Ada perbedaan situasi antara Soekarno dan Soeharto. Ketika Soekarno 
jatuh, semua pendukungnya dipangkas habis dan dia diisolasi (perlu 
ijin khusus bagi siapa saja yang mengunjunginya) - bahkan baca koran 
pun tidak diperbolehkan. Ketika kesehatannya memburuk, perawatan yg 
diberikan jauh dari memadai.  Kartono Mohamad, mantan ketua IDI baru-
baru ini bicara soal itu di tv.

Ketika Soeharto jatuh, krooninya masih bercokol dimana-mana shg 
praktis pengaruhnya masih kuat - duitnya juga banyak. Tidak heran 
ketika dia jatuh sakit, tim dokter kepresidenan terdiri dari dokter2 
pilihan. Lalu muncul pernyataan bhw biaya perawatan itu dari kantong 
pribadi, belum ada permintaan dari keluarga kepada pemerintah, 
Mensesneg.

Apa makna semua ini? Itu yang perlu direnungkan kalau kita ingin 
bijaksana dan jadi pemenang. Bukan dengan membuangnya dari 
pergumulan di dalam pikiran kita. Biar kita bisa renungkan bangsa 
macam apa kita sebenarnya.

Konon, Megawati pernah menghadap Soeharto dgn menangis agar Bung 
Karno diperlakukan secara manusiawi. Tapi Soeharto tidak memenuhi 
permintaan itu. Ketika Soeharto jatuh Megawati lah yang pertama kali 
meminta agar Soeharto jangan dihujat.

Kelemahan Soekarno, dia tidak pernah tahan melihat wanita menangis. 
Pasti dia akan memenuhi permintaan wanita itu. Lihat biografi Oei 
Tjoe Tat. Soeharto? Jangankan menangis, lebih dari itu, sudah 
terbukti, tiadak ada yang membuat hatinya tergerak. Tapi kalau dia 
membenci seseorang, atau dianggap sebagai lawan, tindakannya kontan 
dan tegas. 

Apa arti semua ini? Biar kita tahu, bangsa macam apa sebenarnya kita 
ini. Ketika menghadapi musuh politik, the smiling general itu 
sanggup berbuat sekejam apapun. Kita melihatnya dari kacamata 
politik, pokok bukan dari sudut agama atau kepercayaan. Lalu orang 
masih mengelu-elukannya, malah mau (diusulkan) dikasi gelar pahlawan 
nasional. 

Semua harus dilihat dengan obyektif, jadi jangan tergesa-gesa kata 
pakar sejarah. Pengakuan terhadap jasa-jasa Bung Karno pun dulu 
makan waktu kata mereka.



