Soekarno adalah salah satu "history maker" terbesar
dan orang paling berjasa bagi Indonesia. Banyak
predikat diberikan kepadanya seperti: Proklamator,
Penyambung Lidah Rakyat, Pemimpin Besar Revolusi,
Paduka Yang Mulia, the Founding Father dll. 

Kharismanya demikian luar biasa, diakui oleh kawan
maupun lawan. Orang takjub dan bagaikan tersihir
tatkala mendengar dia berpidato. Seringkali orang lupa
akan kesulitan ekonomi dan duka nestapa manakala dia
berbicara.Itulah sekilas tentang kehebatan dan
kualitas diri seorang Soekarno. 

Lantas, bagaimana dengan Megawati?
Seorang Megawati yang sukses menjadi Ketua Umum Partai
Politik kedua terbesar di negeri ini, bahkan berhasil
menjadi Presiden RI mengikuti jejak bapaknya. 

Megawati selalu membawa nama besar bapaknya kemanapun
dia pergi. Terbukti, di mana ada Megawati maka di situ
ada cerita dan poster Soekarno. Jelas, Megawati tidak
pernah percaya diri alias hanya memanfaatkan nama
besar Soekarno.

Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Megawati dapat
berhasil tanpa nama besar Soekarno? Jawabnya relatif.

Tapi bagi saya, perbandingan Soekarno dengan Megawati
ibarat langit dan bumi, bahkan ada sebagian orang yang
eneg saat mendengar dia berbicara karena nada
bicaranya memang paling tidak enak didengar.

Karenanya, silent is golden adalah paling tepat
buatnya  sebagaimana sering dipraktekkan saat terdesak
atau tutup mulut selamanya alias mundur dari dunia
politik dan menjadi IRT saza.

Eeeeeeeaaak, uga ningkena aron....





--- MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bung Karno Pesan Megawati Tidak Bicara yang Bisa
> Pecah Belah Bangsa      Bandarlampung, (Analisa)  
> Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa Bung Karno
> pernah memberi pesan kepadanya untuk tidak berbicara
> tentang kondisi bangsa dan kehidupan keluarga Bung
> Karno sampai tiba waktu yang tepat, agar tidak
> memecah belah persatuan bangsa.   Pada sambutan saat
> peresmian kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi
> Lampung, di Bandarlampung, Minggu siang, Ketua Umum
> DPP PDIP itu mengungkapkan salah satu pesan dan
> wejangan Bung Karno itu kepada dirinya, yang tetap
> diingat dan dijalankannya sampai sekarang.  
> Megawati dalam kesempatan itu menceritakan
> perjalanan hidup Bung Karno dan keluarganya,
> termasuk perjalanan hidupnya hingga bisa mengurus
> PDI yang sekarang menjadi PDI Perjuangan.  
> Menurutnya, saat Bung Karno sudah tidak lagi menjadi
> presiden, kondisi keluarganya juga mengalami tekanan
> yang berat.   Bahkan setelah Bung Karno meninggal
> dunia, seluruh keluarganya dilarang untuk
>  berorganisasi atau berbisnis, dan hanya
> diperkenankan menjadi rakyat biasa.   "Saya juga
> saat itu bukan tidak bisa menyelesaikan kuliah
> karena drop out atau tidak mampu, tapi karena waktu
> itu tidak dibolehkan untuk menyelesaikan kuliah,"
> ujar Mega pula.   Menanggapi kondisi berat itu,
> menurut Mega, Bung Karno justeru berpesan kepada
> dirinya dan keluarganya, untuk terus berjuang dan
> hidup apa adanya, termasuk terus menggali ilmu tanpa
> harus memaksakan diri menyelesaikan kuliah.   "Bapak
> berpesan belajar dan menggali ilmu pengetahuan dan
> teknologi itu, bisa dimana saja, tidak harus dari
> sekolah. Bisa belajar sendiri atau otodidak. Itulah
> yang saya jalankan sampai sekarang, sehingga bisa
> menjadi Ketua Umum PDI dan PDIP, menjadi Wapres dan
> Presiden," tutur Megawati lagi.   Dia juga
> dipesankan oleh Bung Karno, untuk tidak membuka
> kisah hidup dan perjuangan Bung Karno serta kondisi
> bangsa saat itu, karena kalau dibuka dapat
> "menghantam" pihak lain.   "Negara ini bisa pecah
> belah
>  kalau semua itu dibuka oleh keluarga Bung Karno,"
> ujar Mega pula.   Menurutnya, ia dipesan untuk tidak
> bicara tentang hal itu sampai waktunya datang,
> karena dapat mengancam kondisi persatuan bangsa
> Indonesia.   "Pesan Bapak itu saya patuhi, sehingga
> kami dan saya lebih banyak diam, tidak mau bicara,"
> kata Megawati.   Ia juga menyatakan, walaupun
> dirinya tidak bisa menyelesaikan kuliah, tapi tidak
> akan pernah takut untuk diajak diskusi oleh siapa
> saja, asalkan diskusi itu bukan bertujuan untuk
> memancing kondisi yang kurang baik bagi bangsa ini. 
>  "Saya pernah punya dendam karena kondisi sangat
> berat yang kami alami itu, tapi dendam itu sudah
> dibawa setelah Bapak meninggal dunia," katanya.   Ia
> juga mengaku sudah banyak kawan-kawan dan berbagai
> pihak yang mendorongnya untuk menuliskan perjalanan
> hidup sebagai salah satu saksi hidup sejarah bangsa
> Indonesia sejak presiden pertama, Bung Karno, sampai
> sekarang.   Namun Megawati mengaku, masih menunggu
> waktu yang tepat sesuai
>  pesan Bung Karno, sekaligus mencari penulis yang
> benar-benar mampu dan dapat menuliskan intisari
> perjalanan hidup yang akan diceritakannya seperti
> kondisi yang sebenarnya.   "Nantilah, pada saatnya
> semua itu akan saya tulis dan bukukan secara
> khusus," janji Megawati. (Ant)   
> 
>        
> ---------------------------------
> Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare
> bredbandsuppkoppling.
> Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke