Terus terang saja nge kade-kade..., waktu kecil aku sering makan "kidu",
Bahkan jika kembali ke Indo aku selipkan di makanan anakku, wel
minyaknya/lemaknya.
Anakku melihatnya ngeri-ngeri senang, jika masih hidup.

Nande Ginting



2008/3/3, Edy Gunawan Ginting <[EMAIL PROTECTED]>:
>
>    Kidu, Si Ulat Enau
>   
> <http://www.kompas.co.id/data/photo/2008/02/28/073207p.jpg><http://www.kompas.co.id/data/photo/2008/02/28/075850p.jpg><http://www.kompas.co.id/data/photo/2008/02/28/073507p.jpg>
>  BONDAN
> WINARNO<http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.28.07360762&channel=1&mn=59&idx=75#>
> Kidu Hidup
> *Artikel Terkait:*
> Kamis, 28 Februari 2008 | 07:36 WIB
> Akhirnya, sesuatu yang saya idam-idamkan sejak lama telah menjadi
> kenyataan. Sebelumnya, saya bahkan telah mulai bosan mengatakannya. Begitu
> banyak orang bertanya kepada saya, makanan apa lagi yang masih ingin saya
> cicipi? Selama beberapa tahun terakhir, jawaban saya konsisten: ingin
> mencicipi ulat atau larva sagu – yaitu belatung yang muncul dari batang sagu
> yang membusuk.
>
> Keinginan ini pertama kali muncul ketika melihat film dokumenter karya
> Alain Compost tentang suku Asmat di Papua Barat. Dalam rangkaian upacara
> mendirikan *mbits* (*totem*) ukiran kayu yang tinggi dan menggambarkan
> berbagai profil itu, orang-orang Asmat selalu mengiringinya dengan pesta
> makan. Selain babi bakar batu (babi utuh yang dimasak dalam tumpukan batu
> yang dibakar), harus juga disajikan ulat sagu ini. Warnanya putih bersih,
> gembil, *ginuk-ginuk*. Menurut Alain, rasanya enak sekali.
>
> Beberapa tahun kemudian saya juga mengetahui bahwa makanan serupa ternyata
> juga dikenal di Sulawesi Utara – sekalipun sudah mulai langka. William
> Wongso bahkan pernah mencicipinya. "Rasanya seperti santan mentah," kata
> William. *Oi*, saya jadi makin penasaran.
>
> Belum lama ini, Irfan Manullang, seorang jurukamera TransTV mengatakan
> kepada saya bahwa orang Karo di sekitar Kabanjahe juga mengenal makanan
> sejenis itu. Bedanya, ulatnya bukan dari pohon sagu, melainkan dari pohon
> enau.
>
> Maka, semakin bulatlah tekad untuk memburu si ulat enau ini. Dua minggu
> yang lalu, ketika melintas di Kabanjahe, saya singgah ke sebuah *lapo*,
> dan memesan makanan itu. Ternyata, saya salah menyebut nama makanan itu.
> Karena saya menyebutnya sebagai kidu-kidu, maka yang hadir adalah semangkuk
> sup yang berisi semacam susis dari daging dan jeroan babi.
>
> "Mana ulatnya?" tanya saya.
>
> Wah, pertanyaan itu ternyata membangkitkan kemarahan pemilik *lapo*. "*
> Zadi*, kau pun percaya orang Batak suka makan ulat? Ya, begitu? *Dang
> hadong* itu, *bah*! Inilah yang namanya kidu-kidu. Kau makan *saza*–lah
> itu," gertaknya.
>
> Untungnya, saya tidak kenal kata menyerah. Di *lapo* "Mariras", Mamak Lia
> menjelaskan kepada saya bahwa yang saya maksud itu bernama kidu, bukan
> kidu-kidu. Menurutnya, sulit sekarang mencari kidu karena sudah sangat
> jarang orang yang menyajikan masakan yang dulunya merupakan kesukaan para
> raja. "Begitulah agaknya dulu raja-raja Batak itu semua orang pintar. Tidak
> seperti sekarang, banyak orang bodoh karena tidak mau makan kidu," katanya.