sg


--- In [email protected], Anthony Malem Ukur 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> MJJ....
> 
> ada NASEHAT dari orang tua;
> 
> "BELAJARLAH DARI KESALAHAN YG SUDAH PERNAH TERJADI DAN
> JANGAN PERNAH MENGULANGINYA.
> BILA ENGKAU MENGULANGINYA, APA BEDANYA ENGKAU DENGAN
> PEMBUAT KESALAHAN.
> BILA ENGKAU MEMBENCINYA APA BEDA DENGAN ENGKAU DENGAN
> PEMBUAT KESALAHAN"
> LEPASKANLAH KEBENCIAN ITU DAN BELAJARLAH SEHINGGA
> ENGKAU MENJADI BIJAKSANA DAN BERBEDA DENGAN PEMBUAT
> KESALAHAN KERENA DISINILAH LETAK KEMENANGAN ITU"
> 
> ...........(KAPITAL meaning not angry)............
> 
> Semoga kita bisa dengan bijak dan arif serta
> se-objective mungkin melihatnya.
> 
> Bujur ras mejuah-juah
> 
> Nayan-Batam
> 
> 
> 
> --- libra_denta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970.
> > 
> > Ruangan *intensive care* RSPAD Gatot Subroto
> > dipenuhi tentara sejak pagi.
> > Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga
> > penuh di beberapa titik
> > strategis rumah sakit tersebut.
> > Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian
> > preman juga hilir mudik
> > di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.
> > 
> > Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa.
> > Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden
> > Soekarno akan dibawa ke
> > rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso
> > yang hanya berjarak
> > lima kilometer.
> > 
> > Malam ini desas-desus itu terbukti.
> > Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk
> > ukuran seorang mantan
> > presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan.
> > Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur.
> > Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat
> > berkuasa ini terus
> > memejamkan mata.
> > Suhu tubuhnya sangat tinggi.
> > Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya
> > kian menggerogoti
> > kekuatan tubuhnya.
> > 
> > Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan
> > sebab itu banyak
> > digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak
> > ubahnya bagai sesosok
> > mayat hidup.
> > Tiada lagi wajah gantengnya.
> > Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah
> > membengkak, tanda bahwa
> > racun telah menyebar ke mana-mana.
> > Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan
> > permukaan bulan.
> > Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa
> > dengan pidato-pidatonya
> > yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan
> > kering.
> > Sebentar-sebentar bibirnya gemetar.
> > Menahan sakit.
> > Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit
> > dan mencakar udara,
> > kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian
> > kurus.
> > 
> > Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
> > 
> > Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari
> > Fatmawati diizinkan
> > tentara
> > untuk mengunjungi ayahnya.
> > Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak
> > mampu membuka matanya,
> > kedua mata Mega menitikkan airmata.
> > Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga
> > manusia yang paling
> > dicintainya ini.
> > 
> > "Pak, Pak, ini Ega…"
> > 
> > Senyap.
> > 
> > Ayahnya tak bergerak.
> > Kedua matanya juga tidak membuka.
> > Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah
> > bergerak-gerak kecil,
> > gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri
> > sulungnya itu.
> > Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati.
> > Tapi dia tidak mampu membuka matanya.
> > Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan
> > sesuatu untuk puteri
> > sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk
> > sekadar menulis.
> > Tangannya kembali terkulai.
> > Soekarno terdiam lagi.
> > 
> > Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat
> > terpukul.
> > Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik
> > jatuh.
> > Kian deras.
> > Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu
> > tangan.
> > Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan
> > limbung.
> > Mega segera dipapah keluar.
> > 
> > Jarum jam terus bergerak.
> > Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga
> > lengkap dengan senjata.
> > 
> > Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno
> > ambrol.
> > Dia coma.
> > Antara hidup dan mati.
> > Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
> > 
> > Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta
> > diizinkan mengunjungi
> > kolega lamanya ini.
> > Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri
> > pembaringan Soekarno dengan
> > sangat hati-hati.
> > Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya,
> > Soekarno berhasil
> > membuka matanya.
> > Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno
> > berkata lemah.
> > 
> > "Hatta.., kau di sini..?"
> > 
> > Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
> > Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika
> > dirinya bersedih.
> > Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang
> > mencabik hati, Hatta berusaha
> > menjawab Soekarno dengan wajar.
> > Sedikit tersenyum menghibur.
> > 
> > "Ya, bagaimana keadaanmu, No?"
> > 
> > Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di
> > masa lalu.
> > Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.
> > Panasnya menjalari jemarinya.
> > Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat
> > dihormatinya ini.
> > 
> > Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan
> > lemah, dia balik bertanya
> > dengan bahasa Belanda.
> > Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika
> > mereka masih bersatu dalam
> > Dwi Tunggal.
> > 
> > "*Hoe gaat het met jou…?*"
> > Bagaimana keadaanmu?
> > 
> > Hatta memaksakan diri tersenyum.
> > Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
> > 
> > Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
> > 
> > Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan
> > seperjuangannya, bagai bayi
> > yang
> > kehilangan mainan.
> > Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya.
> > Pertahanannya bobol.
> > Airmatanya juga tumpah.
> > Hatta ikut menangis.
> > 
> > Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling
> > berpegangan tangan seolah
> > takut berpisah.
> > Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang
> > sangat dikaguminya ini
> > tidak akan lama lagi.
> > Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa
> > pukulan yang dialami
> > sahabatnya ini.
> > Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang
> > tidak punya nurani.
> > 
> > "No…"
> > 
> > Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.
> > Hatta tidak mampu mengucapkan lebih.
> > Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus
> > kekecewaannya.
> > Bahunya terguncang-guncang.
> > 
> > Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada
> > penguasa baru yang sampai
> > hati menyiksa bapak bangsa ini.
> > Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno
> > tidak bersesuaian,
> > namun hal itu sama sekali tidak merusak
> > persabatannya yang demikian erat
> > dan tulus.
> > 
> > Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya
> > ini kembali
> > memejamkan
> > matanya.
> > 
> > Jarum jam terus bergerak.
> > Merambati angka demi angka.
> > 
> > Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
> > 
> > Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi
> > Soekarno 
> === message truncated ===
> 
> 
> 
>       
_____________________________________________________________________
_______________
> Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
> http://www.yahoo.com/r/hs
>


Kirim email ke