Penolakan Bupati Karo DD Sinulingga Bertemu Anggota DPD RI Mencoreng
Eksistensi "Orang Karo" di Mata Nasional


Berastagi (SIB)
Penolakan Bupati Karo Drs Daulat Daniel Sinulingga bertemu dengan
anggota panitia Ad Hoc I DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI dalam kaitan
tugas dari Amanat Presiden (Ampres) RI ke Tanah Karo (SIB 28/2)
menindaklanjuti tuntutan masyarakat membentuk kota wisata Berastagi
menjadi Pemko, menjadi keprihatinan bagi PGRI Sumut dan masyarakat
luas lainnya. Dari sudut pandang pendidikan dan budaya suku Karo pun,
sikap Bupati Karo sedikit pun tidak mencerminkan pemimpin atau "bapa
rakyat sirulo" (bapak orang banyak-red) di Karo. Melainkan sikap yang
menunjukkan sebagai pejabat dan penguasa. Bahkan lebih dari itu,
menggambarkan seorang raja yang bengis dan kejam.

Hal ini ditegaskan Ketua PGRI Sumut Drs FJ Pinem MSc kepada wartawan,
Sabtu (1/3) di sela-sela Konferensi Kerja (Konker) PGRI Sumut di Hotel
Rudang, Berastagi, Karo.

FJ Pinem MSc yang juga mantan Kadis Pendidikan Nasional Karo 2004
lebih jauh mengatakan penolakan Bupati Karo Daulat Daniel Sinulingga
bertemu dengan anggota DPD RI yang ditugasi Presiden RI ke Tanah Karo
benar-benar "luar biasa" dan tidak terduga.

Sikap bupati Karo melalui suratnya Nomor 135/031 A/Tapem/2008
ditujukan kepada Panitia Ad Hoc I DPD-RI tanggal 19 Pebruari 2008 yang
ditandatangani Bupati Karo Drs Daulat Daniel Sinulingga, secara
terang-terangan tidak mendidik warganya untuk menghormati dan menerima
warga lain. Terlebih seorang pejabat pemerintah yang ditugasi Presiden
RI. Malah bupati Karo memposisikan diri sebagai pejabat, bukan
pemimpin. Sikap tak terpuji demikian, dinilai telah mencoreng "orang
Karo" di mata nasional.

"Sebagai warga Karo dimana pun kita berada dan siapa pun orang Karo
itu, sikap seorang bupati Karo ini sangat memalukan dan
memprihatinkan. Padahal, sesuai adat istiadat Karo, diantaranya, "…..
perkade-kaden 12 + 1" (walaupun seseorang itu bukan suku Karo namun
dapat dijadikan menjadi saudara dan menjadi bagian orang Karo-red)
sudah bertentangan dengan penolakan tersebut," katanya.

Apa pun hasil dan kesimpulan pembicaraan, dalam dialog dengan anggota
DPD ke Karo, kata Pinem, tidak masalah. Yang pasti banyak positifnya.
Kehadiran tamu negara, merupakan suatu kehormatan bagi bupati dan
masyarakat Karo yang ditugasi seorang Presiden RI berkunjung ke Karo.
Penolakan ini seolah suku Karo itu bukan yang berbudaya, tidak rendah
hati, tidak bergaul, tidak solider, tidak lemah-lembut dan tidak punya
etikat baik serta tidak lagi mencerminkan budaya Karo,
"………perkade-kaden 12 + 1".

"Bukan tok hanya membahas rencana Pemko Berastagi. Melainkan
meningkatkan silaturahmi dengan pejabat pusat yang ke depan dapat
meningkatkan anggaran pembangunan pertanian, pariwisata ke daerah
ini," ujar Pinem prihatin, didampingi Sekum PGRI Sumut, Abdul Latif
Ibrahim. (M37/x)

Kirim email ke