10 Besar USU Diragukan
*Humas USU: Laporan Globe Asia Magazine Objektif

Medan, WASPADA Online

Anggota DPRD Sumut meragukan keabsahan top ten (10 besar) yang
diberikan Globe Asia Magazine kepada Universitas Sumatera Utara (USU)
Medan.

Pada edisi Februari 2008, majalah tersebut dalam laporannya
menempatkan USU pada urutan 10 terbaik Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
dan menempati urutan 15 dari 20 besar perguruan tinggi negeri dan
swasta di Indonesia, yang dinilai berdasarkan skor.

Sementara, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) yang dirilis
Seputar Indonesia pada 16 Februari 2008, dari 2.684 universitas di
Indonesia, USU bahkan tidak termasuk dalam 50 besar perguruan tinggi
yang mempuyai kredibilitas nasional.

"Laporan yang disampaikan Globe Asia dengan Dikti sangat kontradiksi,
sehingga rangking 10 besar USU sangat diragukan," ujar Rafriandi
Nasution, Ketua Komisi E DPRD Sumut, yang juga alumni magister teknik
arsitektur USU kepada wartawan, Jumat (29/2) di Medan.

Dia menduga, penempatan USU sebagai top ten oleh orang-orang tertentu
dengan tidak berdasarkan kriteria Dikti terkait bisnis dilakukan
universitas. "Apalagi sampai diiklankan di harian nasional terbitan
Sumatera Bagian Utara, yang beritanya tidak beredar di Jakarta," sebutnya.

Rafriandi mengatakan, seharusnya universitas sekelas USU tidak perlu
melakukan trik seperti itu, menaikkan peringkat untuk menarik minat
mahasiswa baru. "Cukup masyarakat saja yang menilainya. Jika memang
berkualitas, tentunya masyarakat akan memilih USU," katanya.

Persoalan ini sebelumnya telah menjadi perhatian Tim Akreditasi
Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas, Priyo Suprobo, yang mengaku
kaget dengan hasil peringkat perguruan tinggi negeri dan swasta
dikeluarkan Globe Asia. Apalagi di rangking pertama duduk Universitas
Pelita Harapan (UPH), yang sekelompok dengan Globe Asia.

Total skor UPH (356) mengalahkan lima PTN besar seperti UGM (338), ITB
(296), IPB (283), Unair (279) dan ITS (258). Begitu pula PTS terkemuka
seperti Trisakti (263), Atma Jaya (243) dan Unpar (230). Semetara  USU
230.

Dia mengatakan, keanehan pertama, penggunaan kriteria yang meski mirip
lembaga pemeringkat internasional, tetapi memberi bobot berbeda.
Contohnya, bobot fasilitas kampus 16 persen, tetapi bobot kualitas
staf akademik (dosen) 9 persen. Lebih parah lagi, kualitas riset
dibobot 7 persen.

Keanehan kedua, kata Rafriandi, sub kriteria fasilitas kampus tidak
memasukkan kapasitas bandwidth sebagaimana standar akreditasi.
Keanehan ketiga, sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis
dasar apple to apple (kesederajatan).

Maka kata dia, ranking yang dilakukan Globe Asia dikhawatirkan menjadi
'penipuan' informasi kepada publik.

Hasil Penelitian Objektif
Menanggapi hal itu, Humas USU, Bisru Hafi, mengatakan, laporan majalah
Globe Asia merupakan hasil penelitian objektif karena mereka adalah
lembaga independen yang tidak punya kepentingan dan hubungan dengan
Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) di Sumut itu.

Menurutnya, hasil survey itu tentunya berdasarkan instrumen dan ukuran
yang sudah baku. Seperti hasil-hasil penelitian USU, sarana dan
prasarana yang ada, serta rasio perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa.

Ditambahkannya, USU sendiri melihat hasil survey sebagai suatu
prestasi yang membanggakan dan buah hasil kerja keras yang maksimal
dari seluruh civitas akademika USU. "Baik itu seluruh dosen, pegawai
dan mahasiswa," katanya.

Sumber: http://www.waspada.co.id/Berita/Medan/10-Besar-USU-Diragukan.html


Kirim email ke