> Mamak Lia memang tipikal perempuan Karo yang asertif dan bicaranya
> ceplas-ceplos. Salah seorang anak perempuannya kuliah di fakultas
> kedokteran.
>
> Maka, kami pun langsung membuat perjanjian. Dua minggu lagi Mamak Lia akan
> masak kidu, dan saya akan datang bersama *crew* Wisata Kuliner TransTV,
> sekaligus untuk meliput sajian langka itu.
>
> Tetapi, ternyata ceritanya tidak semudah itu. Seminggu kemudian Mamak Lia
> menelepon memberitahu bahwa ia tidak berhasil menemukan kidu. "Tak ada lagi
> yang menjualnya di pasar," katanya. Akhirnya, kami bagi tugas. Kalau saya
> berhasil mendapatkan ulat enau, maka Mamak Lia tinggal memasaknya.
>
> Untunglah ada jaringan khusus di Medan. Ditemukanlah seorang pemuda
> bernama Victor di Desa Namorambi yang bersedia "mengadakan" kidu dan
> menyerahkannya kepada Mamak Lia.
>
> Demikianlah, pada hari yang ditentukan, kami datang ke "Lapo Mariras" di
> Kabanjahe. Mamak Lia menunjukkan kidu yang masih hidup dan belum dimasak.
> "Penampakannya" memang persis seperti yang saya lihat di film dokumenter
> Alain Compost. Tetapi, ukurannya lebih besar. Seekor kidu panjangnya sekitar
> empat sentimeter, dengan diameter sekitar satu sentimeter pada titik paling
> gemuk di bagian perut. Gendut, putih, dan *sexy*!
>
> Setelah dibersihkan kidu ini digoreng agar bagian luarnya renyah, tetapi
> tidak sampai pecah agar cairan di dalamnya masih utuh. Kidu goreng ini
> kemudian dimasak sebentar dalam kuah arsik – kunyit, kemiri, bawang merah,
> bawang putih, andaliman, kincung (kecombrang) – yang sebelumnya sudah
> mendidih tanak.
>
> Rasanya? Hmm, sungguh *mak nyuss*! Bagian luarnya renyah, bagian dalamnya
> "pecah" ketika digigit dengan rasa yang mirip sumsum – mulus dan "klenyer"
> di mulut. Mungkin karena ulatnya sudah digoreng, maka saya tidak merasakan
> sensasi "santan mentah" seperti yang dikatakan William. Bagian mata ulat
> bahkan menimbulkan sensasi yang istimewa ketika dimakan. Ada sensasi "kres"
> yang kemudian mengucurkan cairan kental yang gurih dan lembut. Mungkin dapat
> disamakan dengan sumsum sapi. *Tabo nai*, *bah*!
>
> Tetapi, Mamak Lia tidak hanya menyuguhkan arsik kidu yang lezat dan tidak
> terlupakan. "*Kam* pesan atau tidak, *kam* cobalah ini. Ini khas Karo *
> zuga*. Namanya ayam tasak telu," katanya sambil membawa tiga pinggan
> makanan. Orang Karo memang tidak menyebut "kau" seperti layaknya orang Batak
> lain, melainkan memakai istilah "kam", singkatan dari "kamu".
>
> "Tasak telu" secara harafiah berarti "masak tiga" atau "tiga masakan".
> Masakan pertama adalah ayam rebus. Setelah direbus dengan bumbu, air
> rebusannya disisihkan dan disajikan sebagai kuah atau sup. Ayam rebusnya –
> termasuk jeroannya – dipotong-potong untuk disajikan. Bila dikehendaki, ayam
> rebus ini dapat dimasak lagi sebentar dengan darah ayam. Dalam bahasa
> setempat, darah disebut "*gota*" yang sebenarnya berarti getah.
>
> Bagian tulang-tulangnya dimasak lagi dengan sebagian kuah dan dicampur
> dengan cipera – bulir jagung tua yang ditumbuk halus. Dengan tambahan
> bumbu-bumbu, campuran ini menjadi kuah kental yang gurih. Kuah kental ini –
> sebagai elemen kedua dari sajian ayam tasak telu – nanti diguyurkan pada
> ayam rebus ketika menyantapnya.
