Bagus pesan yg disampaikan tulisanmu ini Nomi...
Kenapa tidak ditulis/diterjemahkan dalam bahasa karo saja...
mungkin artinya akan lebih mengena dalam bahasa daerah...
sdg dimana kam skrg turang? medankah or kabanjahe...?
salam dr batam
siregar, erwin
--- nomi sinulingga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mau Kemanakah Generasi Karo Masa Depan ?
>
> Beberapa kali aku bertanya kepada anak TK dan SD di Kabanjahe, mau jadi
> apakah mereka kalau sudah besar nanti. Banyak jawaban mereka TIDAK TAHU.
> Ketika aku sedang bertamu ke rumah seorang saudara, anaknya laki-laki yang
> sedang duduk di kelas I SD sangat serius menonton TV. Aku usik dia dengan
> pertanyaan, Mau jadi apakah kalau sudah besar nanti? Aku tidak tahu. Kan
> aku belum besar. Kita lihat nanti kalau sudah besar! Apakah kamu tidak mau
> menjadi dokter atau pilot? Apa enaknya menjadi dokter atau pilot?
> responnya sambil terus tidak mengalihkan matanya dari layar kaca menonton
> sinetron.
>
> Ketika bekerja di Banda Aceh sebagai trainer untuk memotivasi pemuda dan
> anak-anak korban tsunami, pertanyaan yang sama sering aku tanyakan. Hampir di
> semua barak-barak penampungan yang kami ajar, jawaban dari pertanyaan mau
> jadi apa kalau sudah besar akan terdengar sama. Sudah ada semacam kosa kata
> yang sama yang akan digunakan oleh anak-anak untuk menjawab cita-cita mereka.
> Cita-cita mereka tidak akan jauh-jauh dari menjadi tentara atau polisi, dan
> hanya sedikit yang akan menjadi dokter atau perawat, dan yang lain-lain. Hal
> itu sangat aku maklumi karena mereka sejak kecil sudah hidup dalam ketakutan
> karena konflik yang berkepanjangan. Mereka sering mendengar suara tembakan
> dan menyaksikan korban peluru nyasar. Sehingga menjadi tentara atau polisi
> yang bisa memiliki senjata akan memberikan rasa aman bagi mereka.
>
> Fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan orang Karo dalam hal
> pendidikan? Apakah orang tua muda saat ini yang punya anak Balita, TK atau SD
> sudah sangat jarang menanyakan cita-cita anaknya? Sehingga anak kecil itu
> tidak pernah terpikir untuk menjadi apa di masa yang akan datang? Mungkinkah
> ini yang membuat anak-anak semakin malas untuk belajar. Mereka tidak tahu apa
> gunanya belajar. Anak yang masuk TK hanya tahu supaya bisa masuk SD mereka
> harus sudah bisa membaca dan menulis. Banyak anak-anak tidak menemukan model
> yang bisa ditiru dalam hal membaca di rumah. Selain itu tujuan dan manfaat
> bisa membaca dan menulis itu tidak pernah meresap ke dalam diri anak. Malas
> membaca bukan hal yang asing lagi bukan? Bahkan itu sudah menjadi budaya
> masyarakat kita yang perlu didobrak. Tanpa punya tujuan dan harapan akan masa
> depan yang dia cita-citakan, siapakah yang mampu hidup disiplin dan berjuang
> dalam hidup ini.
>
> Kalau kita mengamati, saat ini banyak sekali anak-anak dan pemuda Karo
> yang putus sekolah. Alasan tidak lanjut study kebanyakan bukan karena tidak
> ada uang sekolah. Kemalasan, tidak punya semangat dan juga tidak termotivasi
> sedikitpun untuk belajar adalah faktor yang paling utama. Mau kemanakah orang
> muda Karo di era informasi ini?
> Sebagai pengajar, aku sering merenungkan tentang kondisi ini.
>
> Dengan globalisasi, izajah SMU tidak akan berarti. Kita hanya akan tetap
> menjadi pekerja-pekerja yang mengandalkan tenaga fisik dan juga melakukan
> bisnis yang tradisional. Era informasi dan globalisasi pasti akan menciptakan
> peluang-peluang besar bagi mereka yang siap dan mampu untuk memanfaatkannya.
> Perdagangan juga semakin tanpa batas. Oleh karena itu, kemajuan dan
> keunggulan masa depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia
> yang mampu bersaing. Ketidakmampuan berarti kemunduran bahkan mungkin
> kehancuran.
