Gagasan impal Nayan Batam menyentuh apa yang terkandung di hatiku sendiri selama ini. Ajakannya, sebagaimana yang kurasakan, adalah agar kita mengoptimalkan apa yang ada pada kita sendiri atau apa yang tersedia di Tanah Karo. Banyak sebenarnya bisa dimanfaatkan dan tersedia di sekitar kita, tapi terasa kita kurang mau mengoptimalkan apa yang kita miliki sendiri. Tujuan dari ajakannya juga jelas sekali, agar kita mampu mandiri kurang tergantung pada orang lain.
Hal ini terkait dengan masalah pola pikir meskipun sipatnya bisa jadi sesaat (bukan pola pikir yang berurat berakar di masyarakat Karo). Terasa dalam postingan impal Nayan Batam bahwa dia merasakan adanya kecenderungan kita itu mau 'mendapatkan/ menerima' sesuatu yang fantastik/ luar biasa sehingga dalam sekejap semuanya tiba-tiba saja berubah total: Habis gelap terbitlah terang. Kecenderungan seperti ini disebut dalam antropologi Cargo Cult atau Mesianistic Movement atau dalam kepustakaan Indonesia biasanya disebut Ratu Adil. Dalam konteks ini, saya lebih suka menggunakan istilah Cargo Cult. Cargo adalah barang-barang muatan angkutan berat (seperti kapal laut, kapal udara atau truck). Cult (kultus) adalah sejenis ritual atau gerakan religius yang mengkultuskan/ mendambakan sesuatu. Cargo cult adalah suatu pengharapan adanya sesuatu dari luar atau sesuatu baru yang datang untuk membawa perubahan baru dalam diri kita. Apakah itu namanya investor asing, ratu adil, juru selamat, barang-barang yang membawa kemakmuran dlsb. Postingan Nayan Batam (kita sebaya nge me, Antonius?) jadi mengingatkan saya pada Editorial Sora Sirulo XVI (Januari 2008) yang sentuhannya juga mengingatkan kita bahwa hidup adalah juga investasi. Artinya, tanpa adanya investor dari luar pun kita wajib berinvestasi untuk hidup kita sendiri. Sekolah/ kuliah adalah sejenis investasi. Hanya ada satu yang hendak kutambahi dari postingan Nayan Batam, mengoptimalkan potensi yang ada (bukan potensi yang mbera-mbera reh) sebaiknya diarahkan oleh tujuan. Kalau tujuannya agar kita mandiri dalam soal pangan (swasembada pangan), apakah ini akan pernah tercapai? Maksud saya, kalau settingnya Tanah Karo (atau Kab. Karo), apakah mungkin akan pernah swa sembada ikan laut? Kalau settingnya Indonesia, swa sembada pangan bisa kita artikan tak perlu mengimpor makanan dari luar negeri. Tapi, maksud saya yang lebih mendasar adalah, apa yang sebenarnya mau dicapai (tujuan/ sasaran) sering tidak jelas. Tidak jelas bagi orang yang melaksanakannya, maksud saya. Dari atas (top down), pejabat pemerintah dan akademisi sering kali berbicara tentang swa sembada (termasuk pangan), sedangkan orang yang harus bergerak agar swa sembada itu tercapai (rakyat kebanyakan) tidak mengerti apa itu swa sembada. Sejujurnya, saya sendiri tidak mengerti apa itu swa sembada pangan. jg --- In [email protected], Anthony Malem Ukur <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dapatkah Tanah Karo menjadi Swasembada > Pangan????...Why Not > > Mungkin pertanyaan dan peryataan di atas di anggap > suatu keniscayaan, apalagi bila kita melihat saat ini > hutan di tanah KARO yg konon kabar nya sudah mulai > berkurang/tidak berimbang lagi luasnya yang di > akibatkan oleh perambahan hutan. > Para penduduk yang mungkin ikut memotong kayu tersebut > dan menjualnya tidaklah dapat di salahkan sepenuhnya, > kerena mereka pastilah mempunyai alasan yang tentu > saja "end of reason-nya" adalah kebutuhan akan "uang" > untuk memenuhi kebutuhan "beltek". > > Salah satu kondisi yang di butuhkan oleh tumbuhan > selain pupuk adalah tetap terjaganya pasokan air. > Dengan pasokan air yang terjaga selama tumbuhan > tersebut hidup maka, factor keberhasilan panen lebih > besar. > Bila di musim hujan atau pun musim ½ hujan, mungkin > hal ini tidak jadi masalah, kerena pasokan air bisa > tetap di berikan oleh YANG MAHA KUASA, namun bagaimana > bila di musim kemarau?????? > > Teknologi pada saat ini sudah bisa dan boleh dikatakan > "cukup" untuk bisa memenuhi kebutuhan tanaman tersebut > pada musim kemarau, sehingga para petani juga bisa > menanam juga pada musim kemarau. > Tentu hal ini akan memberikan nilai tambah ( Ekonomi) > bagi para petani kerena biasanya bila datang musim > kemarau, maka harga2 di "Tiga" akan menaik kerena > kurangnya supply ke Pasar, disisi lain hal ini akan > menjadikan tanah tersebut tetap berproduksi tanpa > harus menunggu musim kemarau berakhir. > Dalam rentang waktu yang berjalan , hal ini akan > menjadikan stok pangan di Tanah Karo akan bertambah > dan bertambah dan bertambah hingga menjadi swasembada > Pangan. > > Lalu apa yang harus di lakukan?????? > Salah satunya adalah tersedianya AIR dan Alat untuk > pendistribusian air tersebut ke ladang2 yang > berlangsung secara terus menerus. > "Lho?????? Ini kan memerlukan Listrik untuk > menjalankan pompa secara terus menerus, kan akan > memakan biaya besar untuk pemakaian listrik" > Benar di butuhkan biaya listrik untuk menjalankan > pompa secara terus menerus, namun biaya tersebut kita > dapat tekan seminimum mungkin dengan memanfaatkan > sumber alam yang telah di berikan YANG KUASA kepada > Tanah Karo untuk membangkitkan listrik swadaya ..so > kenapa tidak kita manfaat kan secara Maximal?????? > Sesungguhnya banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan > dari sumber alam yg ada > > Bujur ras mejuah-juah > > Nayan-Batam > > > > ______________________________________________________________________ ______________ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ >
