Ketua MA Nyatakan Kekesalannya Kepada Adnan Buyung
Pangkalpinang, (Analisa)
Ketua Mahkamah Agung (MA), Prof. Dr. H. Bagir Manan SH MCL, menyatakan
kekesalannya terhadap pernyataan-pernyataan pengacara ternama Adnan Buyung
Nasution yang menyatakan MA tidak tahu apa-apa tentang penyelesaian sengketa
Pilkada.
"Buyung katakan kita tidak tahu apa-apa. Dia selalu ngomong begitu. Omong
kosong lah Buyung itu. Saya guru besar tata negara, bagaimana dia bisa katakan
begitu," ujar Bagir, di Pangkalpinang Bangka, Kamis.
Bagir yang datang ke Bangka untuk meresmikan Kantor Pengadilan Tinggi Agama
Bangka Belitung, Kantor PTA Gorontalo dan Pengadilan Agama Sungai Penuh Jambi,
yang dipusatkan di Pangkalpinang Bangka, menegaskan hal itu dengan mimik kesal
dan marah.
KOMENTAR/OBROLAN LIBUR
Bahwa pengetahuan-daerah orang-orang pusat sangat dibawah minimal bukanlah
hal yang baru. Contoh sangat banyak, dalam sejarah maupun dalam kejadian
terakhir, terutama yang ada sangkut pautnya dengan etnis dan daerahnya.
Contoh yang sangat terlalu besar ialah MoU Gam yang begitu gegabah
mengabaikan etnis-etnis lain di NAD. Batas NAD dibikin batas bikinan kolonial
dan etnis-etnis lain tidak boleh bikin pemisahan dari NAD atau pemekaran.
Etnis-etnis ini sama sekali dianggap tidak ada dan boleh dibikin begitu karena
Pusat sama sekali tidak mengetahui existensi etnis-etnis lain di Aceh selain
etnis Aceh dan etnis Jawa migran.
Bobrok kebodohan lainnya ialah pilkada Sulteng dan Malut termasuk yang
dimaksudkan bang Buyung.
Kemudian yang sangat menyakitkan etnis Karo ialah soal kasus Bagir di Juma
Tombak, dimana Bagir bikin tandatangannya mencabut hak ulayat orang Karo atas
tanahnya sebagai penduduk asli. Bagir sama sekali tidak pernah mengerti apa itu
Karo, taunya cuma 'Batak'. Yang berhasil meraih tanda tangannya ketika itu ada
6 orang pendatang Tapanuli/Mandailing atau bagi Bagir itu semua kali orang
Batak termasuk orang Karo yang protes. Bagir atau Pusat umumnya tidak mengerti
mana pendatang mana penduduk asli yang punya hak ulayat. Seperti di Aceh taunya
cuma orang Aceh dan Jawa transmigran. Orang Aceh juga licik, mengarahkan semua
transmigran ke Gayo dan Alas, bukan kedaerah orang Aceh. Karena itu sekarang
timbul suara miring soal ALA seperti 'mini indonesia'. Orag asli sudah jadi
minoritas atau jadi tamu didaerahnya sendiri. Banggakah ALA jadi 'mini
indonesia'? Siapa yang bangga?
Sama halnya Sumut sudah jadi 'mini indonesia', untuk tidak mengatakan
dominasi Tapanuli dan hegemoni Tapsel/Mandailing yang turun temurun sejak
meredeka. Banggakah kita dikatakan 'mini indonesia'? Atau siapa yang bangga?
Orang Simalungun atau Pakpak yang sudah jadi tamu didaerahnya sendiri?
Dalam persoalan sama kasus Durin Tonggal dan kasus Limau Mungkur masih bisa
juga orang-orang pendatang cari tandatangan Bagir. Mudah-mudahan guru besar
tata negara Bagir sudah sedikit tambah pengetahuan daerahnya, jadi tidak hanya
teken seperti kasus Juma Tombak dan pilkada Sulsel
MUG
---------------------------------
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: http://se.meetic.yahoo.net