Kabanjahe, (Analisa)
Akibat naiknya harga pupuk buatan luar negeri dan fungisida pestisida
ditambah menghilangnya pupuk bersubsidi dari pasaran serta dibarengi anjeloknya
harga komoditi pertanian, petani yang berada di Tanah Karo menjerit.
Keluhan ini di sampaikan sejumlah petani kepada Wartawan Selasa (29/1) di
Berastagi dan Kabanjahe.
Seperti yang di utarakan Kris Ginting (46), M surbakti (59) keduanya warga
Kabanjahe dan K Bangun (50), Ginting (47) warga Berastagi menuturkan bahwa
harga dari pupuk saat ini sangat tinggi sekali seperti NPK Basf dari
168.000/sak menjadi 345.000/sak, Patent Kali Buptir (Px butir) dari 185.000/sak
menjadi 385.000/sak,Amapost dari 135.000 menjadi 280.000/sak, Ferf ek Biru dari
200.000/sak menjadi 365.000/sak, pupuk can 135.000/sak menjadi 235.000/sak,
pupuk hdryo dari 185.000 menjadi 365.000/sak yang
Sementara hara pestesida seperti Trineb 1 Kg dari 40.000 menjadi 50.000 dan
begitujuga Herbesida seperti Raundup 1 Liter dari 48.000 menjadi 78.000.
Semuanya ini adalah pupuk dan pestesida buatan luar negeri atau pupuk sawasta
sementara pupuk yang di subsidi oleh pemerintah seperti Urea, ZA, SP,dan
Phonska sangatt sulit untuk di dapatkan atau langka dari pasaran, ujar mereka.
Hasil dari komoditi para petani yang dijual ke pasaran sangat anjlok sekali
atau dengan kata lain modal yang dkeluarkan sewaktu menanam tidak sesuai dengan
harga jualnya di tambah lagi dengan mahalnya harga pupuk dan pestisida saat
ini.
jangankan untuk dapat untung Pak, modal saja tidak dapat kembali dengan
harga pupuk saat ini, ujar Ginting sedih.
Di tanya tentang adanya pupuk bersubsidi yang di salurkan oleh pemerintah,
Ginting mengatakan, memang ada pupuk bersubsidi tersebut, namun untuk
memperolehnya sangat sulit sekali dan kalaupun ada pupuk bersubsidi tersebut
harus di beli dengan salah satu pupuk swasta atau dengan kata lain harus
digandeng katanya lagi.
Untuk itu, kata kedua bapak ini menghimbau kepada Pemkab Karo agar dapat
menstabilkan harga pupuk dan obat petanian, sebab kami (petani red) sudah resah
dan was-was sekali dengan kondisi seperti ini, sebab jika hal ini berlarut
larut maka kami tidak akan sanggup lagi bercocok tanam akibat melambungnya
harga bahan kebutuhan petani ini.
Sekali lagi kami meminta kepada Pemerintah untuk secepatnya menstabilkan
hara pupuk ini, karena untuk kebeutuhan hidup sehari-hari saja sangat sulit di
tambah lagi dengan naiknya pupuk dan obat-obatan pertanian, dikhawatirkan kami
akan kehilangan mata pencaharian sebagai petani, ujar petani.
Ketika hal ini di konfirmasikan kepada salah satu pengencer pupuk yang ada di
Pusat pasar Berastagi tentang naiknya harga pupuk serta langkanya pupuk
bersubsidi memang mengakui adanya kenaikan pupuk saat ini.
Menyangkut pupuk bersubsidi yang langka dan harus di gandeng dengan pupuk
swasta juga diakuinya. Memang pupuk bersusbidi harus di gandeng dengan pupuk
sawasta lainya karena kami juga mendapatkan pupuk tersebut dari Distributor
juga harus di gandeng dengan pupuk sawasta lainnya, ujar J tarigan salah satu
pegadang di Berastagi.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Plt Kadis Perindagtamben Ir Hendri
Ginting, Selasa (29/1) di ruang kerjanya memang mengakui kenaikan pupuk saat
ini, kenaikan pupuk ini katanya diakibatkan oleh naiknya Bahan Aktif pupuk
tersebut, di mana pupuk itu adalah buatan dari luar negeri.
Ditanya tentang upaya dari Pemkab karo dalam hal ini Deperindagtamben dalam
mengatasi kenaikan pupuk tersebut, Hendri Ginting mengatakan bahwa pihaknya
telah melakukan sosialisasi pemakaian pupuk organik kepada para petani belum
lama ini di Desa Samura Kecamatan Kabanjahe.
Sosialisasi yang kita lakukan hanya sebagai contoh saja, sebab hal ini bukan
tugas kita melainkan tugas dari Dinas Pertanian, kata Ginting.
Ketika hal ini di konfirmasi kepada Kadis Pertanian Kabupaten karo Selasa
Sore (29/1) ke kantornya tidak berhasil ditemui, menurut stafnya kadis sedang
keluar. (ps)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.