
se-objective mungkin melihatnya.

Bujur ras mejuah-juah

Nayan-Batam



--- libra_denta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970.
> 
> Ruangan *intensive care* RSPAD Gatot Subroto
> dipenuhi tentara sejak pagi.
> Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga
> penuh di beberapa titik
> strategis rumah sakit tersebut.
> Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian
> preman juga hilir mudik
> di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.
> 
> Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa.
> Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden
> Soekarno akan dibawa ke
> rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso
> yang hanya berjarak
> lima kilometer.
> 
> Malam ini desas-desus itu terbukti.
> Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk
> ukuran seorang mantan
> presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan.
> Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur.
> Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat
> berkuasa ini terus
> memejamkan mata.
> Suhu tubuhnya sangat tinggi.
> Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya
> kian menggerogoti
> kekuatan tubuhnya.
> 
> Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan
> sebab itu banyak
> digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak
> ubahnya bagai sesosok
> mayat hidup.
> Tiada lagi wajah gantengnya.
> Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah
> membengkak, tanda bahwa
> racun telah menyebar ke mana-mana.
> Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan
> permukaan bulan.
> Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa
> dengan pidato-pidatonya
> yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan
> kering.
> Sebentar-sebentar bibirnya gemetar.
> Menahan sakit.
> Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit
> dan mencakar udara,
> kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian
> kurus.
> 
> Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
> 
> Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari
> Fatmawati diizinkan
> tentara
> untuk mengunjungi ayahnya.
> Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak
> mampu membuka matanya,
> kedua mata Mega menitikkan airmata.
> Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga
> manusia yang paling
> dicintainya ini.
> 
> "Pak, Pak, ini Ega…"
> 
> Senyap.
> 
> Ayahnya tak bergerak.
> Kedua matanya juga tidak membuka.
> Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah
> bergerak-gerak kecil,
> gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri
> sulungnya itu.
> Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati.
> Tapi dia tidak mampu membuka matanya.
> Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan
> sesuatu untuk puteri
> sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk
> sekadar menulis.
> Tangannya kembali terkulai.
> Soekarno terdiam lagi.
> 
> Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat
> terpukul.
> Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik
> jatuh.
> Kian deras.
> Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu
> tangan.
> Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan
> limbung.
> Mega segera dipapah keluar.
> 
> Jarum jam terus bergerak.
> Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga
> lengkap dengan senjata.
> 
> Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno
> ambrol.
> Dia coma.
> Antara hidup dan mati.
> Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
> 
> Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta
> diizinkan mengunjungi
> kolega lamanya ini.
> Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri
> pembaringan Soekarno dengan
> sangat hati-hati.
> Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya,
> Soekarno berhasil
> membuka matanya.
> Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno
> berkata lemah.
> 
> "Hatta.., kau di sini..?"
> 
> Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
> Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika
> dirinya bersedih.
> Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang
> mencabik hati, Hatta berusaha
> menjawab Soekarno dengan wajar.
> Sedikit tersenyum menghibur.
> 
> "Ya, bagaimana keadaanmu, No?"
> 
> Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di
> masa lalu.
> Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.
> Panasnya menjalari jemarinya.
> Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat
> dihormatinya ini.
> 
> Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan
> lemah, dia balik bertanya
> dengan bahasa Belanda.
> Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika
> mereka masih bersatu dalam
> Dwi Tunggal.
> 
> "*Hoe gaat het met jou…?*"
> Bagaimana keadaanmu?
> 
> Hatta memaksakan diri tersenyum.
> Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
> 
> Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
> 
> Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan
> seperjuangannya, bagai bayi
> yang
> kehilangan mainan.
> Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya.
> Pertahanannya bobol.
> Airmatanya juga tumpah.
> Hatta ikut menangis.
> 
> Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling
> berpegangan tangan seolah
> takut berpisah.
> Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang
> sangat dikaguminya ini
> tidak akan lama lagi.
> Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa
> pukulan yang dialami
> sahabatnya ini.
> Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang
> tidak punya nurani.
> 
> "No…"
> 
> Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.
> Hatta tidak mampu mengucapkan lebih.
> Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus
> kekecewaannya.
> Bahunya terguncang-guncang.
> 
> Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada
> penguasa baru yang sampai
> hati menyiksa bapak bangsa ini.
> Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno
> tidak bersesuaian,
> namun hal itu sama sekali tidak merusak
> persabatannya yang demikian erat
> dan tulus.
> 
> Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya
> ini kembali
> memejamkan
> matanya.
> 
> Jarum jam terus bergerak.
> Merambati angka demi angka.
> 
> Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
> 
> Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi
> Soekarno 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke