Pers Sudah Mulai Belajar Dari Kesalahan

Waspada Sore (Februari 8th, 2008)

Surabaya ( Berita ) :  Pendiri Lembaga Konsumen Media (LKM) Sirikit
Syah menilai pers nasional saat ini sudah mulai dapat belajar dari
kesalahan pemberitaan. "Dulu, pers tidak pernah salah, karena pejabat
langsung telepon, sehingga saat era reformasi menjadi liar," katanya
kepada ANTARA di Surabaya, Jumat [08/02] .

Ia mengemukakan hal itu terkait Hari Pers Nasional pada setiap 9
Februari yang selama ini dicanangkan PWI, sedang AJI merujuk Hari Pers
Internasional pada setiap 4 Mei.

Menurut pengamat media dan penggerak "peace journalism" di Jawa Timur
itu, kebebasan yang liar sejak era reformasi agaknya menjadi
pengalaman berharga.

"Karena itu, saya melihat pers nasional sekarang sudah sangat bagus,
karena dia sudah dapat belajar dari kesalahannya," katanya.

Penerima fellowship dari Nihon Shimbun Kyokai (NSK) Jepang (1988) itu
mencontohkan kasus "cover" Majalah TEMPO edisi 50/XXXVI/04-10 Februari
2008. "TEMPO sering tertimpa kasus dan sering melayani hingga ke
pengadilan, tapi dalam kasus `cover' yang diprotes umat Katholik itu,
TEMPO minta maaf," katanya. Hal serupa, kata Sirikit Syah yang juga
salah seorang pimpinan STIKOSA-AWS Surabaya itu, juga sudah menjadi
pelajaran bagi pers nasional.

"Jadi, pers nasional sudah lepas dari kebebasan yang liar. Mereka
sudah belajar bertanggungjawab sendiri dengan belajar dari
kesalahan-kesalahannya," katanya.

Namun, kata alumnus West Minster University (2002) yang juga penerima
Hubert H. Humphrey Foundation (1994) itu, konglomerasi merupakan titik
lemah pers.  "Media cetak sekarang dipegang dua kelompok besar. Hal
itu akan membuat suara pers menjadi hanya dua suara, sehingga suara
yang berbeda sulit muncul," katanya.

Selain itu, kata penerima penghargaan "Ashoka" Jepang (2002) dengan
LKM-nya itu, konglomerasi pers juga membuat pers rentan dipermainkan
politisi. "Kalau pers sudah dikendalikan politisi dengan satu suara,
maka hal itu merugikan rakyat, karena itu kita harus mendorong
munculnya media massa independen, meski tak sebesar dua kelompok besar
itu," katanya. ( ant )

Kirim email ke