Mejuah-juah permilis sirulo Enda sitik obrolan simbisa Simbisa
Perang antara kalak simbisa ini sudah sering terjadi di Indonesia setelah keruntuhan rezim Orba. Tadinya baju hijau (ABRI) de fakto berada diatas polisi. Sekarang polisi tidak dibawah ABRI lagi, sama tinggi sama rendah, kira-kira begitu pandangan mereka. Perang ini selalu ada hubungannya dengan pembagian rezeki, walaupun lidah diputar kesana kesini tetapi sebab dasar ini tidak bisa dielakkan. Karena itu selama suasana dan syarat ini masih berlaku di Indonesia, selama itu akan berlanjut perang simbisa ini. Di negeri maju, Eropah misalnya, tidak ada kejadian begini atau jarang sekali, karena kedua simbisa ini jelas tempat sosialnyua di masyarakat atau di setiap negara bersangkutan. Tidak mungkin ada kekeliruan antara tugas-tugas kedua badan ini. Di Indonesai belum ada peraturan jelas pembagian tugas mereka. Dan yang paling menonjol ialah bahwa simbisa ABRI masih menganggap dirinya simbisa, artinya belum rela melepaskan kejayaan dulu atau rezeki dulu. Dalam bahasa Karo atau persepsi orang Karo pada istilah 'simibsa' mempunyai makna tersendiri, bukan hanya sebagai nama. Kata ini mempunyai makna kebesaran atau kepahlawanan, seseorang yang berjasa untuk banyak orang karena keberaniannya berkorban. Tetapi biasa juga sebagai nama julukan atau sindiran bagi orang 'kuat' dan bertindak kejam terhadap banyak orang lain, simbisa Soeharto misalnya atau juga orang-orang militer atau polisi (orang-orang bersenjata). Kalak simbisa dalam pengertian tradisionil Karo umumnya bukanlah orang-orang bersenjata, artinya dalam kata itu tersirat pengertian simpati dan kecintaan serta disegani, bukan karena dia punya senjata yang ditakuti. Oarang-orang yang dijuluki 'simbisa' karena senjatanya, sesungguhnya adalah orang-orang pengecut berjiwa kecil, karena kalau lawannya mempunyai senjata yang sama, mereka ini akan berubah jadi tikus- tikus kecil tak berharga. Kita masih ingat bagaimana simbisa Amerika di Vietnam jadi tikus kecil lari terbirit-birit dari perlawanan bersenjata rakyat Vietnam walaupun senjata mereka jauh lebih primitif dari senjata orang Amerika, tetapi sama-sama bersenjata. Begitu juga nasib simbisa Soviet di Afganistan. Nasib simbisa Orba lebih baik, tidak mengalami nasib buruk seperti Amerika dan Soviet, belum pernah jadi tikus kecil walaupun tikus kecil atau paling tinggi si "perubat-rubat" salin kata Eddy. MUG -- --- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > TNI & Polisi Perang, 2 Tewas & 5 Disandera > > AMBON - Personel Batalyon Infanteri (Yonif) 731/Kabaressy dan Polres Maluku Tengah (Malteng) terlibat bentrok di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, sejak pukul 04.15 Wit, Sabtu (2/2/2008). > > Akibatnya, Masohi lumpuh total karena masyarakat tidak berani keluar rumah, akibat personel dari kedua kesatuan tersebut saling berhadapan dengan menggunakan senjata organik maupun granat. > > Insiden yang belum diketahui penyebabnya secara pasti tersebut mengakibatkan dua personel polisi tewas, yaitu Bripka Michael Wattimena (36), anggota Satuan Intel Polres Malteng yang tertembak pada bagian belakang yang menembus perut, dan Bripda Musri Siolimbona yang terkena tembakan pada bagian pelipis. > > Dua personel polisi juga dikabarkan luka berat namun belum diketahui identitasnya. Sementara lima personel polisi lainnya kini sementara disandera di Markas Komando (mako) Yonif 731/Kabaressy. (Izaac Tulalessy/Trijaya/jri) > > > Best Regarts > > www.dausmedia.cjb.net
