Adi -pak Bondan nindu..lanai Kidu tah Kanci Mbuah ngenca panna..Cibet ras Cihh
pe enggom ndekah panna...kadih nari ngenca lenga panna...Ridap ras Kurung
Bujur ka yahh.,,
Anas Agusta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Lit ka kap gelarna Kaci Mbuah nina. Galangna banci empat kali
asangken kidu. Nggeluhna i taneh. Mungkin lit kam si pernah encubakensa banci
kang beritaken man Pak Bondan ena. Kai pe kuakap pet nge Pak Bondan ena......
Entah "gaya gok" ah pe pet nge ia...
Bujur
ira Netty <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
udah ditayangin yak di trans tv????
wah..SAyang sekali saya melewatkan tayangan mak nyusss edisi ini...
mariras nya ini yg dekat UKA itu atau yg deket tugu catur ??
--
Ira Netty
[EMAIL PROTECTED]
----- Original Message ----
From: S. Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 3, 2008 5:16:20 PM
Subject: Re: [tanahkaro] Kidu
Terus terang saja nge kade-kade... , waktu kecil aku sering makan "kidu",
Bahkan jika kembali ke Indo aku selipkan di makanan anakku, wel
minyaknya/lemaknya.
Anakku melihatnya ngeri-ngeri senang, jika masih hidup.
Nande Ginting
2008/3/3, Edy Gunawan Ginting <[EMAIL PROTECTED] co.id>:
Kidu, Si Ulat Enau
BONDAN WINARNO
Kidu Hidup
Artikel Terkait:
Kamis, 28 Februari 2008 | 07:36 WIB
Akhirnya, sesuatu yang saya idam-idamkan sejak lama telah menjadi kenyataan.
Sebelumnya, saya bahkan telah mulai bosan mengatakannya. Begitu banyak orang
bertanya kepada saya, makanan apa lagi yang masih ingin saya cicipi? Selama
beberapa tahun terakhir, jawaban saya konsisten: ingin mencicipi ulat atau
larva sagu yaitu belatung yang muncul dari batang sagu yang membusuk.
Keinginan ini pertama kali muncul ketika melihat film dokumenter karya Alain
Compost tentang suku Asmat di Papua Barat. Dalam rangkaian upacara mendirikan
mbits (totem) ukiran kayu yang tinggi dan menggambarkan berbagai profil itu,
orang-orang Asmat selalu mengiringinya dengan pesta makan. Selain babi bakar
batu (babi utuh yang dimasak dalam tumpukan batu yang dibakar), harus juga
disajikan ulat sagu ini. Warnanya putih bersih, gembil, ginuk-ginuk. Menurut
Alain, rasanya enak sekali.
Beberapa tahun kemudian saya juga mengetahui bahwa makanan serupa ternyata juga
dikenal di Sulawesi Utara sekalipun sudah mulai langka. William Wongso bahkan
pernah mencicipinya. "Rasanya seperti santan mentah," kata William. Oi, saya
jadi makin penasaran.
Belum lama ini, Irfan Manullang, seorang jurukamera TransTV mengatakan kepada
saya bahwa orang Karo di sekitar Kabanjahe juga mengenal makanan sejenis itu.
Bedanya, ulatnya bukan dari pohon sagu, melainkan dari pohon enau.
Maka, semakin bulatlah tekad untuk memburu si ulat enau ini. Dua minggu yang
lalu, ketika melintas di Kabanjahe, saya singgah ke sebuah lapo, dan memesan
makanan itu. Ternyata, saya salah menyebut nama makanan itu. Karena saya
menyebutnya sebagai kidu-kidu, maka yang hadir adalah semangkuk sup yang berisi
semacam susis dari daging dan jeroan babi.
"Mana ulatnya?" tanya saya.
Wah, pertanyaan itu ternyata membangkitkan kemarahan pemilik lapo. "Zadi, kau
pun percaya orang Batak suka makan ulat? Ya, begitu? Dang hadong itu, bah!
Inilah yang namanya kidu-kidu. Kau makan sazalah itu," gertaknya.
