MJJ bebere:
Akap kami globalisasi erbahan piga2 tabu ibas kegeluhenta manjar2 reh urakna. 
Turi2n ngowah ndehara enda pe ndekah kuinget ras kusimpan (kudat bas email teh 
bas sada milis nari). Kupergermetken, sitik tehpe mbelin, perbeben perbapaan si 
lit bas turi2n enda hampir terjadi merata. Mekelek nai bas aku mamandu, he.. 
he.. he.. Pengarapenku la kam mehangke ngalo2 cakap sibagenda.
Sentabi
bp Nona Sampaguita   


----- Original Message ----
From: Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 8, 2008 10:24:21 PM
Subject: Re: [tanahkaro] fw:Pasagan-mu

Mjj Kalimbubu, romantis kal enda. Ups...egia ma labo mahangke adi nungkun ku 
Mamana soal si bagenda? 

shodan purba <shodanpurba@ yahoo.com> wrote: 
MJJ: Adi esah gedang-gedang, aku lit ka si banci i peseh (CoPas dari milis 
tetangga):
 
AKU AKAN MENGGENDONG KAMU SETIAP PAGI SAMPAI KITA TUA
 
Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti 
didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku 
untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki 
rumah kami. 

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat 
bahagia. Ini adalah kejadian 20 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya 
berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. 

Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha 
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan 
kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap 
pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada 
waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. 
Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah 
dipengaruhi oleh 
perubahan yang tidak kusangka-sangka. 

Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku 
berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali 
lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang 
kubelikan untuknya. DewI berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang 
menarik para gadis." 

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru 
menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan 
menjadi sangat menarik bagipara gadis." Berpikir tentang ini, Aku 
menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi 
aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dewi dan 
berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada 
sedikit urusan dikantor" 
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. 

Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku 
walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit 
untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku 
jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang 
istri yang baik. 

Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan 
TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. 
Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangk an tubuh DewI. Ini adalah 
hiburan bagiku. 

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, 
"Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? " Ia menatap 
padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya 
bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak 
bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu 
bahwa aku serius. 

Ketika istriku mengunjungi kantorku, DewI baru saja keluar dari 
ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh 
simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama 
berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum 
pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada luka di matanya. 

Sekali lagi, DewI berkata padaku," He, ceraikan dia, O.K.? Lalu kita 
akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu 
lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang 
tangannya, 
"Adasesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa 
bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku 
tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. 
"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. 
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara 
lembut, 
"kenapa?" 
"Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia 
sangat marah.Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan 
laki-laki!". 

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku 
tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. 
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku 
telah dibawa pergi oleh DewI. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku 
menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 
30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya 
jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. 

Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang 
yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang 
telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana 
hal tersebut tidak  pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya 
merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku 
dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. 

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku 
melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. 
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku 
tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia 
tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu 
sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus 
hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami 
akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan 
lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. 

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,"Apakah kamu masih 
ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan 
kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah 
kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu. 
Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku 
sapai pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan 
ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke 
pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa 
kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri 
dengan suasana romantis. 

Aku memberitahukan Dewi soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia 
tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik 
yang ia lakukan, ia harus menerima hasil dari perceraian ini," Dewi 
mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. 

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan 
perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku 
membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami 
menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" 
Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, 
lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia 
memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini, 
jangan memberitahukan pada anak kita." 
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. 

Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi 
kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat 
sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku 
telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat 
bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. 

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, 
hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku 
membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang 
suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dewi
menjadi samar. 

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, 
seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, 
aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan 
kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini. 

Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke 
kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatann ya 
tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku 
sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa 
tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku 
kebesaran". 

Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya  ia semakin kurus. itu 
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku 
semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. 
Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh 
kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya 
membopong mama keluar" 

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian 
yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan 
merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku 
akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, 
berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya 
memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat 
seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak 
pucat dan kurus, membuatku sedih. 

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah 
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, 
"Sesungguhnya aku berharap kamu akan 
membopongku sampai kita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata 
"Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra". 

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut 
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi 
membuka pintu. Aku berkata padanya, 
" Maaf Dewi, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, 
kaget. Ia menyentuh dahiku. 
"Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dewi, Aku 
cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah 
tanggaku 
membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari 
kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang 
aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah 
melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf 
padamu" 

Dewi tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku 
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni 
tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko 
bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. 

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku 
tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita 
tua.."


----- Original Message ----
From: Abdi J Munthe <[EMAIL PROTECTED] com>
Sent: Friday, February 8, 2008 9:04:59 AM
Subject: [tanahkaro] fw:Pasagan-mu


Read it...
 
Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta 

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya 
pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", 
Tuhan menjawab. 

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang 
saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah 
mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh 
pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria 
pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan. 

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya 
inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati 
saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan 
Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah 
benar." 

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. 
Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu 
karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah 
adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih 
kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang 
pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi 
engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun 
engkau sendiri tidak..." 

Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan
kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau 
cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang 
sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, 
dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan 
menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka 
panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling 
menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama 
lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu 
kerjasama yang solid. 
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku 
memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan 
yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari. 

J I K A........

Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
Ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia 
akan menderita selagi ia masih hidup. 

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat 
melupakan segalanya selagi dia mengingat... . .. 

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar 
keperluanmu. ......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula...... 
Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan 
lagi.....

Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... . .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu 
istimewa.... .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk 
menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
Hingga ke akhirnya.... .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu. 
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa 
kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, dan 
coba bandingkannya dengan yang lain.
Janganlah terlalu mengejar kesempurnaan. 





Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 




Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke