MJJ: Adi esah gedang-gedang, aku lit ka si banci i peseh (CoPas dari milis
tetangga):
AKU AKAN MENGGENDONG KAMU SETIAP PAGI SAMPAI KITA TUA
Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku
untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki
rumah kami.
Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat
bahagia. Ini adalah kejadian 20 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya
berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan
kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap
pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada
waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri.
Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah
dipengaruhi oleh
perubahan yang tidak kusangka-sangka.
Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku
berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali
lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
kubelikan untuknya. DewI berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang
menarik para gadis."
Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan
menjadi sangat menarik bagipara gadis." Berpikir tentang ini, Aku
menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi
aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dewi dan
berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada
sedikit urusan dikantor"
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku
walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit
untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku
jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang
istri yang baik.
Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan
TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama.
Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh DewI. Ini adalah
hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon,
"Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? " Ia menatap
padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya
bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak
bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu
bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, DewI baru saja keluar dari
ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh
simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama
berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum
pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada luka di matanya.
Sekali lagi, DewI berkata padaku," He, ceraikan dia, O.K.? Lalu kita
akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu
lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang
tangannya,
"Adasesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa
bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku
tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.
"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara
lembut,
"kenapa?"
"Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia
sangat marah.Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan
laki-laki!".
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku
tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku
telah dibawa pergi oleh DewI. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku
menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan
30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya
jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati.
Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang
yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang
telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana
hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya
merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku
dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.
Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku
melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku
tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia
tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu
sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus
hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami
akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan
lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,"Apakah kamu masih
ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah
kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu.
Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku
sapai pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan
ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke
pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa
kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri
dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dewi soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia
tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik
yang ia lakukan, ia harus menerima hasil dari perceraian ini," Dewi
mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan
perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku
membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami
menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali"
Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk,
lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia
memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,
jangan memberitahukan pada anak kita."
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu.
Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi
kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat
sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku
telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat
bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar,
hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku
membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang
suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dewi
menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika,
aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan
kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini.
Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke
kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya
tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku
sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa
tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku
kebesaran".
Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya ia semakin kurus. itu
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku
semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.
Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh
kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya
membopong mama keluar"
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian
yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan
merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku
akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku,
berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya
memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat
seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak
pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
"Sesungguhnya aku berharap kamu akan
membopongku sampai kita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
"Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi
membuka pintu. Aku berkata padanya,
" Maaf Dewi, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku,
kaget. Ia menyentuh dahiku.
"Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dewi, Aku
cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah
tanggaku
membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari
kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang
aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah
melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf
padamu"
Dewi tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni
tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko
bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku
tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita
tua.."
----- Original Message ----
From: Abdi J Munthe <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 8, 2008 9:04:59 AM
Subject: [tanahkaro] fw:Pasagan-mu
Read it...
Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya
pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya",
Tuhan menjawab.
Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang
saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah
mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh
pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria
pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya
inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati
saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan
Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah
benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"
Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu.
Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu
karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah
adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih
kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang
pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi
engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun
engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan
kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau
cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang
sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu,
dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan
menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka
panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling
menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama
lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu
kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku
memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".
Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan
yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.
J I K A........
Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
Ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia
akan menderita selagi ia masih hidup.
Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat
melupakan segalanya selagi dia mengingat... . ..
Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar
keperluanmu. ......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan
lagi.....
Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... . .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu
istimewa.... .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk
menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
Hingga ke akhirnya.... .
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa
kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, dan
coba bandingkannya dengan yang lain.
Janganlah terlalu mengejar kesempurnaan.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