Untungnya, saya tidak kenal kata menyerah. Di lapo "Mariras", Mamak Lia
menjelaskan kepada saya bahwa yang saya maksud itu bernama kidu, bukan
kidu-kidu. Menurutnya, sulit sekarang mencari kidu karena sudah sangat jarang
orang yang menyajikan masakan yang dulunya merupakan kesukaan para raja.
"Begitulah agaknya dulu raja-raja Batak itu semua orang pintar. Tidak seperti
sekarang, banyak orang bodoh karena tidak mau makan kidu," katanya. Mamak Lia
memang tipikal perempuan Karo yang asertif dan bicaranya ceplas-ceplos. Salah
seorang anak perempuannya kuliah di fakultas kedokteran.
Maka, kami pun langsung membuat perjanjian. Dua minggu lagi Mamak Lia akan
masak kidu, dan saya akan datang bersama crew Wisata Kuliner TransTV, sekaligus
untuk meliput sajian langka itu.
Tetapi, ternyata ceritanya tidak semudah itu. Seminggu kemudian Mamak Lia
menelepon memberitahu bahwa ia tidak berhasil menemukan kidu. "Tak ada lagi
yang menjualnya di pasar," katanya. Akhirnya, kami bagi tugas. Kalau saya
berhasil mendapatkan ulat enau, maka Mamak Lia tinggal memasaknya.
Untunglah ada jaringan khusus di Medan. Ditemukanlah seorang pemuda bernama
Victor di Desa Namorambi yang bersedia "mengadakan" kidu dan menyerahkannya
kepada Mamak Lia.
Demikianlah, pada hari yang ditentukan, kami datang ke "Lapo Mariras" di
Kabanjahe. Mamak Lia menunjukkan kidu yang masih hidup dan belum dimasak.
"Penampakannya" memang persis seperti yang saya lihat di film dokumenter Alain
Compost. Tetapi, ukurannya lebih besar. Seekor kidu panjangnya sekitar empat
sentimeter, dengan diameter sekitar satu sentimeter pada titik paling gemuk di
bagian perut. Gendut, putih, dan sexy!
Setelah dibersihkan kidu ini digoreng agar bagian luarnya renyah, tetapi tidak
sampai pecah agar cairan di dalamnya masih utuh. Kidu goreng ini kemudian
dimasak sebentar dalam kuah arsik kunyit, kemiri, bawang merah, bawang putih,
andaliman, kincung (kecombrang) yang sebelumnya sudah mendidih tanak.
Rasanya? Hmm, sungguh mak nyuss! Bagian luarnya renyah, bagian dalamnya "pecah"
ketika digigit dengan rasa yang mirip sumsum mulus dan "klenyer" di mulut.
Mungkin karena ulatnya sudah digoreng, maka saya tidak merasakan sensasi
"santan mentah" seperti yang dikatakan William. Bagian mata ulat bahkan
menimbulkan sensasi yang istimewa ketika dimakan. Ada sensasi "kres" yang
kemudian mengucurkan cairan kental yang gurih dan lembut. Mungkin dapat
disamakan dengan sumsum sapi. Tabo nai, bah!
Tetapi, Mamak Lia tidak hanya menyuguhkan arsik kidu yang lezat dan tidak
terlupakan. "Kam pesan atau tidak, kam cobalah ini. Ini khas Karo zuga. Namanya
ayam tasak telu," katanya sambil membawa tiga pinggan makanan. Orang Karo
memang tidak menyebut "kau" seperti layaknya orang Batak lain, melainkan
memakai istilah "kam", singkatan dari "kamu".
"Tasak telu" secara harafiah berarti "masak tiga" atau "tiga masakan". Masakan
pertama adalah ayam rebus. Setelah direbus dengan bumbu, air rebusannya
disisihkan dan disajikan sebagai kuah atau sup. Ayam rebusnya termasuk
jeroannya dipotong-potong untuk disajikan. Bila dikehendaki, ayam rebus ini
dapat dimasak lagi sebentar dengan darah ayam. Dalam bahasa setempat, darah
disebut "gota" yang sebenarnya berarti getah.
