Mau Kemanakah Generasi Karo Masa Depan ?
Beberapa kali aku bertanya kepada anak TK dan SD di Kabanjahe, mau jadi
apakah mereka kalau sudah besar nanti. Banyak jawaban mereka TIDAK TAHU.
Ketika aku sedang bertamu ke rumah seorang saudara, anaknya laki-laki yang
sedang duduk di kelas I SD sangat serius menonton TV. Aku usik dia dengan
pertanyaan, Mau jadi apakah kalau sudah besar nanti? Aku tidak tahu. Kan aku
belum besar. Kita lihat nanti kalau sudah besar! Apakah kamu tidak mau
menjadi dokter atau pilot? Apa enaknya menjadi dokter atau pilot? responnya
sambil terus tidak mengalihkan matanya dari layar kaca menonton sinetron.
Ketika bekerja di Banda Aceh sebagai trainer untuk memotivasi pemuda dan
anak-anak korban tsunami, pertanyaan yang sama sering aku tanyakan. Hampir di
semua barak-barak penampungan yang kami ajar, jawaban dari pertanyaan mau jadi
apa kalau sudah besar akan terdengar sama. Sudah ada semacam kosa kata yang
sama yang akan digunakan oleh anak-anak untuk menjawab cita-cita mereka.
Cita-cita mereka tidak akan jauh-jauh dari menjadi tentara atau polisi, dan
hanya sedikit yang akan menjadi dokter atau perawat, dan yang lain-lain. Hal
itu sangat aku maklumi karena mereka sejak kecil sudah hidup dalam ketakutan
karena konflik yang berkepanjangan. Mereka sering mendengar suara tembakan dan
menyaksikan korban peluru nyasar. Sehingga menjadi tentara atau polisi yang
bisa memiliki senjata akan memberikan rasa aman bagi mereka.
Fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan orang Karo dalam hal
pendidikan? Apakah orang tua muda saat ini yang punya anak Balita, TK atau SD
sudah sangat jarang menanyakan cita-cita anaknya? Sehingga anak kecil itu tidak
pernah terpikir untuk menjadi apa di masa yang akan datang? Mungkinkah ini yang
membuat anak-anak semakin malas untuk belajar. Mereka tidak tahu apa gunanya
belajar. Anak yang masuk TK hanya tahu supaya bisa masuk SD mereka harus sudah
bisa membaca dan menulis. Banyak anak-anak tidak menemukan model yang bisa
ditiru dalam hal membaca di rumah. Selain itu tujuan dan manfaat bisa membaca
dan menulis itu tidak pernah meresap ke dalam diri anak. Malas membaca bukan
hal yang asing lagi bukan? Bahkan itu sudah menjadi budaya masyarakat kita yang
perlu didobrak. Tanpa punya tujuan dan harapan akan masa depan yang dia
cita-citakan, siapakah yang mampu hidup disiplin dan berjuang dalam hidup ini.
Kalau kita mengamati, saat ini banyak sekali anak-anak dan pemuda Karo yang
putus sekolah. Alasan tidak lanjut study kebanyakan bukan karena tidak ada uang
sekolah. Kemalasan, tidak punya semangat dan juga tidak termotivasi sedikitpun
untuk belajar adalah faktor yang paling utama. Mau kemanakah orang muda Karo di
era informasi ini?
Sebagai pengajar, aku sering merenungkan tentang kondisi ini.
Dengan globalisasi, izajah SMU tidak akan berarti. Kita hanya akan tetap
menjadi pekerja-pekerja yang mengandalkan tenaga fisik dan juga melakukan
bisnis yang tradisional. Era informasi dan globalisasi pasti akan menciptakan
peluang-peluang besar bagi mereka yang siap dan mampu untuk memanfaatkannya.
Perdagangan juga semakin tanpa batas. Oleh karena itu, kemajuan dan keunggulan
masa depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu
bersaing. Ketidakmampuan berarti kemunduran bahkan mungkin kehancuran.
