MJJ,
Meriah tuhu soal penolakan Bupati Karo man Panitia Ad Hoc I DPD-RI. Berita i 
koran  terbitan Medan pe 4 wari "Headline", Kompas pe lit tapi beritana tapi la 
meriahsa. Adi bas milista enda.... gegap gempita, komentar dari segala lapisan 
masyarakat para pakar politik, para cendikiawan ras sidebanna.....kerina dengan 
argumentasi logis menarik dan masuk akal...... tapi kenyataanna kuidah i 
Beratagi enda.... labo enterem kalak si ncakapken soal sie... entah kebetulen 
harga pupuk naik, atau pe Urea bene lanai idah kuja ia cebuni e labo kueteh. 
Tapi adi bagi kami si perjuma-juma tading i Berastagi (jaranguda)... tulak 
Bupati atau pe lang anggota PDP .. e atena kjal je. Berastagi bagi si gel-gel 
nge, jam 5 erpagi-pagi ratusan bahkan ribuan , mungkin (beliganna la jelas...) 
tapi picet nge jln Veteran.... iban aron (si ni hampir 90 % la kalak karo) 
nimai truk untuk berkat kujuma. Berngi pe picet kange jl.veteran dengan warung 
tenda (si erbinaga sikuetehna 2 ngenca kalak karo si deher
 toko sehat). Endame sebagian calon pemilih calon Walikota ras anggota DPR adi 
surung pagi  pemekaran e. Tuhu kange bagi informasiken i milista enda, penduduk 
berastagi lanai bo lit 50 % si asli berastagi... enggo buen pendatang. Entah 
enda kin salah sada pertimbangen si "erjabaten"  maka bagi si kurang jingkatna 
ia bas pendahin soal Pemekaran e. Adi nina teman-teman si perjuma-juma, 
Pemekaran memang perlu, tapi peningkatan perekonomian masyarakat "saat ini" 
lebih perlu. Lit ka temanku perjuma-juma kange tapi LN . " Hunger  can't wait"
Sentabi,
Per " Baroeng"Peceren

Pa Canggah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Mejuah-juah,
 Senembas rukur ka aku, penolakan Pak Bup sanga e tah jurus "pandikar 
 jalok" kin nateku. Tipakna tempa ku kukawes, keppe kemuhen sasarenna. 
 Nen min per ampuhna jurus "jalok" ah nda...Sibuk kami, la ka kami 
 sempat ngalo2 kena o per dpd nina. Panas per dpd, piah minter 
 setujuina pemekaren Brastagi nda.
 Perbahan metersa tempa kuakap ndarat persejuan dpd adah nda, 
 tersungkun ka ukurku, ma la lah ndia per dpd ah ndai menggunaken 
 jurus yang sama? 
 Setujuina tempa tapi maksudna gelah kita sapih kita sitipaken 
 silalap. 
 Jababna ersimulih man banta sekalak2. Adi kita ras kita sitipaken lo 
 dalih, tapi dalam rangka latihen lah.
 
 Kota Brastagi, Siancai...siancai...Oomitooohud.
 
 Mejuah-juah
 
 --- In [email protected], "Si Laga Man" <[EMAIL PROTECTED]> 
 wrote:
 >
 > Penolakan Bupati Karo DD Sinulingga Bertemu Anggota DPD RI Mencoreng
 > Eksistensi "Orang Karo" di Mata Nasional
 > 
 > 
 > Berastagi (SIB)
 > Penolakan Bupati Karo Drs Daulat Daniel Sinulingga bertemu dengan
 > anggota panitia Ad Hoc I DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI dalam 
 kaitan
 > tugas dari Amanat Presiden (Ampres) RI ke Tanah Karo (SIB 28/2)
 > menindaklanjuti tuntutan masyarakat membentuk kota wisata Berastagi
 > menjadi Pemko, menjadi keprihatinan bagi PGRI Sumut dan masyarakat
 > luas lainnya. Dari sudut pandang pendidikan dan budaya suku Karo 
 pun,
 > sikap Bupati Karo sedikit pun tidak mencerminkan pemimpin atau "bapa
 > rakyat sirulo" (bapak orang banyak-red) di Karo. Melainkan sikap 
 yang
 > menunjukkan sebagai pejabat dan penguasa. Bahkan lebih dari itu,
 > menggambarkan seorang raja yang bengis dan kejam.
 > 
 > Hal ini ditegaskan Ketua PGRI Sumut Drs FJ Pinem MSc kepada 
 wartawan,
 > Sabtu (1/3) di sela-sela Konferensi Kerja (Konker) PGRI Sumut di 
 Hotel
 > Rudang, Berastagi, Karo.
 > 
 > FJ Pinem MSc yang juga mantan Kadis Pendidikan Nasional Karo 2004
 > lebih jauh mengatakan penolakan Bupati Karo Daulat Daniel Sinulingga
 > bertemu dengan anggota DPD RI yang ditugasi Presiden RI ke Tanah 
 Karo
 > benar-benar "luar biasa" dan tidak terduga.
 > 
 > Sikap bupati Karo melalui suratnya Nomor 135/031 A/Tapem/2008
 > ditujukan kepada Panitia Ad Hoc I DPD-RI tanggal 19 Pebruari 2008 
 yang
 > ditandatangani Bupati Karo Drs Daulat Daniel Sinulingga, secara
 > terang-terangan tidak mendidik warganya untuk menghormati dan 
 menerima
 > warga lain. Terlebih seorang pejabat pemerintah yang ditugasi 
 Presiden
 > RI. Malah bupati Karo memposisikan diri sebagai pejabat, bukan
 > pemimpin. Sikap tak terpuji demikian, dinilai telah mencoreng "orang
 > Karo" di mata nasional.
 > 
 > "Sebagai warga Karo dimana pun kita berada dan siapa pun orang Karo
 > itu, sikap seorang bupati Karo ini sangat memalukan dan
 > memprihatinkan. Padahal, sesuai adat istiadat Karo, 
 diantaranya, "…..
 > perkade-kaden 12 + 1" (walaupun seseorang itu bukan suku Karo namun
 > dapat dijadikan menjadi saudara dan menjadi bagian orang Karo-red)
 > sudah bertentangan dengan penolakan tersebut," katanya.
 > 
 > Apa pun hasil dan kesimpulan pembicaraan, dalam dialog dengan 
 anggota
 > DPD ke Karo, kata Pinem, tidak masalah. Yang pasti banyak 
 positifnya.
 > Kehadiran tamu negara, merupakan suatu kehormatan bagi bupati dan
 > masyarakat Karo yang ditugasi seorang Presiden RI berkunjung ke 
 Karo.
 > Penolakan ini seolah suku Karo itu bukan yang berbudaya, tidak 
 rendah
 > hati, tidak bergaul, tidak solider, tidak lemah-lembut dan tidak 
 punya
 > etikat baik serta tidak lagi mencerminkan budaya Karo,
 > "………perkade-kaden 12 + 1".
 > 
 > "Bukan tok hanya membahas rencana Pemko Berastagi. Melainkan
 > meningkatkan silaturahmi dengan pejabat pusat yang ke depan dapat
 > meningkatkan anggaran pembangunan pertanian, pariwisata ke daerah
 > ini," ujar Pinem prihatin, didampingi Sekum PGRI Sumut, Abdul Latif
 > Ibrahim. (M37/x)
 >
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke