aduuuuuh,lagi jatuh cinta ya kade-kade....,

Nande Iting maklum lah...lai malam minggu, kekasih jauh di mata yaaa???!!


2008/2/8, shodan purba <[EMAIL PROTECTED]>:
>
>    MJJ: Adi esah gedang-gedang, aku lit ka si banci i peseh (CoPas dari
> milis tetangga):
>
> AKU AKAN MENGGENDONG KAMU SETIAP PAGI SAMPAI KITA TUA
>
> Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
> didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku
> untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki
> rumah kami.
>
> Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat
> bahagia. Ini adalah kejadian 20 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya
> berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
>
> Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
> untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan
> kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap
> pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada
> waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri.
> Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah
> dipengaruhi oleh
> perubahan yang tidak kusangka-sangka.
>
> Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku
> berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali
> lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
> kubelikan untuknya. DewI berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang
> menarik para gadis."
>
> Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
> menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan
> menjadi sangat menarik bagipara gadis." Berpikir tentang ini, Aku
> menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi
> aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dewi dan
> berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada
> sedikit urusan dikantor"
> Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
>
> Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku
> walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit
> untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku
> jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang
> istri yang baik.
>
> Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan
> TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama.
> Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh DewI. Ini adalah
> hiburan bagiku.
>
> Suatu hari aku berbicara dalam guyon,
> "Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? " Ia menatap
> padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya
> bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak
> bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu
> bahwa aku serius.
>
> Ketika istriku mengunjungi kantorku, DewI baru saja keluar dari
> ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh
> simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama
> berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum
> pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada luka di matanya.
>
> Sekali lagi, DewI berkata padaku," He, ceraikan dia, O.K.? Lalu kita
> akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu
> lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang
> tangannya,
> "Adasesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa
> bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku
> tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.
> "Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
> Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara
> lembut,
> "kenapa?"
> "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia
> sangat marah.Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan
> laki-laki!".
>
> Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku
> tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami.
> Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku
> telah dibawa pergi oleh DewI. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku
> menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan
> 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya
> jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati.
>
> Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang
> yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang
> telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana
> hal tersebut tidak  pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya
> merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku
> dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.
>
> Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku
> melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran.
> Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku
> tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia
> tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu
> sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus
> hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami
> akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan
> lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
>
> Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,"Apakah kamu masih
> ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
> kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah
> kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu.
> Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku
> sapai pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan
> ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke
> pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa
> kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri
> dengan suasana romantis.
>
> Aku memberitahukan Dewi soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia
> tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik
> yang ia lakukan, ia harus menerima hasil dari perceraian ini," Dewi
> mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.
>
> Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan
> perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku
> membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami
> menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali"
> Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk,
> lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia
> memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,
> jangan memberitahukan pada anak kita."
> Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu.
>
> Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi
> kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat
> sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku
> telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat
> bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
>
> Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar,
> hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku
> membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang
> suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dewi
> menjadi samar.
>
> Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
> seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika,
> aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan
> kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini.
>
> Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke
> kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya
> tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku
> sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa
> tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku
> kebesaran".
>
> Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya  ia semakin kurus. itu
> sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku
> semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.
> Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh
> kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya
> membopong mama keluar"
>
> Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian
> yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan
> merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku
> akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku,
> berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya
> memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat
> seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak
> pucat dan kurus, membuatku sedih.
>
> Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah
> dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
> "Sesungguhnya aku berharap kamu akan
> membopongku sampai kita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
> "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
>
> Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
> keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi
> membuka pintu. Aku berkata padanya,
> " Maaf Dewi, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku,
> kaget. Ia menyentuh dahiku.
> "Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dewi, Aku
> cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah
> tanggaku
> membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari
> kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang
> aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah
> melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf
> padamu"
>
> Dewi tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku
> dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni
> tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko
> bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
>
> Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku
> tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita
> tua.."
>
>
>  ----- Original Message ----
> From: Abdi J Munthe <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, February 8, 2008 9:04:59 AM
> Subject: [tanahkaro] fw:Pasagan-mu
>
>  *Read it...*
>
>
>
> Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta
>
> Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya
> pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya",
> Tuhan menjawab.
>
> Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan
> yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah
> mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati,
> penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan
> kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.
>
> Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya
> inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam
> hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
>
> Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan
> dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah
> benar."
>
> Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
> memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"
>
> Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu.
>
> Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi
> keinginanmu *karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti
> engkau*. *Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan
> cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan
> seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah
> mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang
> yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."*
>
> Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan
> kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang
> engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari
> seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari
> tulangmu dan dagingmu, dan *engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam
> dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu*. Pernikahan adalah seperti
> sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana
> engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya
> bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan
> kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
> *Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna.
> Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".**
> *
> Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah
> dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.
>
> J I K A........
>
> Jika kamu memancing ikan.....
> Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
> Ikan itu.....
> Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
> Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin
> ia akan menderita selagi ia masih hidup.
>
> Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang...
> .
> *Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....**
> Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
> Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat
> melupakan segalanya selagi dia mengingat... . ..
> *
> Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
> takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar
> keperluanmu. ......
> Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya
> semula......
> Akhirnya ia dibuang..... .
> Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat
> dipergunakan lagi.....
>
> Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... . .
> Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya
> Begitu istimewa.... .
> Anggaplah ia manusia biasa.
> Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk
> menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
> Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
> Hingga ke akhirnya.... .
>
> Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
> Mengenyangkan. Berkhasiat.
> Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
> Terlalu ingin mengejar kelezatan.
> Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
> menyesal.
>
> Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa
> kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah,
> dan coba bandingkannya dengan yang lain.
> Janganlah terlalu mengejar kesempurnaan.
>
>
>
>
> ------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your 
> homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
>
> 
>

Kirim email ke