>
> Tapi kenyataannya, SDM kita sedikitpun tidak berbenah bahkan bisa dikatakan
> tidak peduli dengan kemajuan dan perubahan yang sedang terjadi. Anak-anak
> pulang sekolah lebih banyak bermain Play Station, pemuda bersarang di bilyard
> yang bertaburan di lingkungannya. Anak yang menghabiskan banyak waktunya
> bermain play station mungkin hanya tahu bahwa dunia ini adalah play station.
> Pemuda yang menghabiskan banyak waktu di bilyard tanpa pernah belajar
> pelajarannya dengan serius akan melihat bahwa dunia ini hanya sebatas meja
> bilyard. Dunia tidak hanya play station atau bilyard tetapi sudah waktunya
> orang muda dan anak-anak dibuka matanya bahwa dunia ini sangat luas dan
> banyak sekali pilihan di dalamnya. Orang tua sudah saatnya mulai lebih
> tanggap dengan masalah ini. Terutama yang di Tanah Karo dan juga di desa-desa
> karena ketinggalan itu semakin nyata. Bahkan semangat meninggalkan kampung
> untuk sekolah tinggi sepertinya sudah asing bagi sebagian pemuda desa.
>
> Kita harus mengakui kalau pengangguran sangat tinggi di negara ini. Tetapi
> itu bukan berarti kita menjadi pesimis dan malas belajar. Mungkin sekali
> orang yang menganggur itu adalah yang memang waktu kuliah juga tidak serius
> menjalani prosesnya. Mahasiswa Indonesia dekat sekali dengan budaya nyontek,
> kebut semalam, bahkan membayar dosen biar lulus, bukan? Wajarkan kalau SDM
> kita kurang sekali kualitasnya. Budaya kerja keras hampir tidak nyata di
> kehidupan orang muda. Hidup instan membuat kita begitu malas dan juga tidak
> mampu sedikitpun berjuang untuk melakukan yang terbaik sekalipun itu untuk
> diri sendiri.
>
> Sekolah itu perlu untuk membangun dasar jika punya cita-cita dan tujuan.
> Cita-cita dan tujuan ini harus sudah dimulai sejak kecil. Perhatian keluarga
> dengan sering bertanya mau menjadi apa kalau sudah besar akan menolong anak
> memiliki mimpi masa depan. Anak yang memiliki mimpi masa depan tidak akan
> berhenti sekolah ketika masih SD. Semakin banyak anak SD, SMP dan SMA yang
> putus sekolah karena malas, aku pikir ini seperti kutukan yang akan kita
> lihat dampaknya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
>
> Beberapa teman-teman PERMATA di Medan berkumpul membuat kelompok dengan
> nama Kandu-Kandu untuk menolong mencarikan beasiswa bagi anak-anak SD
> jemaat GBKP yang putus sekolah. Kelompok ini sudah dibentuk lebih setahun
> yang lalu. Ketika saya menanyakan apakah sudah ada anak yang mereka tolong,
> jawaban mereka sangat membuat hati miris. Karena mereka sulit menemukan anak
> yang sangat membutuhkan bantuan. Kenyataan lebih banyak anak putus sekolah
> bukan karena tidak ada biaya, tetapi karena sejak kecil si anak sudah tidak
> mau sekolah. Mengetahui kondisi ini yang terpikir olehku bukan kelompok
> PERMATA yang punya hati mencari bantuan beasiswa, tetapi yang mau
> memperhatikan dan memotivasi anak-anak supaya menjadi anak yang memiliki
> cita-cita dan berprestasi.
>
> Penyiapan SDM menghadapi era informasi dan globalisasi sangat penting dan
> sangat menentukan. Kemajuan ini menuntut manusia-manusia dengan ketahanan
> iman, moral dan pribadi yang tangguh, keahlian dan kemampuan yang tinggi,
> daya kreasi dan daya cipta yang hebat, wawasan yang luas, produktivitas,
> efisiensi dan disiplin yang tinggi, agar mampu menjadi pengendali, pelaku
> yang kompetitif dalam era informasi dan globalisasi. Oleh karena itu, kita
> tidak ada pilihan lain daripada bekerja keras, berjuang dan berbuat yang
> terbaik untuk meningkatkan kualitas diri sejak kecil. Kalau tidak, kita akan
> ketinggalan.
> (Nomi Br Sinulingga)
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com