Bagian tulang-tulangnya dimasak lagi dengan sebagian kuah dan dicampur dengan
cipera bulir jagung tua yang ditumbuk halus. Dengan tambahan bumbu-bumbu,
campuran ini menjadi kuah kental yang gurih. Kuah kental ini sebagai elemen
kedua dari sajian ayam tasak telu nanti diguyurkan pada ayam rebus ketika
menyantapnya.
Elemen ketiganya adalah cincang sayur. Berbagai sayur rebus kacang panjang,
batang pisang, jantung pisang, daun pepaya, daun singkong, tauge diurap
dengan parutan kelapa berbumbu.
Harus saya akui, ayam tasak telu adalah juga sajian istimewa khas Karo yang
sungguh gurih rasanya. Top markotop-lah!
Saya ingin menambahkan satu lagi cerita tentang sajian sekitar Danau Toba
yang makin langka, yaitu ikan pora-pora. Selain ikan mas dan mujair, ini adalah
jenis ikan kecil yang dapat dijumpai di Danau Toba. Beberapa tahun sebelumnya,
jenis ikan ini sempat menghilang. Tetapi, sejak beberapa bulan ini ikan
pora-pora muncul lagi dalam jumlah yang cukup besar. Ikan ini dengan mudah pula
dapat dipanen dengan menggunakan jala.
Pada malam hari, penumpang perahu yang menyeberang dari Ajibata di dekat
Parapat ke Tomok di Pulau Samosir sering melihat ikan-ikan kecil ini
berloncatan mengikuti perahu, seolah ingin berlomba. Sisiknya berkilat-kilat
seperti cahaya lampu.
Dengan bumbu minimalis saja ikan pora-pora ini bila digoreng akan menjadi
sajian yang sungguh nikmat. Ukuran paling baik untuk dipanen adalah yang
panjangnya sekitar 8-10 sentimeter. Rasanya sangat gurih.
Saya menemukan sajian ikan pora-pora goreng ini di Hotel Sopo Toba di Ambarita,
Pulau Samosir. Letak hotel yang tepat di bibir Danau Toba memungkinkannya untuk
langsung membeli ikan pora-pora segar dari nelayan.
Hotel Sopo Toba juga punya sajian killer yang cukup unik, yaitu soto ayam
panggang. Ayam bumbu kuning dibakar sampai matang, kemudian disuwir-suwir dan
dimasukkan ke dalam kuah soto dengan santal pekat berwarna kuning. Disajikan
dengan soun di dalamnya. Smokiness dari ayam panggang membuat soto itu
menguarkan aroma yang sungguh harum. Kuah sotonya yang kental semula membuat
saya agak ragu-ragu menyantapnya. Tetapi, dengan ayam panggang yang empuk
berempah, santan kental itu jadi padan sekali. Matching!
Horas ma jala gabe!
Bondan Winarno
Terima kasih atas info. Saya juga sudah menemukannya di Kabanjahe.
Memang sempat salah. Semula saya bilang kidu-kidu. Ternyata yang saya dapat
adalah sop usus babi yang diisi mirip sosis.
Salam,
BW
On 2/14/08, Edy Gunawan Gintings <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> Pak Bondan, saya pernah baca di Kompas bahwa bapak ingin mencicipi
> makanan khas Papua, yaitu ulat sagu yang telah diolah sedemikian
> rupa(CMIIW). Sebenarnya di Karo pun ada, ulat yang hidup di batang sagu
> tersebut disebut "kidu," biasa dimakan karena diyakini dapat menyembuhkan
> beberapa penyakit.Kamis pagi, saya tonton di Trans TV dalam Reportase
> Pagi, di Tapanuli Tengah, persisnya di Desa Tuka, tidak jauh dari Sibolga,
> ada juga kebiasan memakan ulat yang biasa hidup di batang/pokok sagu busuk.
> Bisa dimakan langsung hidup-hidup, dan juga ada yang dimasak. Konon katanya
> bisa mengobati anak-anak yang menderita batuk. Demikian sekilas info.
>
> eg
>
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!