Tapi kenyataannya, SDM kita sedikitpun tidak berbenah bahkan bisa dikatakan
tidak peduli dengan kemajuan dan perubahan yang sedang terjadi. Anak-anak
pulang sekolah lebih banyak bermain Play Station, pemuda bersarang di bilyard
yang bertaburan di lingkungannya. Anak yang menghabiskan banyak waktunya
bermain play station mungkin hanya tahu bahwa dunia ini adalah play station.
Pemuda yang menghabiskan banyak waktu di bilyard tanpa pernah belajar
pelajarannya dengan serius akan melihat bahwa dunia ini hanya sebatas meja
bilyard. Dunia tidak hanya play station atau bilyard tetapi sudah waktunya
orang muda dan anak-anak dibuka matanya bahwa dunia ini sangat luas dan banyak
sekali pilihan di dalamnya. Orang tua sudah saatnya mulai lebih tanggap dengan
masalah ini. Terutama yang di Tanah Karo dan juga di desa-desa karena
ketinggalan itu semakin nyata. Bahkan semangat meninggalkan kampung untuk
sekolah tinggi sepertinya sudah asing bagi sebagian pemuda desa.
Kita harus mengakui kalau pengangguran sangat tinggi di negara ini. Tetapi
itu bukan berarti kita menjadi pesimis dan malas belajar. Mungkin sekali orang
yang menganggur itu adalah yang memang waktu kuliah juga tidak serius menjalani
prosesnya. Mahasiswa Indonesia dekat sekali dengan budaya nyontek, kebut
semalam, bahkan membayar dosen biar lulus, bukan? Wajarkan kalau SDM kita
kurang sekali kualitasnya. Budaya kerja keras hampir tidak nyata di kehidupan
orang muda. Hidup instan membuat kita begitu malas dan juga tidak mampu
sedikitpun berjuang untuk melakukan yang terbaik sekalipun itu untuk diri
sendiri.
Sekolah itu perlu untuk membangun dasar jika punya cita-cita dan tujuan.
Cita-cita dan tujuan ini harus sudah dimulai sejak kecil. Perhatian keluarga
dengan sering bertanya mau menjadi apa kalau sudah besar akan menolong anak
memiliki mimpi masa depan. Anak yang memiliki mimpi masa depan tidak akan
berhenti sekolah ketika masih SD. Semakin banyak anak SD, SMP dan SMA yang
putus sekolah karena malas, aku pikir ini seperti kutukan yang akan kita lihat
dampaknya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
Beberapa teman-teman PERMATA di Medan berkumpul membuat kelompok dengan nama
Kandu-Kandu untuk menolong mencarikan beasiswa bagi anak-anak SD jemaat GBKP
yang putus sekolah. Kelompok ini sudah dibentuk lebih setahun yang lalu. Ketika
saya menanyakan apakah sudah ada anak yang mereka tolong, jawaban mereka sangat
membuat hati miris. Karena mereka sulit menemukan anak yang sangat membutuhkan
bantuan. Kenyataan lebih banyak anak putus sekolah bukan karena tidak ada
biaya, tetapi karena sejak kecil si anak sudah tidak mau sekolah. Mengetahui
kondisi ini yang terpikir olehku bukan kelompok PERMATA yang punya hati mencari
bantuan beasiswa, tetapi yang mau memperhatikan dan memotivasi anak-anak supaya
menjadi anak yang memiliki cita-cita dan berprestasi.
Penyiapan SDM menghadapi era informasi dan globalisasi sangat penting dan
sangat menentukan. Kemajuan ini menuntut manusia-manusia dengan ketahanan
iman, moral dan pribadi yang tangguh, keahlian dan kemampuan yang tinggi, daya
kreasi dan daya cipta yang hebat, wawasan yang luas, produktivitas, efisiensi
dan disiplin yang tinggi, agar mampu menjadi pengendali, pelaku yang kompetitif
dalam era informasi dan globalisasi. Oleh karena itu, kita tidak ada pilihan
lain daripada bekerja keras, berjuang dan berbuat yang terbaik untuk
meningkatkan kualitas diri sejak kecil. Kalau tidak, kita akan ketinggalan.
(Nomi Br Sinulingga)
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.