Subject: Manusia Super di Jembatan Setiabudi
Date: Mon, 18 Feb 2008 10:06:56 +0700
Semoga bermanfaat :
Sekedar berbagi cerita didalam keindahan hari ini :
Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.
Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta, dua sosok kecil
berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik
hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung
jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan
lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
ucapan
"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang
laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan,
laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup
sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka
Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan
kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik
transparan .
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka
terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta
.
"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh
ribu rupiah.
"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food
court sebesar empat ribu rupiah.
"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya
kearah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman
saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk
memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia
bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka
berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu
bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar "Om, bisa
tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".
"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga
yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti
dulu Om, biar ditukar dulu ..sebentar"
"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia
meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.
" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue "
Buat apa ?" saya terbengong
"Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah
set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.
Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya
serta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain
menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..."
percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor
dengan seribu perasaan.
Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut
baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan
hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.
YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
MT
Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"
Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.
Salam,
Hindarta ----> Dari Milis Sebelah
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com