>
> Elemen ketiganya adalah cincang sayur. Berbagai sayur rebus – kacang
> panjang, batang pisang, jantung pisang, daun pepaya, daun singkong, tauge –
> diurap dengan parutan kelapa berbumbu.
>
> Harus saya akui, ayam tasak telu adalah juga sajian istimewa khas Karo
> yang sungguh gurih rasanya. *Top markotop*-lah!
> Saya ingin menambahkan satu lagi cerita tentang sajian sekitar Danau Toba
> yang makin langka, yaitu ikan *pora-pora*. Selain ikan mas dan mujair, ini
> adalah jenis ikan kecil yang dapat dijumpai di Danau Toba. Beberapa tahun
> sebelumnya, jenis ikan ini sempat menghilang. Tetapi, sejak beberapa bulan
> ini ikan pora-pora muncul lagi dalam jumlah yang cukup besar. Ikan ini
> dengan mudah pula dapat dipanen dengan menggunakan jala.
>
> Pada malam hari, penumpang perahu yang menyeberang dari Ajibata di dekat
> Parapat ke Tomok di Pulau Samosir sering melihat ikan-ikan kecil ini
> berloncatan mengikuti perahu, seolah ingin berlomba. Sisiknya berkilat-kilat
> seperti cahaya lampu.
>
> Dengan bumbu minimalis saja ikan pora-pora ini bila digoreng akan menjadi
> sajian yang sungguh nikmat. Ukuran paling baik untuk dipanen adalah yang
> panjangnya sekitar 8-10 sentimeter. Rasanya sangat gurih.
>
> Saya menemukan sajian ikan pora-pora goreng ini di Hotel Sopo Toba di
> Ambarita, Pulau Samosir. Letak hotel yang tepat di bibir Danau Toba
> memungkinkannya untuk langsung membeli ikan pora-pora segar dari nelayan.
>
> Hotel Sopo Toba juga punya sajian *killer* yang cukup unik, yaitu soto
> ayam panggang. Ayam bumbu kuning dibakar sampai matang, kemudian
> disuwir-suwir dan dimasukkan ke dalam kuah soto dengan santal pekat berwarna
> kuning. Disajikan dengan soun di dalamnya. *Smokiness* dari ayam panggang
> membuat soto itu menguarkan aroma yang sungguh harum. Kuah sotonya yang
> kental semula membuat saya agak ragu-ragu menyantapnya. Tetapi, dengan ayam
> panggang yang empuk berempah, santan kental itu jadi padan sekali. *
> Matching*!
>
> *Horas ma jala gabe*!
>
> *Bondan Winarno*
> Terima kasih atas info. Saya juga sudah menemukannya di Kabanjahe.
>
> Memang sempat salah. Semula saya bilang kidu-kidu. Ternyata yang saya
> dapat
> adalah sop usus babi yang diisi mirip sosis.
>
> Salam,
> BW
>
>
> On 2/14/08, Edy Gunawan Gintings <[EMAIL 
> PROTECTED]<http://groups.yahoo.com/group/jalansutra/post?postID=KAtnPLb_liFwlJVG6yd9z_VLtDaQ5IJBTien5g5jTBPga8meskOK7XU4xz-l1wuWdIhEJ_F0tddIICUM5Zho>>
> wrote:
> >
> > Pak Bondan, saya pernah baca di Kompas bahwa bapak ingin mencicipi
> > makanan khas Papua, yaitu ulat sagu yang telah diolah sedemikian
> > rupa(CMIIW). Sebenarnya di Karo pun ada, ulat yang hidup di batang sagu
> > tersebut disebut "kidu," biasa dimakan karena diyakini dapat
> menyembuhkan
> > beberapa penyakit.Kamis pagi, saya tonton di Trans TV dalam Reportase
> > Pagi, di Tapanuli Tengah, persisnya di Desa Tuka, tidak jauh dari
> Sibolga,
> > ada juga kebiasan memakan ulat yang biasa hidup di batang/pokok sagu
> busuk.
> > Bisa dimakan langsung hidup-hidup, dan juga ada yang dimasak. Konon
> katanya
> > bisa mengobati anak-anak yang menderita batuk. Demikian sekilas info.
> >
> > eg
> >
>
> ------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>
>
> 
>

Kirim email ke